Sejarah Operasi Senyap Indonesia ke Afghanistan


Saat presiden Soeharto berkunjung ke Pakistan, moment itu juga di gunakan oleh LB. Moerdani untuk bertemu dengan kepala intelejen Pakistan untuk membahas permintaan pejuang Afganistan untuk bantuan
senjata pada Indonesia.

akhirnya dengan operasi pengiriman senjata itu dilaksanakan dengan sandi operasi ” babut mabur “…. atau permadani terbang.

” Sovyet memang pernah bantu kita dalam merebut papua, cuma hubungan memburuk dan banyak senjata tergeletak yang yak terpakai ya kita kaaih aja” ujar Masekal Purnawirawan Teddy Rusdi. Teddy juga lah yang melaksanakan semua operasi babut mabur di lapangan.

Sekitar 2000 pucuk senjata AK. 47 berhasil di kumpulkan dan di satukan semua di lanud Halim… senjata semua di masukan ke box dan di kamuflase dengan selimut dan obat obatan…. di tambah lagi dengan semua no seri harid di hapus agar tak terlacak….

Awalnya senjata akan di titip Amerika, cuma akhirnya Benny memutuskan Indoneaia akan mengirim sendiri senjata tersebut dengan kargo udara, dengan menggunakan Boing 707 Pelita Air, Teddy memimpin pengiriman senjata ke Rawalpindi – Pakistan, dengan transit di Diego Garcia, sebuah pangkalan US yang sangat rahasia.

Akhirnya pesawat sampai di tujuan dan intelejen pakistan menyambut dengan 20 truk untuk membawa senjata tersebut

Selama misi ini berlangsung, atase militer RI di Pakistan pun yang saat itu di jabat Kolonel Kavaleri Harjanto tak tahu, sedang pengawasan pengiriman udara tanggung jawabnya di serahkan pada Kuntara, seorang intel yang di tempatkan di Rawalpindi.

Setelah melewati jalan darat yg berliku, akhirnya bantuan sampai dan di terima langsung pimpinan pejuang Mujahidin di Nangashar.

Sekelumit operasi senyap yang di lakukan LB. Moerdani….

sumber
Group JEJAK KISAH SEJARAH

Cinta Orang Arif


Al-Ghazali
Lalu perhatikan, sesudah itu, bagaimana Anda tidak mengakui adanya cinta kepada Sang Maha Pencipta? Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda!
Allah Swt. berfirman,
“Allah mencintainya dan mereka pun mencintai-Nya.” (Q.s. Al-Maidah: 54).
Dan firman-Nya pula:
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (Q.s. At-Taubah: 24).

Rasulullah Saw. bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang selainnya.” (H.r. Bukhari-Muslim).
Beliau juga bersabda,
“Cintailah Allah, karena Dia mengaruniakan nikmat kepada kalian, dan cintailah aku, karena cinta kepada Allah Azza wa Jalla!” (Al-Hadis).

Abu Bakar As-Shiddiq r.a. berkata, “Barangsiapa merasakan kemurnian cinta kepada Allah, hal itu mencegahnya untuk mencari kehidupan duniawi dan menjadikan dirinya meninggalkan seluruh manusia.”

Hasan Al-Bashri berkata, “Orang yang kenal Allah, pasti Allah mencintainya. Orang yang kenal dunia, ia pasti hidup zuhud di dalamnya. Seorang Mukmin tidak terkecoh kecuali dia lalai, bila bertafakur ia sedih dan pilu.”

Sebagian besar ahli kalam (mutakallimun) tidak mengakui adanya cinta kepada Allah. Mereka menginterpretasikannya dengan berkata, “Cinta Allah itu tidak ada artinya, kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Sebab, tiada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia tidak menyerupai sesuatu, dan Dia itu tidak sepadan dengan naluri dan watak kita, bagaimana mungkin kita mencintai-Nya?Yang mungkin bagi kita adalah mencintai siapa yang sejenis dengan kita, yakni sesama manusia.”

Mereka terbelenggu oleh ketidaktahuan mereka atas esensi banyak hal. Persoalan ini telah kami singkap dalam Bab “AI-Mahabbah” pada kitab Al-Ihya’, silakan Anda merujuknya. Di sini kami batasi dengan ringkasan dan intisarinya saja.
Setiap yang lezat, enak, itu digandrungi, disenangi dan dicintai. Maksud dari kata “dicintai atau disenangi” adalah, jiwa cenderung kepadanya atau digandrungi oleh jiwa. Kecenderungan yang amat kuat disebut keasyikan cinta.

Maksud dan kata “dibenci” adalah, jiwa berpaling darinya, tidak menyenanginya, karena menjemukan dan menyakitkan. Rasa benci atau keberpalingan yang amat sangat, disebut dendam.
Segala sesuatu yang Anda rasakan dengan segenap indera dan perasaan bisa selaras dengan perasaan Anda, dan itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, yang bertentangan dengan indera, selera dan perasaan Anda, itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Atau tidak sesuai, ataupun tidak bertentangan dengan indera, atau selera Anda, itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak pula menyakitkan. Setiap yang menyenangkan pasti disukai, artinya, jiwa yang terasang olehnya pasti cenderung dan menggandrunginya. Dan itu tidaklah mustahil.
Senang atau enak itu mengikuti indera, sedangkan indera itu terdiri dari dua macam: Indera lahir dan batin.

Indera lahir adalah pancaindera. Sudah barangtentu kelezatan mata itu adalah ketika melihat keindahan-keindahan, kelezatan yang dirasakan oleh telinga ketika mendengarkan alunan melodi yang indah, sedangkan kelezatan rasa dan penciuman adalah ketika merasakan makanan dan bau yang cocok. Sementara, kelezatan yang dirasakan oleh organ-organ tubuh lainnya, ketika mengenakan sesuatu yang halus lagi menyenangkan. Semua itu disenangi jiwa, atau jiwa itu gandrung kepadanya.
Indera batin adalah kehalusan (lathifah) yang terdapat di dalam kalbu; kadang-kadang disebut akal-budi, kadang-kadang disebut cahaya, dan terkadang pula disebut indera keenam.
Anda tidak perlu menilik dari kata-kata tersebut, sebab Anda akan mendapatkan kesulitan, tapi perhatikanlah sabda Rasulullah Saw. berikut ini:

“Ada tiga perkara duniawi kalian yang disenangkan kepadaku (aku menyenanginya), yaitu: wewangian, wanita, dan hal yang paling menyenangkan bagiku, ketika salat.”

Anda tahu, bahwa pada wewangian dan wanita terdapat unsur untuk disentuh, dicium dan dipandang. Sedangkan apa yang terdapat dalam salat tidak dapat dirasakan atau diindera oleh pancaindera, tapi hanya dapat dirasakan atau diindera oleh indera keenam yang terdapat dalam kalbu. Apa yang dirasakan dalam salat tidak dapat diindera oleh orang yang tidak memiliki kalbu, sebab Allah Swt. itu tertutup antara seseorang dan kalbunya.

Orang yang merasakan kelezatan hanya terbatas dengan pancainderanya, dia itu adalah binatang, sebab binatang itu merasakan hanya dengan pancaindera semata, sementara keistimewaan manusia dan binatang adalah dibedakan dengan mata batin (al-bashiratul hatinah).

Kelezatan yang dirasakan oleh indera lahir terjadi pada bentuk keindahan lahiriah, sedangkan kelezatan yang dirasakan oleh indera batin (ruhani) terjadi pada bentuk keindahan ruhani (batin).

Keindahan Batin
Barangkali Anda bertanya, “Apa yang dimaksud dengan bentuk keindahan ruhani?”
Jawabnya adalah persepsi saya tentang diri Anda. Yakni, bahwa dalam diri Anda tidak merasakan rasa cinta kepada para Nabi, kepada para ulama dan para sahabat. Anda pun tidak dapat membedakan antara raja yang adil, cerdik, berani, perkasa, mulia dan menyayangi rakyatnya, dengan raja yang zalim, bodoh, kikir dan keras.

Menurut persepsi saya, jika diceritakan kepada Anda tentang kejujuran Abu Bakar, kelihaian politik Umar, kedermawanan Utsman dan tentang keberanian Ali — semoga Allah meridhai mereka — niscaya Anda sendiri tidak akan mendapatkan rasa simpati, senang dan cinta kepada para Nabi, orang yang jujur, dan orang alim yang penuh dengan sifat-sifat mulia. Bagaimana mungkin Anda mengingkari hal ini?

Padahal di antara manusia ada yang mengikuti jejak pemimpin-pemimpin mazhabnya. Cinta mereka terhadap para pemimpinnya itu mendorong pengorbanan jiwa dan harta demi membela mereka (para pemimpin), dan rasa cinta mereka itu melampaui batas kecintaan yang amat sangat.
Anda sendiri tahu, bahwa kecintaan Anda kepada mereka bukan karena bentuk lahir mereka, bukan karena mereka rupawan, sebab Anda sendiri belum pernah melihat paras muka mereka. Walaupun Anda pernah melihatnya, tapi Anda barangkaIi tidak menganggapnya rupawan. Sungguhpun Anda menganggap baik, rupawan, padahal bentuk lahir mereka – sebagaimana Anda saksikan, jelek, misalnya — namun sifat-sifat luhur masih tetap ada, maka kecintaan kepada mereka pun tetap ada.
Ada tiga sifat penting yang akan Anda dapatkan setelah mengamati secara cermat terhadap orang yang Anda cinta setelah dirinci panjang-lebar, yang tidak mungkin termuat dalam buku ini — 1. Ilmu, 2. Kemampuan (kekuatan) dan 3. Bersih dan cela.

Tentang ilmu, maksudnya adalah ilmu mereka tentang Allah Swt, para malaikat, kitab-kitab dan para Rasul Allah, keajaiban-keajaiban alam semesta dan rahasia ajaran para Nabi-Nya.

Yang dimaksudkan dengan kemampuan adalah, kemampuan mereka menaklukkan hawa nafsu dan menggiringnya kejalan lurus, serta kemampuan melaksanakan ibadat dengan siasat dan strategi mereka sendiri, serta petunjuk pada kebenaran.

Tentang kebersihan dan cela adalah, seperti terbebasnya ruhani mereka dari kebodohan, sifat kikir, dengki dan akhlak-akhlak yang tercela. Juga integrasi ilmu yang sempurna dan kemampuan menaklukkan hawa nafsu dengan akhlak mulia pada diri mereka. Itu merupakan bentuk ruhani yang baik, suatu bentuk ruhani yang tidak dicapai atau dimiliki oleh binatang dan tidak dimiliki oleh orang yang serupa dengan binatang, yang hanya terbatas pada indera lahiriah.

Selanjutnya, jika Anda mencintai mereka karena sifat-sifat yang terpuji semacam ini, padahal Anda tahu bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah figur yang jauh lebih lengkap dari sifat-sifat yang mereka miliki, maka cinta Anda kepada beliau jauh lebih penting.

Berikutnya, silakan Anda alihkan perhatian kepada Dzat yang mengutus Nabi Muhammad Saw, Penciptanya dan Yang memberikan keistimewaan kepada beliau atas manusia dengan mengutusnya sebagai Rasul — tentu Anda akan tahu, bahwa diutusnya para Nabi oleh Allah, merupakan salah satu bentuk kebaikan dan ragam kebaikan-Nya. Kemudian, menisbatkan kemampuan, ilmu dan kesucian mereka pada Ilmu, Kekuasan dan Kemahasucian Allah, niscaya Anda akan tahu, bahwa tiada Yang Maha Suci selain Tuhan Yang Maha Esa, dan bahwa selain Dia tidak lepas dari cacat dan kekurangan, bahkan kehambaan (manusia kepada Allah Swt.) merupakan bentuk kekurangan terbesar yang dimiliki manusia dari ragam bentuk kekurangan lainnya. Kesempurnaan macam apa bagi orang yang tidak mampu tegak dengan sendirinya, tidak mampu menguasai dirinya, baik itu berupa mati dan hidupnya, rezeki dan ajalnya?

Ilmu macam apa yang dimiliki oleh orang yang kesulitan untuk mengetahui karakteristik batinnya, baik berupa wujud kesehatan ruhani dan sakitnya ruhani, bahkan dia tidak mengetahui seluruh organ ruhani berikut rincian dan ketentuan-ketentuan perwujudannya, ditambah lagi tentang alam semesta?
Silakan hal ini Anda bandingkan dan nisbatkan kepada ilmu azali yang meliputi seluruh yang ada, dari data-data yang tanpa batas jumlahnya sampai pada yang seberat atom yang terdapat di langit dan di muka bumi.

