5 Perang ini Dimenangkan Umat Islam Saat Ramadhan


[IMG]

Ramadhan menjadi bulan penting bagi umat Islam, terutama secara spiritual sebagai sarana menuju peningkatan keimanan dan ketakwaan.

Selain upaya individu untuk menjalankan Ramadhan dengan maksimal, komunitas, bahkan otoritas pemerintahan, bisa juga berperan menciptakan suasana Ramadhan yang kondusif agar perbaikan komunal bisa diwujudkan.

Namun Ramadhan kerap disalahpahami, sebagai saat bermalas-malasan. Padahal, fakta sejarah tidak mengatakan demikian. Justru, sejumlah capaian gemilang berhasil ditorehkan oleh Islam, ketika sedang berpuasa Ramadhan.

Lembaga Riset Islam Internasional (Islamic Research Foundation International), di laman resminya merangkum beberapa penaklukan yang penting bagi kaum Muslim dan semuanya terjadi saat Ramadhan.

1. Perang Badar, Kemenangan Perdana Islam
Perang ini berlangsung pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriyah. Lokasi peperangan berada di Sumur Badar, sekitar 80 mil Barat Daya Madinah.

Meski awalnya hanya diniatkan untuk mencegat kafilah dagang musyrik Makkah, pertempuran di Badar tak terelakkan.

Walau cuma didukung dengan kekuatan personil sebanyak 313 pejuang, umat Islam, atas seizing Allah SWT mampu mengalahkan kafir Quraisy dengan 1000 personel.

2. Perang Qadisiyah, Takluknya Kekaisaran Persia
Perang ini menjadi kunci penting penaklukkan umat Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khatab, atas wilayah Persia dan sekitarnya yang dikuasai oleh Kekaisaran Sassania Persia saat itu.

Perang yang terjadi di Qadisiyah, Irak, pada Ramadhan 15 Hijiriyah atau sekitar 636 M ini, ini dari kubu Islam dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash. Sedangkan pihak Sassania di bawah komando Rostam Farrokhzad dan Thulaihah al-Asadi.

Meski kubu Islam hanya diperkuat dengan 70 ribu pasukan sementara pihak Persia ditopang dengan 130 ribu personel, kemenangan ada di pihak Islam.

3. Penaklukkan Andalusia yang Fenomenal
Peristiwa bersejarah ini menjadi salah satu capaian gemilang pada masa Dinasti Umayyah.

Di bawah komando Jendral Taric el Tuerto (sang mata satu), julukan untuk Thariq bin Ziyad, umat Islam berhasil menaklukkan wilayah Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada 711 M atau Ramadhan 92 Hijriyah.

Pada 19 Juli 711 M, dalam Pertempuran Guadalete, penguasa Kerajaan Visigoth, Raja Roderic, terbunuh. Kemenangan ini menjadi awal masa emas Andalusia.

4. Perang Hittin, Pukulan Telak untuk Tentara Salib
Perang ini menjadi luka selama beberapa dekade bagi Tentara Salib. Hittin, dua bukit yang terletak di Tiberias, sekarang masuk wilayah Israel, menjadi saksi kegagahan dan keberanian tentara pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi.

Dalam pertempuran yang terjadi pada 4 Juli 1187 atau Ramadhan 682 H ini, sebagian besar kekuatan tentara salib terbunuh dan ditawan termasuk Raja Guy dari.

Kota Yerussalem yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Yerussalem berhasil direbut dan perang ini memicu meletusnya Perang Salib Ketiga.

5. Perang Ain Jalut, Ketika Pasukan Tartar Dipecundangi
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Tentara Tartara Mongol, di bawah pimpinan Kitbuqa, akan mengalami kekalahan telak dalam sepanjang ambisi invasi mereka menguasai wilayah Asia Tengah.

Di Ain Jalut, dataran luas yang dikelilingi perbukitan di bagian barat, Palestina Utara, pada 3 September 1260 atau Ramadhan 685 H, tentara Dinasti Mamluk (Mesir) yang dipimpin oleh Qutuz dan Baibars berhasil menaklukkan tentara Mongol.