Bandingkan dan nisbatkan pula pada kekuasaan Sang Pencipta langit dan bumi, dimana tidak satu pun dari yang ada keluar dari genggaman kekuasaan-Nya, baik itu dalam hal wujud, eksistensi dan ketiadaannya.

Nisbatkan dan bandingkan pula kesucian makhluk dari aneka cacat dengan kequdusan-Nya, niscaya Anda tahu bahwa kesucian, kekuasaan dan ilmu hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa; kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh selain Allah sekadar pemberianNya belaka.
“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. Al-Baqarah: 255).
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

Sekarang, mungkinkah Anda mengingkari bahwa sifat-sifat yang agung dan terpuji itu disenangi atau dicintai? Atau Anda tidak mengakui, bahwa yang memiliki sifat kemuliaan sempurna itu adalah Allah Swt.?
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

Sekarang, mungkinkah Anda mengingkari bahwa sifat-sifat yang agung dan terpuji itu disenangi atau dicintai? Atau Anda tidak mengakui, bahwa yang memiliki sifat kemuliaan sempurna itu adalah Allah Swt.?

Renungan Cinta
Lalu perhatikan, sesudah itu, bagaimana Anda tidak mengakui adanya cinta kepada Sang Maha Pencipta?
Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda! Anda jangan sekali-kali lebih rendah dari seekor anjing, sebab anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik padanya!
Renungkan hal ini dalam kaitannya dengan jagat raya! Adakah seseorang yang berbuat baik kepada Anda, selain Allah?

Apakah nasib, rasa lezat, rasa senang menikmati sesuatu, dan kelahapan menikmati nikmat yang Anda miliki itu tidak lain hanyalah Allah yang menciptakannya, memulai dan menetapkannya, serta bukankah Dia yang menciptakan rasa berselera kepada nikmat-nikmat tersebut dan rasa nyaman menikmatinya?
Renungkan pula tentang organ tubuh Anda dan kehalusan ciptaan Allah Swt. atas diri Anda dengan organ-organ tersebut, agar Anda mencintai-Nya karena kebaikan-Nya kepada Anda!
Jika Anda tidak mampu mencintai Allah sebagaimana para malaikat mencintai-Nya karena kemahaindahan, kemahaagungan dan kemahasempurnaan-Nya, cukuplah Anda menjadi orang awam saja.
Uraian di atas merupakan perwujudan dari sabda Rasulullah Saw, “Cintailah Allah, karena Dia mengaruniakan nikmat kepada kalian, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah Azza wa Jalla!”

Anda bagaikan seorang budak berparas kurang menarik dalam kondisi demikian, sebab budak yang berparas kurang menarik itu cinta dan bekerja untuk mendapatkan upah (imbalan); sudah barang tentu kadar bertambah dan berkurangnya cinta Anda bergantung pada bertambah dan berkurangnya kebaikan, dan ini merupakan ragam cinta yang amat lemah. Yang sempurna adalah, orang yang mencintai Allah karena keindahan dan kemahaterpujian sifat-sifat-Nya yang tidak mungkin dapat disamai dan tiada dua-Nya. Itulah sebabnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as.:
“Bentuk kecintaan kepada-Ku yang paling baik adalah, orang yang menyembah-Ku tanpa pamrih, bukan karena untuk memperoleh pemberian; tapi memenuhi hak rububiyah itu sendiri.”
Dalam kitab Zabur dijelaskan, “Termasuk orang zalim adalah, orang yang menyembah-Ku karena surga atau neraka. Kalau Aku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah Aku tidak pantas untuk ditaati?”
Suatu saat Nabi Isa as. melintasi sekelompok ahli ibadat, mereka telah ber-khalwat untuk melakukan ibadat. “Kami takut pada api neraka dan mengharapkan surga,” kata mereka.
“Anda sekalian takut pada makhluk dan Anda sekalian berharap padanya?” komentar Nabi Isa as.
Selanjutnya beliau melewati sekelompok ahli ibadat lainnya.
“Kami menyembah-Nya sebagai rasa cinta dan pengagungan karena kemahamuliaan-Nya.”
“Anda sekalian benar-benar para kekasih Allah, aku diperintahkan mukim bersama kalian,” kata Nabi Isa as.

Cinta Orang Arif

Orang yang kenal Allah (al-arf) hanya cinta kepada Allah Swt. semata.
Apabila mencintai selain Allah, dia mencintainya demi dan karena Allah Swt. Sebab, bisa terjadi seorang pecinta itu mencintai hamba orang yang dicintainya, mencintai kerabat, negara, pakaian, anak angkat, karya dan ciptaannya, serta setiap yang berasal darinya dan dikaitkan kepadanya.

Seluruh yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Swt. Seluruh makhluk adalah hamba Allah. Jadi, mencintai seorang Rasul identik dengan mencintai-Nya, sebab beliau adalah seorang utusan yang dicintai-Nya dan sekaligus merupakan kekasih-Nya. Lalu, mengapa harus mencintai para sahabat? Karena mereka dicintai oleh Rasulullah Saw. dan mereka pun mencintai beliau. Mereka berkhidmat dan tekun mematuhi beliau.

Cinta atau suka terhadap makanan, karena dapat menguatkan tubuh yang dapat mengantarkan kepada orang yang dicintainya. Mencintai dunia, semata karena merupakan bekal menuju Sang Kekasih.

Ketika memandangi bunga-bunga, sungai-sungai, cahaya dan keindahan-keindahan dengan penuh cinta, karena semua itu adalah ciptaan Allah Swt. Semua itu (bunga-bunga, sungai-sungai, cahaya dan keindahan) merupakan tanda-tanda keindahan dan kemuliaan-Nya, serta mengingatkan akan sifat-sifat-Nya yang terpuji yang memang dicintai dan disayangi.

Jika mencintai orang yang berbuat baik kepada dirinya dan mencintai orang yang mengajarinya ilmu-ilmu agama, semata karena dia itu merupakan perantara antara dirinya dan yang dicintainya (Allah), yakni dalam menyampaikan ilmu dan hikmah-Nya kepada dirinya. Dia tahu bahwa Allah-lah yang menakdirkan sang guru mengajari dan membimbingnya, menyuruhnya untuk menginfakkan sebagian hartanya. Kalau tidak karena faktor-faktor yang mendorong sang guru untuk mengajari dan membimbingnya serta menyuruhnya untuk berinfak, tentu dia tidak melakukannya.

Orang yang paling banyak dan terbesar dalam berbuat baik terhadap diri kita adalah Rasulullah Saw. Milik Allah-lah segala keistimewaan, keutamaan dan anugerah dengan menciptakan dan mengutus beliau; sebagaimana difirmankan-Nya:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 6).
Karena itu pula Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. Al-Qashash: 56).

Coba Anda renungkan Surat Al-Fath dan firman Allah Swt. berikut ini:
“Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (Q.s. An-Nashr: 2-3).

“Jika kalian menyaksikan banyak hamba Allah yang masuk ke dalam agama-Nya,“ sabda Rasul Saw, “maka ucapkanlah puja-puji kepada Allah, bukan memuji-mujiku!”. Itu adalah pengertian tasbih dengan memuji Tuhannya. Jika perhatian kalbu Anda terarah kepada diri dan usaha Anda, segeralah Anda meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi ampunan dan tobat. Hendaklah Anda tahu, bahwa tidak ada sedikit pun campur tangan Anda dalam semua urusan.

Bertitik tolak dari hal inilah Umar bin Khaththab r.a. ketika melihat surat Khalid bin Walid kepada Abu Bakar r.a. setelah penaklukan kota Mekkah, (yang diantaranya berbunyi), “Dan Khalid, Sang Pedang Allah yang terhunus kepada orang-orang musyrik, kepada Abu Bakar, Amirul Mukminin.” Maka Umar r.a. berkata, “Karena pertolongan Allah kepada kaum Muslim, Khalid memandang dirinya dan menyebutnya dengan Si Pedang Allah yang terhunus kepada kaum musyrik.”

Andaikata dia mencermati kebenaran sebagaimana mestinya, niscaya dia tahu bahwa kemenangan itu bukan karena pedangnya. Namun Allah memiliki rahasia tersendiri dengan kemauan (iradat)Nya dengan memenangkan Islam.

Karena itu, Allah menolong Islam dengan satu getaran, yaitu getaran rasa takut yang diselinapkan ke dalam hati orang kafir sehingga dia terpukul mundur, sementara yang lain pun melihatnya, sehingga mereka mundur dan kekalahan pun tersebar luas. Khalid bin Walid dan yang semisal, melihat kemenangan Islam karena keberanian dan ketajaman pedangnya.

Sedang Umar r.a. dan orang-orang yang jujur dengan kebenaran (as-shiddiqin) serta para auliya’ mencermati hakikat persoalan yang sebenarnya. Beliau juga tahu bahwa Khalid bin Walid perlu mengucapkan istighfar dan bertasbih dengan memuji Tuhannya jika menyaksikan hal yang demikian itu, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

Jadi, motivasi cinta (mahabbah) itu hanya dua: Pertama, ihsan. Kedua, puncak kemuliaan dan keindahan Allah yang berwujud kesempurnaan kemahamurahan, hikmah, ketinggian, kemahakuasaan dan kemahasucian Allah dari segala bentuk cacat dan kekurangan.

Tiada satu pun bentuk kebaikan dan perlakuan baik, kecuali bersumber dari-Nya. Tidak ada kemuliaan, keindahan dan kesucian kecuali milik-Nya. Seluruh kebaikan dan perilaku baik di alam semesta ini hanyalah satu di antara bentuk kemahamurahan-Nya, yang diarahkan kepada hamba-hamba-Nya dengan satu getaran, yang Dia ciptakan dalam kalbu seorang muhsin.

Seluruh keindahan, gambar yang bagus, bentuk-bentuk yang elok dan indah yang diindera oleh mata, pendengaran dan penciuman di alam jagat ini tidak lain merupakan salah satu pengaruh dari kekuasaan-Nya, itu merupakan sebagian dari nilai-nilai keindahan Diri-Nya.

Betapa indahnya semua itu bagi orang yang menyaksikannya dalam alam musyahadah, dan bukti-bukti yang pasti lagi memuaskan, bagaimana mungkin terbayang dia akan berpaling kepada selain Allah Swt, atau mencintai selain Allah Swt.?

Rasa lezat yang dialami oleh seorang yang ma’rifat kepada Allah di dunia, dengan menelaah dan menyaksikan langsung keindahan hadirat ketuhanan (al-hadharat ar-rububiyah), jauh lebih lezat dari segala bentuk kelezatan lainnya yang terdapat di dunia. Karena kelezatan itu sesuai dengan kadar selera (keinginan) dan kekuatan selera itu sesuai atau sepadan dengan yang diingini.
Sebagaimana makanan itu merupakan hal yang paling sesuai bagi tubuh, maka sesuatu yang paling sesuai bagi kalbu adalah ma’rifat. Sebab, ma’rifat merupakan santapan kalbu. Sedangkan yang paling memenuhi selera kalbu adalah ruh Rabbani, seperti yang difirmankan oleh Allah Swt, “Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

Dan Allah Swt. berfirman, “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (Q.s. Al-Hijr: 29, Shad: 72).
Dalam ayat ini Allah menisbatkan ruh kepada Diri-Nya. Ruh semacam itu tidak dimiliki oleh binatang dan manusia yang penihalnya seperti binatang. Itu hanya khusus bagi para Nabi dan wali. Karena itulah, Allah Swt. berfirman:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Q.s. Asy-Syura: 52).

Jadi, hal yang paling sesuai bagi ruh semacam ini adalah ma’rifat.Karena yang paling relevan bagi segala hal adalah karakteristiknya.

Karena itu, suara yang merdu tidak sepadan dengan penglihatan (mata), sebab bukan karakternya.
Karakter ruh manusia (ruhul insani) adalah ma’rifat tentang hakikat. Setiap apa pun yang diketahui hakikatnya itu lebih mulia, mengetahui hakikat, tentu lebih lezat rasanya. Dan tidak ada yang lebih mulia daripada mengenal (hakikat) Allah dan (kerajaan) alam semesta-Nya.
Mengenal Allah, mengenal sifat-sifat dan Dzat-Nya, keajaiban-keajaiban kerajaan jagat raya-Nya merupakan sesuatu terlezat bagi kalbu, karena kesenangan tersebut merupakan kesenangan paling lezat. Karena itu, diciptakan paling ujung setelah kesenangan lainnya.

Setiap kesenangan yang diciptakan kemudian, Iebih lezat rasanya daripada kesenangan yang diciptakan sebelumnya.

Kesenangan yang diciptakan pertama kali adalah selera nafsu makan, kemudian, karenanya, diciptakan nafsu seks. Maka nafsu makan ditinggalkan dan dianggap remeh, untuk memenuhi kepentingan nafsu seks. Selanjutnya diciptakan nafsu dan keinginan untuk berkuasa, untuk mendapatkan kehormatan atau jabatan, yang karenanya meremehkan nafsu seks dan nafsu makan. Lalu diciptakan keinginan atau nafsu ma’rifat (syahwatul ma’rfat) yang dapat mengatasi atau menguasai segala yang ada (alam semesta), sehingga meremehkan keinginan untuk dapat berkuasa dan mendapatkan kehormatan atau jabatan. Ini merupakan akhir yang sekaligus keinginan duniawi paling kuat.

Anak kecil tidak mengakui adanya nafsu seks. Dia terheran-heran terhadap orang yang membebani dirinya dengan beban harus memenuhi biaya pernikahan demi nafsu seks tersebut.

Jika telah mencapai nafsu seks, seseorang terus menekuninya tanpa lagi mengingat kehormatan, kedudukan dan kekuasaan; dan dia tidak ambil pusing terhadap kekuatannya dalam memenuhi nafsu seks. Demikian pula dengan orang yang kecanduan nafsu untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan, dia mengabaikan kelezatan ma’rifat, karena belum diciptakannya kesenangan setelah kesenangan berkuasa tersebut.

Nafsu dan ambisi untuk memperoleh kehormatan dapat berakhir pada sakitnya kalbu, hingga tidak dapat menerima keinginan ma’rifat terhadap Allah Swt, sebagaimana rasa tubuh orang yang sakit, merusak selera makannya hingga ia menemui ajalnya. Kadang-kadang nalurinya berbalik, sehingga ia menginginkan makan tanah dan sesuatu yang berbahaya lainnya. ini adalah awal kematian.
Demikian halnya dengan penyakit kalbu, bisa saja berakhir pada batas-batas tertentu yang bisa mengabaikan, membenci dan tidak mengakui ma’rifat; serta tidak mcngakui orang-orang yang tekun menuju ma’rifat. Sehingga yang diketahui dan dirasakannya sekadar kelezatan kekuasaan, makanan dan seksual. Dialah mayat yang tidak mau diobati. Tentang orang yang semacam mi disebut dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Q.s. Al-Kahfi: 57).
Tentang mereka juga dinyatakan:
“(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.” (Q.s.An-Nahl: 21).

Kelezatan Ma’rifat Wajah Allah Swt.
Sungguhpun rasa ma’rifat ini sangat lezat, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan memandang wajah Allah Yang Maha Mulia nanti di akhirat. Hal itu tidak akan terbayangkan di dunia, karena suatu rahasia yang tidak mungkin tersingkap saat sekarang.

Tidak seyogyanya kata “memandang” di sini Anda pahami seperti orang awam dan para teolog (mutakallimun) memahaminya, yang butuh arah pasti untuk menentukan tolok ukur dan batasannya. Tentunya ini dari sudut pandang orang yang menekuni alam nyata, yang tidak melampaui benda-benda yang dapat diindera, yang merupakan sasaran indera kebinatangan.

Anda harus memahami, bahwa hadirat ketuhanan (al-hadharat arrububiyah), bentuk dan susunannya yang ajaib — berupa keindahan, keelokan, kebesaran, kemuliaan, keagungan dan keluhuran, yang merindu dalam kalbu seorang ahli ma’rifat, sebagaimana watak bentuk rupa alam inderawi, dalam indera Anda; walaupun Anda menutup mata, tapi Anda seakan-akan melihatnya. Jika membuka mata, Anda mendapatkan bentuk sesuatu yang diindera sama seperti bentuk rupa yang difantasikan sebelum dibukanya mata, tidak berbeda sama sekali. Hanya saja — dibandingkan dalam bentuk fantasi — bentuk rupa itu diindera dalam wujud yang sangat jelas.

Demikian pula seharusnya Anda tahu, bahwa mengindera sesuatu yang tidak masuk atau bukan obyek fantasi dan indera, ada dalam dua tingkatan kejelasan yang berbeda. Perumpamaan pertama dengan yang kedua identik dengan perumpamaan penglihatan pada fantasi. Yang kedua merupakan puncak tersingkapnya tirai (kasyf) , yang disebut penyaksian langsung (musyahadah) dan penglihatan langsung (ru’yah). Hanya saja ru‘yah itu tidak disebut ru‘yah karena ada pada mata, sebab bila diciptakan di atas dahi baru disebut ru’yah, akan tetapi itu merupakan puncak kasyf Sebagaimana terpejamnya pelupuk mata merupakan tirai bagi penglihatan mata. Maka kekeruhan nafsu merupakan tirai bagi puncak musyahadah. Karena itulah, Allah berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Q.s. Al-A’raaf: 143).

Dan firman-Nya, “Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata.” (Q.s. Al-An’am: 103).
Jika tirai (hijab) ini telah tersingkap nanti setelah mati, maka ma’rifat itu pasti berbalik menjadi musyahadah dengan sendirinya. Kadar musyahadah masing-masing orang bergantung pada kadar ma’rifatnya; karenanya, rasa lezat yang dialami para wali Allah Swt. itu lebih dibandingkan rasa lezat yang dirasakan atau dialami oleh yang lain. Allah Swt. tajalli dan tampak bagi Abu Bakar r.a. secara khusus dan tampak secara umum bagi manusia.

Demikian pula, yang melihat-Nya hanyalah orang-orang arif, sebab ma’rifat merupakan awal dari penglihatan, bahkan ma’rifat itulah yang dapat berubah menjadi musyahadah, seperti berubahnya fantasi menjadi penglihatan mata. Karena itu, Dia tidak butuh lawan banding. Rahasia tentang hal ini sangat panjang, silakan Anda merujuk dan membacanya pada Bab “Al-Mahabbah” dalam kitab Al-Ihya’.
Tentu saja jika penglihatan mata Anda kepada yang Anda senangi, dan bila Anda memandangnya dari sebuah tirai tipis pada saat awan kemerah-merahan, dan pada saat kalajengking dan lalat besar

menyibukkan dan menyengat dari balik pakaian Anda, maka penglihatan Anda jadi lemah.
Apabila secara tiba-tiba matahari terbit sekaligus, sehingga tirai tipis itu sirna, kemudian lalat dan kalajengking itu menyingkir, lalu bara cinta yang amat sangat itu menghunjam Anda, tentu rasa lezat yang amat sangat yang telah digapai saat ini tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. Demikianlah, tidak ada yang bisa menyamai kelezatan pandangan mata, kecuali kelezatan ma’rifat, bahkan ma’rifat itu jauh lebih lezat dan pandangan mata. Tirai tipis itu adalah hati luar Anda, sedangkan kalajengking itu adalah kesibukan, kesedihan dan kecenderungan pada kehidupan dunia. Bara cinta yang amat sangat itu adalah rasa yang disebabkan oleh sirnanya kendala dan hal-hal yang menghambat dan menyulitkan. Pancaran matahari adalah kesiapan mata kalbu untuk menerima beban tajalli, yakni ketampakan yang sempurna. Dalam hidup ini, tidak mungkin mata kelelawar dapat menahan sinar matahari.

Bahwa kesenangan ma’rifatullah itu menjadi lemah karena berdesak-desakannya ragam keinginan. Sebenarnya ma’rifatullah itu tersembunyi, semata karena kilauan penampakan ma’rifat.
Suatu contoh adalah demikian, Anda tahu bahwa sesuatu yang paling jelas adalah benda-benda yang dapat diindera, diantaranya adalah yang dapat dilihat dengan penglihatan mata, juga cahaya yang menjadikan sesuatu jelas atau terang kepada Anda. Selanjutnya, jika matahari itu terbit terus-menerus tanpa terbenam dan tidak memiliki bayang-bayang, niscaya Anda tidak akan tahu wujud cahaya. Anda melihat warna-warna, maka yang Anda lihat hanyalah warna merah, hitam dan putih.
Jadi, cahaya dapat diketahui — dapat ditangkap oleh mata — bila matahari itu terbenam, atau terdapat tirai yang menghalanginya, sehingga tampaklah ada bayang-bayang, dan Anda akan tahu — dengan beraneka ragam situasinya karena gelap dan terang — bahwa cahaya itu suatu hal yang bila ditampakkan pada aneka warna, ia menjadi terlihat.

Apabila Allah itu diproyeksikan secara gaib, atau terbayang, cahaya-cahaya kekuasaan-Nya itu, ada tirai yang menghalangi segala sesuatu, tentu saja Anda mengetahui adanya kesenjangan yang mendesak pada ma’rifat. Namun seluruh yang ada, ketika sama-sama menyatakan penyaksian kemahatunggalan Sang Maha Pencipta tanpa beda, maka persoalannya menjadi tersembunyi, dikarenakan pancaran sinarnya yang sangat terang-benderang itu.

Andaikata tergambar lenyapnya cahaya-cahaya kekuasaan-Nya dan langit dan bumi, tentu semua itu (langit dan bumi) akan musnah. Pada saat itulah diketahui adanya kesenjangan yang menuntut terwujudnya ma’rifat terhadap kekuasaan dan Yang Kuasa.

Berikut ini adalah contoh lain, di balik contoh mi terdapat rahasia-rahasia, di dalamnya ada kekeliruan. Silakan Anda mencermatinya dengan sungguh-sungguh, barangkali mampu memahami rahasia-rahasianya. Anda jangan merasa kacau dan bingung pada posisi yang keliru, pada kekeliruan yang Anda dapatkan. Diantaranya adalah kekeliruan orang yang berkata, “Dia ada di setiap tempat. Namun setiap orang yang mencari-Nya ke suatu tempat atau ke sebuah arah, justru akan tersesat dan hina.” Puncak penglihatannya kembali pada tindakan-tindakan binatang yang dapat diindera, hanya saja tidak dapat melanipaui kondisi tubuh dan hal-hal yang terkait dengannya.

Derajat iman pertama adalah, kemampuan untuk melampauinya, di Situ manusia menjadi manusia, terlebih lagi apabila menjadi manusia Mukmin.

Cinta itu memiliki banyak indikasi, cukup panjang untuk mengalkulasikannya. Diantaranya adalah, mendahulukan perintah Allah daripada hawa nafsu, terwujudnya sikap takwa dengan wara’, menjaga aturan-aturan syariat.

Indikasi-indikasi lainnya adalah, rasa rindu untuk bertemu Allah, lepas dari rasa takut mati, kecuali dari segi memperlihatkan rasa rindu pada bertambahnya ma’rifat. Sebab, lezatnya rasa musyahadah bergantung pada kadar kesempurnaan ma’rifat, dimana ma’rifat merupakan permulaan atau awal dan musyahadah. Jadi, kadar musyahadah itu berbeda-beda bagi masing-masing orang sesuai dengan perbedaan kadar ma’rifatnya.

Indikasi lainnya adalah, ridha terhadap ketetapan Allah, dengan posisi yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Agar tidak terpedaya oleh bisikan yang mengganggu yang terlintas dalam dirinya, hingga ia mengira bahwa kesibukan itu merupakan esensi cinta kepada Allah Swt. Makna ridha merupakan makna yang sangat mulia.

sumber

Menguak Siapa Sebenaranya Jodha akbar


Beberapa waktu terakhir ini layar televisi Indonesia dihiasi tayangan berbagai film serial asal Hindustan, seperti Mahabaratha, Aladin, Jodha Akbar dan lain sebagainya. Trend ini agak baru mengingat bila sebelumnya televisi lebih berminat menayangkan film Hindustan layar lebar ketimbang serial.

Salah satu serial yang cukup fenomenal adalah Jodha Akbar. Film ini berkisah tentang roman cinta antara Akbar sang raja Moghul yang beragama Islam dengan putri Rajput, Jodha yang beragama Hindu.

Serial Jodha Akbar dikenal sebagai film Box Office yang berhasil mencetak keuntungan finansial yang besar. Di negeri asalnya India, film ini mendulang tak kurang dari 79,2 Milyar Rupee. Sementara di luar negeri, film ini berhasil mengumpulkan keuntungan 2,1 juta Dollar di Inggris, 3,4 juta Dollar di Amerika, 960.000 Dollar di Uni Emirat Arab, 450.000 Dollar di Australia dan 590.000 Dollar di bagian dunia lainnya.

Walau film ini termasuk box office India, namun sebenarnya serial Jodha Akbar ini merupakan sinema yang cukup kontroversial. Sejak pertama kali ditayangkan, Jodha Akbar sudah diprotes banyak kalangan di negeri asalnya, salah satunya adalah komunitas Shri Rajput Karni Sena (SRKS). Namun sayang, meski sudah melakukan demo di sana-sini, serial ini tetap ditayangkan dan malah mendapatkan rating yang cukup tinggi.

Hal inilah yang akhirnya membuat SRKS berang dan kemudian menggelar demo ulang. Kalau sebelumnya mereka hanya berorasi, kali ini demonstrasi yang mereka lakukan lebih ekstrim.

“Kami sudah berkali-kali meminta kepada produser dan stasiun televisi untuk mengubah jalan cerita. Bahkan Ekta Kapoor sudah beberapa kali berjanji akan mengubah apa yang kami minta. Tapi, sampai detik ini, tidak ada yang berubah,” ujar salah seorang perwakilan dari SRKS seperti dilansir dari Times of India.

Komunitas itu juga mengancam Ekta. Film apapun yang diproduksi oleh PH miliknya, akan diboikot di Jaipur. Untuk menujukkan keseriusannya, SRKS membuat sebuah poster yang ditulis dengan memakai tinta darah.

Demo para anggota SRKS ini berawal dari ketidaksetujuan mereka atas jalan cerita yang disuguhkan dalam serial Jodha Akbar. Menurut mereka, di dalam sejarah, Akbar tidak pernah menikah dengan Jodha.

Pandangan tentang sosok Jodha pernah pula disampaikan oleh salah seorang tokoh Hindu asal Bali dalam laman Facebook miliknya, berikut pernyataan sang tokoh:

Nah, sebenarnya bagaimana kontroversi sejarah Jodha dan Akbar ini? Berikut beberapa ulasan yang diulas dari berbagai sumber.

Berdasarkan beberapa artikel, akurasi sejarah dalam film Jodha Akbar memang patut dipertanyakan. Ada pendapat menyebutkan bahwa banyak peristiwa yang digambarkan dalam film ini tidak didasarkan pada peristiwa nyata. Kelompok Rajput misalnya mengklaim bahwa Jodhaa menikah bukan dengan Akbar, tapi dengan putra Akbar, Jahangir.

Beberapa sejarawan mengklaim bahwa istri Akbar dari Rajput tidak pernah dikenal sebagai “Jodha Bai” selama periode Mughal. Menurut Profesor Shirin Moosvi, seorang sejarawan dari Aligarh Muslim University, baik Akbarnama (Panggilan Akbar sebagaimana disebut dalam biografinya), maupun teks sejarah dari periode merujuk padanya sebagai Jodha Bai.

Moosvi mencatat bahwa nama ” Jodha Bai “pertama kali digunakan untuk merujuk kepada istri Akbar pada abad ke-18 dan ke-19 dalam tulisan-tulisan sejarah. Dalam Tuzk-e-Jahangiri, Jodha justru dikenal sebagai Mariam Zamani.

Jalaluddin Akbar
Menurut sejarawan Imtiaz Ahmad, direktur Khuda Baksh Oriental Public Library di Patna, nama “Jodha” digunakan untuk istri Akbar untuk pertama kalinya oleh Letnan Kolonel James Tod, dalam bukunya Annals and Antiquities of Rajasthan. Menurut Ahmad, Tod bukan sejarawan profesional. NR Farooqi mengklaim bahwa Jodha Bai bukan nama permaisuri Akbar dari Rajput, tapi justru merupakan istri Jahangir anaknya.


Sultan Jalaluddin Akbar

Dalam sejarah, sosok Akbar dalam kisah Jodha Akbar dikenal sebagai Jalaluddin Mahmud Akbar. Beliau adalah salah seorang Sultan Moghul yang berkuasa di India antara tahun 1556 hingga 1605 Masehi.

Akbar lahir pada tanggal 15 Oktober 1542 di wilayah Sindu (sekarang Pakistan), pada saat itu ayahnya, Humayon sedang melarikan diri ketika kekuasaannya direbut oleh Syirsyah. Ibu Akbar bernama Hamidah Binti Ali Akbar. Humayon kemudian meninggalkan Akbar di Kandahar (Afghanistan sekarang) dan pergi ke Kabul. Ia tidak pernah bertemu putranya itu kecuali setelah 13 tahun kemudian, yaitu di saat ia berhasil merebut kembali kekuasaannya.


Wilayah kesultanan Moghul pada masa Akbar

Ketika ayahnya kembali berkuasan, Akbar dipercaya menjadi Gubernur di Punjab pada tahun 1555. Dan ketika ayahnya wafat tahun 1556, Akbar naik tahta dan memimpin Moghul di saat usianya masih 14 tahun, namun ia masih di bawah pengasuhan penasehat bernama Beiram Khan yang menjabat Perdana Menteri. Akbar menjabat Sultan hingga ia wafat pada 12 Oktober 1605 M. Setelah wafat, ia digantikan oleh putranya bernama Jahangir yang memiliki nama asli Nuruddin Salim.

Semasa kepemimpinannya, Akbar menghadapi berbagai persoalan negara yang cukup banyak, baik dari luar maupun dari dalam kesultanannya. Belum lagi kolonialisme Inggris yang saat itu mulai bercokol di anak benua India. Di masa Akbar, tepatnya pada tahun 1960, Inggris mendirikan The British East India Company yang berpusat di Kalkuta. 2 Tahun kemudian, Belanda pun mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur yang saat itu juga membuka cabang di Indonesia. Disusul kemudian oleh Perancis pada tahun 1604.

Akbar tercatat sebagai Sultan yang agung hingga ia digelari sebagai Akbar al-A’zham. Wibawanya yang besar membuat Ratu Elizabeth I mempercayakan mengirim duta sekelas Sir Thomas R ke India.


Mata uang perak dirham di masa Akbar

Selain itu, Akbar dikenal sebagai sultan yang mencitai seni dan budaya. Bangunan-bangunan besar di masanya masih menjadi bukti dan tegak kokoh hingga hari ini, seperti Benteng Merah di Akra yang membentang sejauh 10 kilometer.

Meski seorang yang buta huruf, namun Akbar menyimpan manuskrip buku tak kurang dari 24.000 buku. Ia kerap mengundang ulama dan cendikiawan ke perpustakaannya tersebut.

Selain dikenal sebagai raja agung, sosok Akbar juga dikenal kontroversial. Meski ia seorang yang buta huruf, namun Akbar terkenal sebagai pemikir liberal dan menghargai perbedaan pendapat, serta senang berbincang soal filsafat dan sufitik.

Pemikiran ini juga tercermin dari kebijakannya. Akbar menghapus pajak jizyah atas non muslim di masanya. Dan sebagaimana diceritakan dalam film kontroversial di atas, Akbar pun menikahi wanita Hindu, Jodha.

Jodha atau Miryamus Zaman
Sebagian sejarawan justru menggambarkan biografi akbar yang lebih radikal. Akbar disebut-sebut menganut sinkretisme yang menganggap semua agama itu sama. Ia menghapus kebijakan jizyah, zakat, melarang naik haji, melarang pelajaran Bahasa Arab, dan menutup banyak madrasah Islam. Bahkan, Akbar disebut-sebut telah mendirikan agama baru yang dinamai sebagai Agama Akbari atau Agama Ilahi yang mengajarkan sinkretisme. Namun hal ini tentu saja harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut agar tidak menjadi tuduhan tanpa dasar.

Jodha
Demikianlah sosok Akbar yang kontroversial itu. Lalu siapakah Jodha? Dengan mengenyampingkan kontroversi sejarah di atas, kalau pun benar, Jodha merupakan salah bagian romantis dari kehidupan Akbar.

Akbar memiliki 4 orang istri, yaitu Ruqayyah, Salimah, Miryam (yang kemudian disebut sebagai Jodha Bai Akbar) dan Sakinah. Di antara 4 istri tersebut, konon Jodha lah yang paling ia cintai. Kecantikan dan kemerduan suara Jodha membuat Akbar takluk. Karena menghormati agamanya, Akbar mendirikan sebuah kuil pribadi untuk Jodha di istana.

Nah, demikian sekelumit tentang sejarah Jodha Akbar. Semoga bermanfaat!

sumber

Ya’juj Dan Ma’juj, Dua Suku Yang Berkuasa Sejak Abad Ke-12 M


Kisah Ya’juj dan Ma’juj disebutkan dalam ajaran agama Yahudi, Kitab Kejadian umat Kristen dan Al-Quran. Dalam tradisi religi, Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai sosok yang tidak jelas, beberapa orang menganggapnya masih berbentuk manusia, raksasa, atau menggambarkan suatu bangsa. Kisah Ya’juj dan Ma’juj diceritakan dalam mitos budaya dan leteratur, kemiripan karakter kisah juga disebut dalam beberapa teks terdahulu.
Diceritakan, Ya’juj dan Ma’juj akan muncul di akhir zaman, makhluk yang memiliki kekuatan perusak dan penghancur kehidupan di muka bumi. Siapakah mereka, dan benarkah Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog) sudah keluar kepermukaan Bumi? Pendapat berikut diambil dari beberapa analisa yang cukup menjelaskan tentang keberadaan Ya’juj dan Ma’juj ataupun Gog dan Magog, salah satunya studi yang diambil dari catatan Al-Watsiq bin Mu’tasim adalah seorang Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara tahun 842 sampai 847 M.

Gog Dan Magog, Ya’juj Dan Ma’juj

Riwayat Ibnu Katsir menyebutkan, Gog dan Magog adalah keturunan Nuh dari anaknya Yafits, seseorang yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Turki terkurung benteng tinggi, sebuah tembok besar yang pernah dibangun Dzulqarnain. Ya’juj dan Ma’juj adalah merupakan keturunan manusia, yaitu masih keturunan anak lelaki Nuh bernama Yafis dan berhijrah ke utara, yaitu ke Eropa dan Rusia bagian Selatan, selepas banjir kering. Keturunan Sam berlegar di sekitar bumi Kanaan lalu membentuk bangsa Arab dan sekitarnya. Keturunan Ham pula berhijrah ke Afrika lalu membentuk bangsa Afrika.
Legenda menyebutkan ada celah diantaranya, menurut simbolisme tradisional dan literatur, penutupan celah terbuka dimaksudkan untuk melindungi dunia dari pengaruh jahat. Banyak sejarawan menganggap simbolisme ini dapat sepenuhnya dipahami dalam segala aspek, dimana dinding dianggap berguna sebagai perlindungan dan sekaligus pembatas. Sejauh ini, tujuan utamanya untuk memastikan pertahanan memadai terhadap serangan. Dalam tradisi Islam, celah yang dimaksud terjadi pada akhir siklus dunia, dimana Ya’juj dan Ma’juj atau Gog dan Magog akan mendobrak dan keluar tanpa henti menyerang dunia.
Mereka dianggap sebagai makhluk yang mempertahankan eksistensi bawah tanah, ada yang menganggapnya sebagai raksasa, atau diidentifikasi sesuai dengan yang dikatakan sebelumnya sebagai penjaga harta karun dan pandai besi dari dunia api dibawah tanah. Istilah ini mengingatkan pada suatu objek yang sangat jahat dalam semua simbolisme, seperti menjelaskan keterlibatan makhluk lain. Ada juga entitas yang menyinggung kisah kuno dari Cina, Fo-Hi, dimana waktu terjadinya sangat dekat dengan periode Kali Yuga Awal, zaman yang lebih jauh daripada periode klasik dimana pengetahuan sejarawan sangat terbatas mengungkap misteri ini.
Tradisi Cina berkaitan dengan simbolis Niu-Koua, adik dan istri Fo-hi yang diceritakan telah memerintah bersama-sama dengannya. Legenda menyebutkan bahwa batu lima warna dilebur untuk memperbaiki sobekan pada langit yang disebabkan ulah raksasa, dan ini terjadi setelah beberapa abad Kali Yuga Awal. Dalam pendekatan sejarah dengan periode siklus Kali Yuga, celah yang dimaksud mungkin sudah terjadi sejak saat itu. Sehingga dalam Quran menyebutkan Dzulkarnain, seorang raja bijaksana telah menutupnya kembali untuk mempertahankan dunia.
Ya'juj dan Ma'juj, Genghis Khan
Fo-hi, dia lahir sekitar tahun 3468 SM, ibunya hamil ketika muncul pelangi dan gajah putih. Tiga bidadari datang ketika dia mencuci di sungai dan tiba-tiba pakaian yang dikenakan bergambar teratai dan penuh buah. Kehamilan diikuti kelahiran berlangsung sangat cepat, diluar batas normal manusia. Seorang anak laki-laki dilahirkan lengkap dengan cahaya pelangi, hingga pada saatnya Fo-Hi membuat hal-hal yang sangat besar dan bahkan mungkin telah mendirikan sejarah Kekaisaran Cina.
Gog dan Magog, merupakan tokoh apokaliptik dalam Kitab Suci Yahudi dan Kristen, sementara dalam literatur Islam disebut sebagai Yakjuj Makjuj. Pada waktu itu, Alexander Agung merupakan seorang pemimpin Yunani kuno yang menaklukkan sebagian besar wilayah Eurasia barat dan Afrika utara. Dalam kisah disebutkan Gog dan Magog dikurung Alexander Agung dalam sebuah tembok besar terkenal sekitar 2200 tahun yang lalu. Beberapa kalangan sejarawan meyakini bahwa cerita itu benar dengan dukungan arkeologis, bahwa Alexander Agung telah membangun dinding di Cina untuk melindungi peradaban dari serangan Gog dan Magog.

Dalam Kitab Yehezkiel menggambarkan Gog seperti seorang pemimpin Mongol, kemudian referensi Yahudi dan Kristen Awal merujuk Gog dan Magog sebagai individu, masyarakat, dan tanah. Dalam Kitab Yehezkiel, Gog Magog diramalkan sejak 2600 tahun yang lalu, dimana Yehezkiel menyatakan bahwa Gog dan Magog akan datang dengan membawa banyak orang dari bagian paling jauh di utara, segerombolan penunggang kuda yang terdiri dari tentara perkasa. Gog Magog menyerang masyarakat yang hidup di tempat terbuang dan menjarah, orang-orang tampak seperti migran dihamparan luas Eurasia. 

Nubuat Yehezkiel menyebutkan bahwa Gog Magog akan menyerang orang Israel, orang-orang Israel memiliki kota berdinding dan terjaga keamanannya, tetapi pertahanan yang menentukan Israel dalam nubuat Yehezkiel berasal dari Allah yang tengah menunjukkan kuasa-Nya kepada dunia. Legenda ini populer dikalangan masyarakat barat daya Eurasia, dikisahkan bahwa Alexander Agung mengurung masyarakat buas yang tinggal suatu tempat wilayah utara.
Dalam tulisan sejarawan Josephus, Yahudi-Romawi pada abad pertama, justru menyebut Alexander Agung sebagai seorang penakluk dunia yang mirip dengan Genghis Khan. Tetapi dalam catatan sejarah, Alexander Agung tidak seperti Genghis Khan, dia menetap, kosakata antara menetap (beradab) dan nomaden (liar) adalah struktur yang mendasari sejarawan untuk mengungkap kisah dinding Alexander. Dalam hal ini, Alexander Agung sebagai sosok protagonis menunjukkan bahwa masyarakat menetap dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat nomaden.
Kisah Gog dan Magog dan dinding Alexander muncul secara bersamaan diantara orang Kristen Suriah bagian utara Mesopotamia. Legenda tentang Alexander Agung menjadi populer setelah kematiannya pada tahun 323 SM. Kisah Alexander ditulis dalam bahasa Yunani setidaknya pada abad ke-3 SM, dimana seorang penulis Kristen Suriah menulis teks yang menggambarkan dirinya seperti berikut:

“Mengupas kisah Alexander putra Philip Macedonia, sebagaimana dia pergi sampai ke ujung dunia dan membuat sebuah gerbang besi, menutupnya guna menghadapi angin Utara, bahwa Hun (beragam anggapan, tapi juga merujuk pada orang Scythian) mungkin tidak keluar merusak negara”

Teks ini mengidentifikasi bangsa Hun dianggap sebagai Ya’juj dan Ma’juj atau Gog dan Magog. Apocalypse Pseudo-Metodius beredar luas dan terkenal diseluruh Eurasia Barat sejak abad ke-8 M, mempopulerkan kisah tembok Besar Alexander yang mengurung Gog dan Magog. Pada pertengahan abad ke-9 M, kaum terpelajar meyakini bahwa dinding Alexander yang mengurung Ya’juj dan Ma’juj berada di barat laut China. Pada abad ini berbagai spekulasi terpengaruh astronom Persia, geografi, dan matematikawan Al-Khawarizmi juga menempatkan dinding Alexander berada di barat laut China.

Studi Khalifah Bani Abbasiyah, Mencari Keberadaan Ya’juj Dan Ma’juj

Klaim dan spekulasi tentang pengurungan Yakjuj Makjuj dimana Dzulkarnain yang juga dikenal sebagai Alexander membangun tembok besar Cina, terangkum dalam sebuah laporan resmi Khalifah Abbasiyah Al-Watsiq. Dia merupakan salah satu orang yang paling kuat dan termasuk pemimpin terpelajar di abad ke-9 Masehi. Al-Watsiq bin Mu’tasim adalah seorang Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara tahun 842 sampai 847 M. Dia menggantikan ayahnya al-Mu’tasim Billah dan tertarik dalam hal pengetahuan, sehingga dirinya dianggap sebagai pelindung besar para sarjana, salah satunya seniman.
Al-Watsiq dikenal karena berbakat musik dan telah menyusun lebih dari 100 lagu. Selama masa pemerintahannya terjadi pergolakan, yang terbesar di Suriah dan Palestina. Pergolakan itu disebabkan bertambahnya jurang pemisah antara penduduk Arab dan prajurit Turki yang terbentuk oleh ayahnya, Al-Mutasim. Pada waktu itu pergolakan dapat diredakan, tetapi antagonisme antara kedua kelompok terus meluas dimana tentara Turki mendapatkan kekuasaan.
Ya’juj Ma’juj, dzulkarnain
Pada tahun 842, Khalifah Al-Watsiq mengirim Sallam, seseorang yang sangat mahir dalam bahasa untuk menyelesaikan misi dan menentukan ‘apakah Ya’juj dan Ma’juj telah menembus dinding Alexander?‘ Sallam melakukan perjalanan ke Tiflis (Tbilisi) di Georgia, Kaukasus dan melewati Darial Pass. Hal ini berdasarkan beberapa catatan sejarah Alexander menyebutkan bahwa dia membangun tembok setelah melalui Darial Pass. Bahkan Sallam tidak tertarik dengan reruntuhan tembok Kaukasus karena tidak sesuai seperti penggambaran yang diharapkan, kemudian dia menuju timur dan berjalan sejauh 3200 mil ke barat laut China.
Sallam akhirnya melaporkan hasil analisa kepada Khalifah Al-Watsiq, bahwa dia menemukan dinding Alexander di China sekitar 300 km dari Igu (saat ini Hami), mungkin di Yumenguan. Dia mnegatakan bahwa dinding yang mengurung Yakjuj Makjuj atau Gog dan Magog masih utuh, dinding yang dimaksud tak lain adalah Tembok Besar China. Dalam hal ini, menurut kisah Kristen Timur menyebutkan dinding Alexander tak lain adalah dinding Kaukasus, tapi lokasi di Cina memiliki dukungan yang sesuai dengan literatur Islam, termasuk lokasi dan penggambaran tembok besar yang kokoh (dibanding Kaukasus yang sudah runtuh sebagian).

Filosofis Tembok Besar Dzulkarnain

Dzulkarnain disebutkan berangkat ke Timur, ayat ini bisa menunjuk ke Korea, Cina, atau Cina bagian utara (Manchuria). disini dijelaskan bahwa kata ‘sesuatu yang melindungi’ diartikan sebagai baju atau penutup. Oleh karena itu, kelompok ini bisa dianggap sebagai perantau yang tidak memiliki rumah dan tinggal disebuah lembah datar. Mereka tidak punya tempat penampungan, payung atau apapun untuk melindungi dari sinar matahari. Mereka mungkin bekerja pada malam hari dan tinggal ditempat penampungan bawah tanah disiang hari.

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya (Al-Kahfi 18:90-91)
Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi, 18:93-94)

Selama perjalanan ketiganya, Dzulkarnain mencapai daerah antara Timur dan Barat, wilayah yang diartikan sebagai Himalaya. Dalam ayat ini juga menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti kata, mereka menggunakan bahasa yang tidak biasa untuk berkomunikasi. Dzulkarnain tidak berhasil berkomunikasi dengan suku ini, mungkin dia didampingi juru bahasa atau membawa orang-orang yang mengerti menyampaikan pesan.
Dalam catatan Badiuzzaman Said Nursi (Badiuzzaman Said Nursi, 16, Lema) juga menunjuk daerah yang sama, diaman dia menuliskan bahwa Dzulkarnain membangun tembok panjang antara dua gunung didekat Himalaya untuk menghentikan serangan terhadap rakyat yang tertindas, dan tembok ini sebagian besar berhasil menahan serangan.

Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj dan Ma’juj, lebar mukanya, kecil matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai (Hadits riwayat Imam Ahmad)

Pemahaman Ya’juj dan Ma’juj sebenarnya lebih difokuskan pada inti sastra, tidak seperti yang ditafsirkan banyak orang tentang penggambaran makhluk buas, raksasa, bertanduk, yang keluar dari bawah tanah. Dalam konsep sufisme, kisah Ya’juj dan Ma’juj menggambarkan perilaku atau sifat suatu bangsa yang mirip dengan sifat iblis. Itu sebabnya sastra menggambarkan sosok raksasa, buas, bertanduk, berapi dan dari dalam tanah, yang artinya bahwa bangsa Ya’juj dan Ma’juj memiliki sifat berkuasa, menindas, kejam, tidak mengenal konsep Ketuhanan sama sekali.
Dalam buku Beddiuzaman Said Nursi, dikutip dari buku Celaleddin Suyuti berjudul “El-Kesfu Fi Mucazeveti Hazin el-Ummeti El Elfe Ellezi Dellet Aleyh el-Asar“, bahwa kehidupan manusia hanya sampai tahun 1506. Menurut hadist, Al Mahdi akan hidup selama 40 tahun setelah muncul. Sementara hadits yang menyebutkan tentang Isa akan hidup di Bumi selama 40 hingga 45 tahun. Al Mahdi dan Isa akan hidup bersama dalam periode itu, sekitar 7 hingga 10 tahun. Imam Rabbani juga mengatakan bahwa Al Mahdi akan datang setelah melewati masa 1000 tahun kematian Nabi Muhammad. Menurut penjelasan Imam Rabbani, Al Mahdi akan datang antara tahun 1400-1600 Hijriah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya tentang ‘Manusia Di Bumi Hanya 7000 Tahun, Berakhir 1500 Hijriah‘, telah dijelaskan periode kehidupan manusia akan segera berakhir. Sebelum masa itu tiba, Ya’juj dan Ma’juj akan keluar menguasai seluruh dunia, tetapi banyak orang yang masih belum memahami makna sastra ini secara utuh. Telah dijelaskan wilayah yang dibatasi tembok, ketika perang dunia meletus mereka terlibat langsung sebagai negara yang menyebarkan faham atheis, tidak mengenal konsep Ketuhanan sama sekali.
Persepsi lain juga mengenal Ya’juj dan Ma’juj sebagai Beruang Merah dan Beruang Putih, sebuah lambang hewan yang hidup di cuaca dingin dan dataran tinggi. ‘…lebar mukanya, kecil matanya..’ sudah bisa dibayangkan dari suku dan bangsa asalnya, tepat dimana tembok itu berdiri dan membatasi dua wilayah. Tetapi, apakah semua manusia yang berciri-ciri tersebut termasuk golongan Ya’juj dan Ma’juj? Pemahaman ini sulit, karena tidak semua yang memiliki ciri tersebut tak mengenal Ketuhanan sama sekali.

“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha).

Awal puncak kejayaan mereka telah terjadi sejak abad ke-12 M, Genghis Khan menginvasi wilayah Timur Tengah dengan membawa ratusan ribu tentara terpilih ke Kerajaan Khawarezmia. Pada waktu itu kerajaan ini menguasai seluruh wilayah Timur Tengah, invasi ini diawali ketika pedagang Mongolia dibunuh dan harta mereka dirampas oleh panglima Khawarizmi. Genghis Khan berhasil menawan dan menghukum mati panglima tersebut dengan cara menuangkan logam panas ke matanya. Amarah Genghis Khan bertambah setelah cucu kesayangannya terbunuh, populasi rakyat Timur Tengah berkurang dan wilayah Mongolia bertambah luas sampai kebagian barat benua Asia. Ketika Genghis Khan kembali ke Mongolia, dia memerintahkan dua jendral terbaiknya untuk menyelidiki daerah barat dan membasmi sisa musuh sampai ke wilayah Russia. Kedua jendral memasuki daratan Eropa, merka mengalami konfrontasi dan menghancurkan pasukan Salib yang hendak menyerang wilayah Arab.

Berlanjut pada era kolonialisme, industri, perang dunia, hingga sistem baru yang diperkenalkan Karl Heinrich Marx mulai dikenal, sebuah faham komunis mulai diterapkan ke beberapa negara. ‘…Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai‘ kalimat ini lebih tertuju pada penyebaran anti Ketuhanan, faham yang mengalir deras tanpa henti memasuki seluruh dunia. Jika kita berfikir negara Komunis yang sebagian besar anti Ketuhanan, persepsi ini juga tidak benar. Hal ini dimaksudkan bahwa mereka lebih memfokuskan manusia untuk tidak mengenal sang Pencipta melalui teknologi, ekonomi, dan sosialisasi.

“Dan tidak terjadi hari kiamat sampai bangsa-bangsa (suku-suku) dari umat-Ku menjadi musyrik dan sampai bangsa-bangsa dari umatku menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada pada umatku 30 pendusta, masing-masing mereka mengaku bahwa dirinya adalah Nabi, dan aku adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelahku”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Bukti-bukti ini sudah jelas terlihat, dimana manusia diseluruh dunia disibukkan dengan berbagai teknologi, ekonomi menjadi hal utama, media juga termasuk didalamnya. Semua orang terlena, seakan-akan waktu dihabiskan pada konsep yang mereka dukung, sehingga manusia menganggap teknologi dan ekonomi sebagai Tuhan. Inilah makna sastra yang disebut sebagai Dajjal, dia tidak terlihat, tetapi bergerak terselubung melalui konsep yang didukung kaki tangannya, Ya’juj dan Ma’juj. Jika menafsirkan Ya’juj dan Ma’juj serta kemunculan Dajjal seperti yang tertulis dalam teks dan sastra kuno, disebutkan bermata satu yang diikuti ras-ras aneh seperti hewan (Dabbat Al-Ard), maka sampai Hari Akhir pun mereka tak akan pernah terlihat didepan mata.

Ya’juj Dan Ma’juj, Dua Suku Di Timur Dan Barat

Menurut Daniel Patrick dalam buku terbarunya ‘The Matrix of Gog: From the Land of Magog Came the Khazars to Destroy and Plunder‘, penaklukan dunia yang dilakukan Gog Magog dan pasukannya akhirnya akan membawa perang global. Penemuan arkeologi dan genetik terbaru cukup menakjubkan, pada kenyataannya,

Magog terletak di Rusia Selatan, juga berada di Caucusus. Gog adalah nama dari penguasa besar Kerajaan Khazaria, tanah Non-Semit, tak lain merupakan bangsa Turk yang mengaku sebagai orang Yahudi. Nubuat Yehezkiel 38-39 disebutkan: bahwa pada hari-hari terakhir, Gog, penguasa iblis dari tanah Magog, akan datang melawan Israel, yang membawa keluar bangsa-bangsa. Ia akan datang seperti badai dan akan menaklukkan negeri ini dari desa tidak berkubu, dan membawa mereka sebagai sandera.

Pada abad ke-8 M, orang-orang Pagan dari Khazaria mengaku telah masuk agama Yahudi, mengungsi ke Eropa untuk menyerang prajurit Rusia. Pada tahun 1948, orang-orang Khazaria pergi ke Palestina dimana mereka menaklukkan Palestina, negara yang pada awalnya damai kemudian mereka mendirikan kekuasaan baru, Kerajaan Israel. Orang-orang Khazaria yang mengaku sebagai Yahudi berasal dari tanah Magog, orang Israel tidak menyadari bahwa pembesar mereka telah disusupi yang terus membawa bangsanya kedalam konflik berkepanjangan. Nubuat yang dijelaskan dalam literatur Yahudi sebenarnya sudah terjadi, mereka dalam cengkraman.

Pada abad ke-18 M, sebuah sistem baru mulai dimunculkan melalui Karl Heinrich Marx, lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama Herschel keturunan para rabi, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal. Menurutnya, sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis. Apakah dia termasuk salah satu keturunan Khazaria yang hidup ditanah Israel?

Sebuah buku yang ditulis Muhammad Ali tahun 1992 berjudul ‘The Antichrist and Gog and Magog‘, dia menuliskan alasan Alkitab di balik konflik yang terjadi saat ini disekitar Kaukasus. Dalam Quran, begitupula Alkitab Kristen, dan teks terdahulu berbicara tentang Dajjal, Gog dan Magog (Ya’juj dan Ma’juj), Dabbat Al-Ard, sangat erat hubungannya dengan Hari Akhir. Quran menyebutkan Dzulkarnain, menurutnya adalah raja Persia (Darius 1, 521-485 SM) yang memperluas wilayah dari Laut Hitam ke pegunungan Armenia dan Azerbaijan, dari Tubal (Tblisi, Georgia) ke Mechech (Chechnya).

Gog dan Magog adalah dua suku dari keturunan Yafet anak Nuh, secara signifikan nama asli ‘Chechnya’ untuk menyebut diri mereka, Nokhchi, yang berarti orang-orang Nuh. Dan bahasa mereka, Nukh, dinyatakan sebagai Patriark kuno. Sementara Quran menegaskan bahwa Gog menandakan negara Timur Eropa, dan ulama mengidentifikasi Magog sebagai negara Barat di Eropa, yaitu Inggris. Muhammad Ali membuktikan bahwa sejak zaman kuno, patung Gog dan Magog telah berdiri didepan Guildhall London.

Dalam visi yang diungkap Damim Dari, setelah perjalanan selama sebulan ke pulau barat besar (Inggris), orang Nasrani yang masuk Islam bertemu dengan tokoh besar terbelenggu dalam gereja. Dia menyebut dirinya sebagai Masih Al-Dajjal dan berkata “Aku akan keluar ke seluruh dunia, kecuali Makkah dan Madinah.” Kekuatan Dajjal mencakup 70,000 orang terlatih dan profesional, Ali menunjuk pusat kendali bearada di benua Amerika dan Eropa. Dimana tanda-tanda Dabbat Al-Ard telah diterapkan dalam PBB, 10 tanduknya ada di 10 negara terkuat.

Dari semua analisa yang ditulis sarjanawan meliputi studi arkeologi, genetik, sastra teks dan literatur tiga agama, semua menyimpulkan hal yang sama. Sejak kapan, siapa dan dari mana asal Ya’juj Dan Ma’juj ataupun dan Gog Magog, maka saya kembalikan kepada Anda untuk menyimpulkan pendapat mereka. Seperti yang diriwayatkan Imam Rabbani, bahwa Al Mahdi akan datang setelah melewati masa 1000 tahun kematian Nabi Muhammad, ini sama artinya bahwa kemunculan Ya’juj Dan Ma’juj sudah dimulai pada waktu itu, di abad ke-12 M.

Referensi

  1. Embodiments of Evil: Gog and Magog: Interdisciplinary Studies of the “Other” in Literature & Internet Texts, by Ashgar Seyed-Gohrab, Faustina Doufikar-Aerts, Sen McGlinn. Amsterdam University Press – Iranian Studies from Leiden University Press, August 2011.
  2. Gog and Magog in early Syriac and Islamic sources: Sallam’s quest for Alexander’s wall, by Donzel, E J van, Andrea B. Schmidt, and Claudia Ott. Brill Academic Publishers, June 2010.
  3. Portents And Features Of The Mahdi’s Coming, by Harun Yahya , 2010
  4. The Antichrist and Gog and Magog, by Muhammad Ali, December 1992
  5. The Matrix of Gog: From the Land of Magog Came the Khazars to Destroy and Plunder, by Daniel Patrick, April 2014
  6. Gog and Magog in early Eastern Christian and Islamic sources. Sallam’s quest for Alexander’s Wall, by Central Asian Survey, Volume 31, Issue 1, 2012.
  7. Mural of siege warfare, Genghis Khan Exhibit, Tech Museum San Jose, 2010. Iranischer Meister, image courtesy of Wikipedia

sumber

Artikel Terkait :

Manusia Di Bumi Hanya 7000 Tahun, Berakhir 1500 Hijriah?


Dalam berbagai catatan sejarah dan nubuat teks terdahulu, telah banyak disebutkan tentang Hari Akhir, zaman dimana manusia akan di bersihkan seperti yang terjadi pada masa Nuh, atau mungkin kali ini tidak akan ada perulangan. Bagaimana sarjanawan menanggapi narasi ini, ketika mereka menemukan berbagai fakta yang tertulis dalam kitab-kitab suci dan naskah kuno. Kali ini, perhitungan menurut kalender Islam telah dipertanyakan kebenarannya, khususnya terkait dengan angka 1000 tahun dan 7000 tahun.
Walaupun ada beberapa pendapat yang menentang kebenaran perhitungan ini, tetatpi tidak ada salahnya jika kita melihat narasi yang disampaikan menurut teks Quran dan Hadist, dimana Harun Yahya menjelaskannya secara terperinci dalam buku yang pernah diterbitkan tahun 2010. Adnan Oktar lahir di Ankara pada tahun 1956, dia juga dikenal sebagai Harun Yahya, seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk menceritakan tentang keberadaan dan ke-Esaan Allah untuk menyebarkan nilai moral Quran. Pada tahun 1986, Adnan Oktar pernah ditangkap tanpa dasar hukum yang sah karena telah menyatakan “Saya bagian dari masyarakat Turki, dan bangsa Ibrahim” dalam sebuah wawancara yang terbit di surat kabar. Pada akhirnya, tuduhan ini berdasar dan fitnah tentang dirinya yang mulai muncul diberbagai media.

Kehidupan Manusia Di Bumi Berakhir 1500 Hijriah

Jika Bumi bisa berbicara, jika alam mengisyaratkan kepada kita, bahwa usiaku (Bumi) tak lama lagi akan berakhir. Anggapan ini sebenarnya tidak bisa dikesampingkan begitu saja, bahkan sejarah yang telah ditemukan diluar konteks literatur Islam telah menjelaskan prihal yang sama, dan ini bukan suatu hal kebetulan. Dalam hal masalah tanggal ataupun waktu, memang benar tidak seorangpun mampu memprediksi kapan Hari Akhir tiba, seperti yang dijelaskan dalam Quran:

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (Al-Ahzab, 33:36)

Ketika manusia tidak mampu melihat apa yang akan terjadi di hari esok, Dia telah memberikan tanda-tanda Kebesaran-Nya yang terlihat pada alam maupun catatan terdahulu. Yang menjadi pertanyaan mendasar, apakah periode manusia hidup di Bumi hanya tujuh ribu tahun dan berakhir hingga tahun 1500 Hijriah?

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al-Haj, 22:47)

Rasulullah (saw) mengatakan: “Kehidupan dunia seperti tujuh hari pada hari-hari akhirat. Allah Ta’ala, mengatakan, satu hari sama seperti seribu tahun di sisi Tuhanmu.” (Anas bin Malik)

Apa maksud dari angka tujuh dalam literatur Islam? Tujuh hari sama dengan tujuh ribu, dan benarkah kehidupan manusia di Bumi hanya melewati masa 7000 tahun? Riwayat sejarah banyak mengaitkan periode waktu tujuh ribu tahun mungkin didasarkan pada peristiwa penting dalam sejarah umat manusia. Banyak sarjanawan menduga bahwa semua ini merupakan awal kalender berdasarkan waktu kehidupan manusia di bumi setelah banjir besar Nuh, dimana sejarah peradaban manusia hancur dan mengulang dari titik paling awal. Tentunya dalam catatan sejarah juga ditemukan kesamaan, seperti Siklus Yuga dan Kalender Maya dimana terjadinya bencana besar diperkirakan waktu yang sama.
Bumi hancur, 7000 tahun, 1500 hijriah
Mungkin perhitungan manusia hidup di Bumi selama 7000 tahun terjadi sebelum dan sesudah titik tertentu dalam sejarah umat manusia. Dengan kata lain jika kehidupan dunia hanya tujuh ribu tahun, maka waktu akhir dari tujuh ribu tahun sedang berjalan, akhir milenium yang saat ini kita jalani. Beberapa bukti telah dijelaskan dalam narasi, salah satunya narasi Imam Rabbani.

Imam Rabbani mengatakan dalam narasi Mektubat, bahwa sekitar 124 ribu nabi telah datang dan pergi (Mektubat imam Rabbani 1/354). Riwayat lain mengatakan, ketika 1000 tahun telah berlalu adalah waktu ketika seorang nabi tertinggi muncul… (Mektubat-i Rabbani, 1/495).

Dimulai dari Adam, 124 ribu nabi telah muncul hingga yang terakhir jatuh pada Nabi Muhammad. Jadi, seorang nabi muncul setiap 100 tahun sekali, dan seorang nabi tertinggi muncul setiap 1000 tahun sekali. Jika berasumsi pada salah satu nabi yang datang setiap 100 tahun sekali sejak Adam sampai pada Nabi Muhammad, maka seharusnya waktu telah berlalu selama dua belas juta empat ratus ribu tahun (124 ribu x 100).

Ada beberapa kejanggalan yang mungkin tidak bisa diterima begitu saja karena tidak sesuai dengan fakta sejarah. Telah disebutkan 124 nabi telah muncul dihitung sejak nabi Muhammad, tapi diperhitungkan masa waktu Adam telah melewati 12 juta tahun sangat bertentangan dengan bukti sejarah. Sejarawan telah menafsirkan bahwa bencana banjir besar terjadi sekitar 5000 tahun lalu, 3000-3500 SM, dan jarak antara Adam dan Nuh sekitar 1200 tahun. Artinya, keturunan Adam sudah melewati rentang waktu lebih dari 6200 tahun kalender Masehi. Hal ini juga ditafsirkan dalam beberapa teks kuno, seperti siklus Kali Yuga dan kalender Maya, siklus yang mengulang waktu dari awal.

Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam yang hidup sekitar tahun 781 hingga 855 M, (164 – 241 H), lahir di Marw kota Baghdad, Irak, atau lebih dikenal sebagai Imam Hambali. Dalam narasi yang tertulis pada Al-Burhan fi’ ‘Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman, 89, Imam Hambali mengatakan, ‘lima ribu enam ratus tahun telah berlalu di bumi…‘. Dengan kata lain, Nabi Muhammad hidup ketika waktu manusia di Bumi memasuki masa 5600 tahun. Berdasarkan narasi diatas, periode kehidupan manusia di Bumi hanya berkisar 1400 tahun (7000-5600) menurut kalender Islam.

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdullah). Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan. (HR abu Dawud 9435)

Riwayat dan teks narasi diatas telah jelas disebutkan, ketika 1400 tahun sesuai kalender Islam merupakan tahun-tahun Al Mahdi akan muncul. ‘Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut…‘ Penafsirannya, bahwa satu hari Allah (1000 tahun) akan dipanjangkan-Nya hingga setengah hari lagi (500 tahunn), hari kiamat telah ditunda untuk membiarkan Al Mahdi melakukan tugasnya.

“… Kalimat pertama menjelaskan angka seribu lima ratus (1500) sebagai waktu kelompok pejuang Islam di akhir zaman, dan kalimat kedua menunjukkan angka 1506 (1506) sebagai tanggal kemenangan pertempuran Islam. Hal itu berarti, bahwa dia akan terus berupaya dan mungkin kemenangan sampai tanggal ini (1506)”. (Sikke-i Tasdik-i Gaybi, 46)

Begitupula narasi yang disampaikan Ibnu Abbas, bahwa kehidupan di Bumi adalah tujuh hari, satu hari seperti seribu tahun dan Rasulullah saw diutus pada akhir hari itu. Imam Rabbani juga mengatakan bahwa Al Mahdi akan datang setelah melewati masa 1000 tahun kematian Nabi Muhammad.  Menurut penjelasan Imam Rabbani, Al Mahdi akan datang antara tahun 1400-1600 Hijriah.
Kehidupan manusia di Bumi melebihi 1000 tahun, tetapi tidak melebihi 1500 tahun. Seperti yang disampaikan Beddiuzaman Said Nursi dikutip dari buku Celaleddin Suyuti berjudul “El-Kesfu Fi Mucazeveti Hazin el-Ummeti El Elfe Ellezi Dellet Aleyh el-Asar”, bahwa kehidupan manusia hanya sampai tahun 1506. Menurut hadist, Al Mahdi akan hidup selama 40 tahun setelah muncul. Sementara hadits yang menyebutkan tentang Isa akan hidup di Bumi selama 40 hingga 45 tahun. Al Mahdi dan Isa akan hidup bersama dalam periode itu, sekitar 7 hingga 10 tahun.
Spekulasi yang disampaikan Harun Yahya tetap dipertanyakan, apakah perhitungan ini memang benar atau sama sekali ‘terlalu berlebihan’ dalam menanggapi narasi dan penafsiran Quran. Sejauh ini, bukti yang diberikannya cukup menarik, tidak hanya menjelaskan secara rinci tentang kapan kemunculan Al Mahdi, tetapi juga memperhitungkan akhir tahun kehidupan umat manusia di Bumi. Saat ini kalender Islam sudah memasuki 1436 Hijriah, jika mengikuti narasi yang disebutkan diatas, maka hanya tersisa 64 tahun Hijriah.

Dan jika benar demikian, maka Yakjuj Makjuj ataupun Gog dan Magog seharusnya sudah keluar. Dan saya menemukan sebuah makalah yang terbit tahun 2012 lalu, disebutkan bahwa Yakjuj Makjuj sebenarnya sudah keluar dan berbaur dengan manusia. Analisis berdasarkan sebuah catatan resmi Khalifah Abbasiyah Al-Watsiq, salah satu orang yang paling kuat dan termasuk pemimpin terpelajar di abad ke-9 Masehi. Makalah ini akan kita bahas dalam artikel selanjutnya, siapa sebenarnya Yakjuj Makjuj yang muncul di akhir zaman?

Referensi

  • Portents And Features Of The Mahdi’s Coming, by Harun Yahya , 2010
  • Sikke-i Tasdik-i Gaybi, by Bediuzzaman Said Nursi
  • English translation of Maktubat Imam Rabbani, Mujaddid Alf sani, Sheikh Ahmad sirhindi
  • Al-Burhan fi’ ‘Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman
  • Dead Planet, image credit to RoyKorpelnl

Sumber :

Ameno-Ukifune, Kendaraan Anti Gravitasi Jepang Kuno


Tidak hanya di Mesir, Sumeria, Babilonia, bahkan Jepang juga memiliki cerita menarik tentang peradaban kuno. Dalam naskah kuno jepang, Dokumen Takenouchi menceritakan tentang keberadaan kenderaan anti gravitasi yang disebut Ameno-Ukifune dan digunakan Sumera-Mikoto untuk mengelilingi dunia selama puluhan tahun.

Artikel ini melengkapi uraian naskah kuno Jepang yang dietulis para dewa, Dokumen Takenouchi, yang telah dijelaskan dalam posting sebelumnya berjudul ‘Dokumen Takenouchi, Misteri Naskah Kuno Jepang Ditulis Dewa‘ dan posting kedua ‘Benarkah Alexander Agung, Adam, Musa Dan Isa, Pernah Kunjungi Jepang?‘. Ulasan ini berdasarkan sebuah buku yang diterbitkan ulang oleh Wado Kosaka, sebuah naskah kuno yang menceritakan sejarah awal alam semesta hingga memasuki awal tahun Masehi. Sayangnya, Dokumen Takenouchi disita pemerintahan Jepang dan sampai saat ini keberadaannya masih misterius, sehingga tidak semua naskah selesai diterjemahkan.

Kendaraan Anti Gravitasi, Ameno-Ukifune

Sumera-Mikoto sering melakukan perjalanan keseluruh dunia, menggunakan kenderaan anti gravitasi yang disebut Ameno-Ukifune (kenderaan mengambang). Dokumen Takenouchi menyebut wilayah yang pernah disinggahi dan diberi nama Hane (angin). Banyak tempat di Jepang memiliki nama yang menyertakan kata Hane, bahkan saat ini salah satu bandara di Tokyo diberi nama Haneda.

Dokumen Takenouchi juga menyinggung piramida, baik struktur buatan manusia atau bukit manusia yang didirikan Sumera-Mikoto digunakan untuk berkomunikasi dengan para Dewa Surgawi. Teks menyebutkan pembangunan Hiramito (kuil) untuk menyambut kedatangan Dewa Matahari.

Ketika melewati masa ke-3 milar tahun pemerintahan Amehinomoto-hinohimi-Nushi Sumera-Mikoto, Sumera-Mikoto memerintahkan agar Ohunabara-norifunetsurishi, Ametoyonori-funetsukurishi, Amehitatsu-funeuetsushi-Nushi, untuk membuat kapal besar dan kecil. Delapan kapal besar dan enam belas kapal kecil dibangun untuk keliling dunia, Sumera-Mikoto sendiri naik Ameno-Ukifune dan mendarat di Zhentaing-Cina. Mereka mengunjungi Baoding dimana Dewa Banho menawarkan masakan Cina kepada Sumera-Mikoto, kemudian Sumera-Mikoto menunjuk dia menjadi Raja China. Dia juga menunjuk Raja masing-masing wilayah pada saat kunjungannya.

Rute perjalanan dunia yang pernah dilakukan oleh generasi ke-3, Amehinomoto hinohimi nushikami Sumera-Mikoto, tertulis dalam dokumen tersebut antara lain:
  • Cheng yang (dekat Nanking, Cina)
  • Baotin (dekat Peking dan Ten-shin, Cina)
  • Uenetia Italia (Venice, Italia)
  • Neneahoma pelabuhan Afrika (dekat Gennea Homa)
  • Melbourne, Australia
  • Rapurata, Amerika Selatan
  • Nitoaku, Amerika Utara Kanada (Ahioamakuri, tanah Kanashi)
  • Otsuki, tanah Hitachi, Jepang
  • Tenshin-Jinso-Isshin-gu di Toyama, (Kuil Dewa Surgawi dan Leluhur Manusia)
Ameno-Ukifune adalah salah satu elemen yang memungkinkan Sumera-Mikoto untuk memerintah seluruh dunia sendirian. Ameno-Ukifune memiliki empat bentuk kenderaan anti gravitasi berbeda yaitu disk, roket, kapal dan jet, digunakan tergantung pada tujuan. Lima ras manusia antusias menyambut Sumera-Mikoto saat mereka turun dari langit, seperti menyambut kedatangan Tuhan.

Ameno-Ukifune

Ameno-Ukifune adalah objek yang paling penting yang menunjukkan bahwa Sumera-Mikoto adalah keturunan langsung dari manusia, seperti Dewa dari Surga (Hidama). Sementara bentuk kenderaan anti gravitasi yang lebih praktis digunakan oleh pejabat pemerintah untuk menjalani tugas administrasi. Perjalanan kesemua bangsa berlangsung selama bertahun-tahun dan termasuk banyak menteri yang mendukung pemerintahan Sumera-Mikoto, dimana Jepang merupakan pusat kantor pemerintahan pada masa itu.

Ketika Sumera-Mikoto keliling dunia dengan membawa beberapa menteri, Jepang kekurangan tenaga dan pertahanan melemah. Pada saat itu Jepang sedang mengalami masa transisi dan ketidakstabilan, begitupun Sumera-Mikoto terus berjalan tanpa merasa cemas. Jenis jet Ameno-Ukifune digunakan untuk kecepatan maksimal, dan selama keliling dunia beberapa model Ameno-Ukifune merapat ke kapal induk dan siap untuk digunakan.

Referensi

Benarkah Mesias, Sosok Penyelamat Keturunan Daud?


Salah satu yang menarik dalam fragmen naskah Laut Mati (4Q521) bertema Wahyu Mesianik. Naskah ini berisi tiga maksud sangat signifikan untuk membandingkan keyakinan apokaliptik dan harapan masyarakat Qumran dengan gerakan Kristen awal yang muncul. Didalamnya berbicara tentang Mesias, juruselamat dunia yang akan memerintah langit dan bumi, menyebutkan harapan kebangkitan orang mati pada masa Mesias, berisi paralel lisan yang tepat dengan Injil Matius dan Lukas untuk mengidentifikasi tanda-tanda dari Mesias.
Mesias (Masiah) adalah seseorang yang berarti ‘diurapi’, dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata Kristos dan dari inilah dikenal dengan sebutan Kristus yang menjadi salah satu gelar Yesus. Mesias berasal dari pengertian Yahudi mengenai seorang tokoh pada masa depan yang akan menjadi wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi.
Konsep mesianik dikenal dalam agama-agama yang berakar dari ibrahim, yaitu Kekristenan dan Islam. Didalam Kekristenan, Yesus diyakini sebagai Mesias untuk membawa keselamatan dari Allah kepada manusia. Dalam Islam konsep Mesianik terkait dengan Isa yang akan datang pada hari Akhir untuk mengalahkan Dajjal, sosok yang dikaitkan dengan Imam Mahdi, tetapi pemahaman ini tidak terdapat dalam Quran, melainkan bersumber dari Hadis.

Mesias Dalam Literatur Agama

Konsep Mesias mengalami perubahan dengan bertambahnya aspek pengharapan pada masa depan setelah masa pemerintahan Raja Daud berakhir. Pada masa-masa itu, raja-raja yang memerintah Israel tidak mampu memerintah sebaik Daud, bahkan membawa Israel kepada kemunduran dan keterpecahan, kecuali Sulaiman. Daud digambarkan sebagai sosok pemimpin Israel untuk generasi-generasi selanjutnya dengan ciri-ciri khusus, berasal dari garis keturunan Daud, seorang penyelamat dan raja pemenang yang akan memimpin umat Israel, dan dia memiliki kemuliaan yang melebihi Daud.
Kristen awal jelas terfokus pada Mesias tunggal ataupun Kristus, keturunan raja Daud dari Nazaret. Mereka menganggapnya sebagai Mesias, utusan Allah yang akan kembali berkuasa dan mulia untuk memerintah langit dan bumi. Mereka mengingatnya sebagai salah satu orang yang memiliki kekuasaan atas roh-roh jahat, penyakit dan kematian, dan bahkan lebih dari kekuatan alam.
Sermon, isa, mesias
Tapi orang-orang di Qumran, mereka mengaitkannya dengan tokoh khusus lain yang hidup di zaman Mesias. Yohanes Pembaptis adalah imamat Harun dan dihormati sebagai Elia, tanda pasti bahwa Hari Akhir sudah dekat. Dua Belas rasul diharapkan duduk diatas takhta, selama dua belas suku Israel dikumpulkan kembali dalam aturan Mesianik. Dalam buku karya Geza Vermes yang menafsirkan naskah Laut Mati, mengatakan bahwa naskah sangat jelas menyebutkan ide dan menyimpulkan bahwa Kebangkitan tidak berperan dalam eskatologi Qumran, pandangan ini umumnya tercermin dalam berbagai studi Qumran standar.
Dalam mencari referensi yang menjelaskan kebangkitan orang mati, sejarawan alkitab menganggapnya sangat penting. Banyak pemikiran selama beberapa dekade terakhir mendiskusikan tetang orang-orang yang menyusun Naskah, mereka percaya pada doktrin Yahudi tentang kebangkitan orang mati. Berbagai kelompok Yahudi selama periode Bait Suci Kedua memperdebatkan kisah akhirat, dimana referensi pertama dengan ide orang-orang mati terungkap pada bagian-bagian yang terakhir, salah satunya Alkitab Ibrani.

Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu. Dan orang-orang bijaksana  akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya (Daniel 12:1-3).
Seseorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ulas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat: matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang di gilap, dan suara ucapnya seperti gaduh orang banyak (Daniel 10:5,6).

Pemikiran membangkitkan orang mati muncul dikalangan Yahudi tertentu sejak abad 2 SM hingga abad ke-1 Masehi. Bukti ini tercermin dalam Apocrypha dan dalam Perjanjian Baru, jelas bahwa Kristen awal meyakini Mesias sebagai kebangkitan Yesus. Para pengikut Isa menyebutnya sebagai Orang Yang Kudus, mereka mengharapkan untuk memerintah bangsa-bangsa bukan Yahudi dan bahkan menghakimi malaikat-malaikat.

Penafsiran Mesias Dalam Naskah Laut Mati (4Q521)

Berikut ini merupakan terjemahan naskah Laut Mati (4Q521) yang tertulis dalam buku Robert Eisenman and Michael Wise. Beberapa kata ataupun kalimat terputus disebabkan fragmen sudah rusak dan tidak terbaca.

Naskah Laut Mati (4Q521)

Fragmen 1

…Langit dan bumi akan mematuhi Mesias-Nya, … dan semua yang ada di dalamnya. Dia tidak akan menyimpang dari perintah-perintah Yang Kudus. Mengambil kekuatan dalam pelayanan-Nya, (kau) yang mencari Tuhan. Kau tidak akan menemukan Tuhan dalam hal ini, semua orang menunggu dengan sabar didalam hatinya? Sebab Tuhan akan mengunjungi Yang Saleh (Hassidim) dan Yang Benar (Zaddikim) akan memanggil namanya. Selama Lemah lembut akan melayang-layang Roh-Nya, dan kesetiaan akan Dia kembalikan melalui kuasa-Nya. Ia akan memuliakan Yang Saleh (Hassidim) dari Tahta Abadi. Ia akan melepaskan tawanan, membuat yang buta melihat, membangkitkan yang tertindas. Selamanya akan saya berpegang teguh kepada-Nya…, dan akan aku percaya pada kesalehan-Nya (Hesed, Rahmat), dan Kebaikan-Nya… Kekudusan tidak akan menunda… Dan adapun keajaiban yang bukan pekerjaan Tuhan, ketika Dia… maka Dia akan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan menjadi Lemah Lembut yang mengumumkan kabar gembira. … Dia akan memimpin Yang; Dia akan menggembalakan mereka; Dia akan melakukan… dan semua itu… dan aturan akan ditempuh. Aku akan membebaskan mereka… Di antara laki-laki yang merasa terhormat atas anak-anak… aku akan menyanyi(?) Berkat Tuhan dengan menguntungkannya… dan pergi ke pengasingan dimana setiap… Dan semua orang Israel berada di pengasingan…

 Fragmen 2

…warisan mereka… darinya… dia tidak akan melayani orang-orang ini… kekuatan… mereka akan menjadi besar. Dan… Dan… Dan… Dan yang… Mereka mengumpulkan para bangsawan… Dan bagian timur langit… Dan untuk semua ayah kalian… … mereka akan bersinar… seorang pria… Yakub… dan semua pesuruhnya-Nya yang Kudus… dan semua yang dia diberkati… Tuhan akan berbicara… Tuhan dalam kekuatannya… mata… mereka akan melihat semua… dan segala sesuatu didalamnya… dan semua mata air dan kanal-kanal… dan mereka yang membuat… untuk anak-anak Adam… diantara orang-orang terkutuk. Dan apa yang… peramal umat-Ku… untukmu… Tuhan… dan Dia membuka…

Naskah Laut Mati (NASI – 4Q285)

Fragmen 1

… orang-orang Lewi, dan setengah… sangkakala, ditiupkan pada mereka…  Khitim, dan…

Fragmen 2

… dan melawan… demi Nama Mu… Michael… dengan Rekayasa… hujan… dan hujan musim semi… sebagai besar sebagai gunung. Dan bumi… dengan mereka yang tidak masuk akal… dia tidak akan memandang dengan memahami… dari bumi. Dan apa-apa… Mulia. Ini akan disebut… kau… dan di tengah-tengahmu… 

Fragmen 3

… sampai… Kau (Allah)… dan di Surga… dalam waktu, dan… jantung, untuk…, bukan… semua… untuk Allah… 

Fragmen 4

… dari tengah-tengah kelompok… Kekayaan dan rampasan… dan makananmu… bagi mereka, kuburan… terbunuh mereka … kejahatan akan kembali … dalam kasih sayang dan… Israel… 

Fragmen 5

… Kejahatan akan didera… Pemimpin masyarakat dan seluruh Israel… atas gunung-gunung… Khitim .. Pemimpin kelompok sejauh laut besar… sebelum Israel pada waktu itu… ia akan berdiri menentang mereka, dan mereka akan mengumpulkan mereka… mereka akan kembali ke tanah kering pada waktu itu… mereka akan membawa dia ke hadapan pemimpin kelompok.

Fragmen 6

… Nabi Yesaya, rimba akan ditebang dengan kapak dan Libanon akan jatuh oleh satu keperkasaan. Seorang utusan akan bangkit dari akar Isai, dan rintisan dari akarnya akan berbuah…. keturunan Daud. Mereka akan masuk ke dalam penghakiman dengan… dan mereka akan dihukum mati pemimpin kelompok, keturunan Daud… dan dengan melukai, dan imam tertinggi akan memerintahkan… orang yang mati terbunuh dari Khitim …

Salah satu naskah Laut Mati merupakan yang paling penting dalam menceritakan tentang Mesias, dan banyak tema yang muncul dalam teks-teks Qumran lainnya. Dalam naskah ini terdapat penekanan kosakata Orang Yang Benar (Zaddikim), Yang Saleh (Hassidim), Yang Lemah Lembut (‘Anavim), dan Mukminin (Emunim). Istilah ini muncul diseluruh corpus dan tercatat sebagai sastra sindiran.

Dua kosakata pertama berisi mistisisme Yahudi, dua kosakata terakhir sering disebut dalam kekristenan. Tema yang muncul diantaranya adalah ‘Roh melayang diatas Yang Lemah Lembut’ dan ‘mengumumkan kabar gembira kepada Yang Lemah Lembut’, serta ‘yang dimuliakan di Tahta Abadi’, tema ini sama seperti yang tercatat dalam Perjanjian Baru dan Kabbalah, dimana keduanya juga sejajar dalam Dokumen Damaskus.
Tidak hanya sindiran paralel membenarkan hubungan antara anak-anak Zadok dengan Zaddikim, tetapi penamaan tema penting baik dalam Kisah Para Rasul, misalnya kosakata Roh Kudus. Jika fragmen naskah ini dipertimbangkan, maka ada beberapa kiasan dalam menyebutkan orang yang diutus atau Mesias, mungkin mengacu pada seorang imam yang melayani Bait Allah.
Dalam hal bahasa, diidentifikasi Isa terlihat dalam naskah, tapi ada kata demi kata diantara literatur Yahudi dan masih digunakan sampai hari ini ‘Kau akan membangkitkan orang mati, menjunjung tinggi yang tertindas, menyembuhkan orang sakit, melepaskan tawanan, menjaga iman mereka yang tidur dalam debu…’. kalimat ini merujuk kepada Allah. Referensi yang menghubungkan kalimat ‘membangkitkan orang mati’ terkait Isa banyak digunakan penerjemah naskah Laut Mati. Meskipun ada beberapa referensi naskah lain merujuk pada citra indah berkaitan dengan cahaya tempat tinggal Surgawi.

Tetapi, naskah Laut Mati tetap tidak menyelesaikan upaya sejarawan untuk mengidentifikasi siapa saja kelompok yang terlibat dalam penulisan naskah? Apakah kelompok yang dimaksud termasuk Essenes, Saduki, Zelot, Farisi, Nasrani, Ebionit, atau naskah ini merupakan hasil perpaduan kelompok tersebut? Siapa sebenarnya sosok Mesias?

Sumber naskah Qumron berkaitan dengan tradisi bersama antara masyarakat Yohanes Pembaptis dan para pengikut awal Isa. Hubungan yang erat antara Yohanes Pembaptis dan masyarakat menghasilkan naskah Laut Mati telah dibuktikan sarjanawan. Melalui fragmen Laut Mati, ditambah dengan tradisi awal Yudaisme Palestina mengenai tanda-tanda Mesias, kesemuanya muncul dengan kesamaan harapan, dengan cara yang sangat mirip, dan umumnya teks-teks kenabian dari Alkitab Ibrani dan literatur Yahudi sangat terkait.

Referensi

  • Dead Sea Scrolls Uncovered – First Complete Translation and Interpretation, by Robert Eisenman and Michael Wise, 1992.
  • ‘On Resurrection’ and the Synoptic Gospel Tradition: A Preliminary Study, by James Tabor and Michael Wise, 1992.
  • A 19th-century painting depicting the Sermon on the Mount by Carl Bloch, via Wikimedia Commons.