Kemenangan ini dicatat dengan ‘tinta emas’ dalam sejarah Islam. Kehebatan Pasukan Mamluk, berhasil mengalahkan kedigdayaan Pasukan Mongol. Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dieksekusi.

sumber

Artikel terkait :

Hikayat Kota yang Menyimpan Tongkat Musa


[IMG]

ISTANBUL, yang sebelumnya bernama Byzantium lalu Constantinople, dibangun sekitar 658 sebelum Masehi oleh bangsa Megarians, salah satu koloni Yunani. Kota ini persis berada di tepi Tanduk Emas (Golden Horn) dan berbatasan langsung dengan selat Bosporus yang memisahkannya dari benua Asia di timur.

Kata Byzantium diambil dari nama pemimpin Megarians, Byzus yang berasal dari Megara, sebuah wilayah di dekat Athena. Pada 326 M, Kaisar Romawi, Constantine, memilih kota ini sebagai pusat kekuasaannya di timur dan mengubah Byzantium menjadi Constantinople, serta memperluas wilayah kota hingga melingkupi tujuh bukit di sekitarnya.

Constantine juga yang memulai pembangunan benteng raksasa yang mengelilingi pusat kekuasaannya di Istana Topkapi. Hingga hari ini reruntuhan benteng itu masih berdiri, melingkar dari Jalan Alemdar, lalu memotong Aya Sofia hingga ke ruas Jalan Kennedy, lalu ke arah Sarayburnu di utara.

Menurut Roger Crowley dalam buku 1453: the Holy war of Constantinople and the Clash of Islam and the West, keinginan Islam merebut Constantinople sama tuanya dengan usia agama yang lahir di jazirah Arab itu.

Pembawa ajaran Islam, Muhammad SAW pada 629 M mengirim sepucuk surat untuk Kaisar Heraclius di Constantinople. Dalam suratnya, Muhammad mengajak Heraclius meninggalkan paganisme (penyembahan berhala) dan mengimani satu Tuhan. Namun Heraclius memilih menolak seruan itu. Muhammad tak memaksa.

Pada masa selanjutnya, Islam berkembang luas dengan cepat. Pada era 630-an, Damaskus di Syria menjadi pusat kekhalifahan Islam yang dipimpin Dinasti Muawiyyah. Tahun berikutnya Islam diterima di Jerussalem, Mesir (641), dan Armenia (653). Dalam dua dekade selanjutnya seluruh Parsia mengakui Islam.

Pada 669, sekitar 40 tahun setelah Muhammad wafat, Muawiyyah mengirimkan pasukan ke Constantinople. Tahun selanjutnya, Muawiyyah menaklukan Dardanelles dan Tanjung Cyzcus, di selatan Constantinople. Sepanjang 670-an kapal-kapal perang Muawiyyah berlayar bolak-balik menyusuri Bosporus, dari Laut Hitam di utara ke Laut Marmawa di selatan, begitu seterusnya.

Di akhir dekade itu, Constantinople menembakkan berton-ton batu api ke arah kapal-kapal perang Muawiyyah. Serangan ini menghasilkan kerugian besar di pihak Muawiyyah. Tak ada jalan lain baginya, kecuali menarik pasukan dan, untuk sementara, menyimpan mimpi tentang Constantinople hingga ia wafat di tahun 679.

Keinginan Muawiyyah menaklukan Constantinople baru terlaksana 800 tahun kemudian. Senin, 29 May 1453, pasukan Ottoman dari Anatolia yang dipimpin Fatih Mehmed II mendobrak pertahanan Constantinople. Pertarungan berjalan dengan sengit. Kedua belah pihak kehilangan ribuan tentara.

Setelah menaklukan Constantinople, Mehmed II yang kala itu baru berusia 21 tahun meminta agar pasukannya tak membantai warga kota serta tak merusak bangunan yang ada. Mehmed juga mengubah Katedral St. Sophia menjadi masjid, dan pada hari Jumat pertama, 2 Juni 1453, dia dan pasukannya menggelar shalat Jumat di tempat itu.

Di awal abad ke-17, Sultan Ahmet I mendirikan Majid Biru di seberang Aya Sofia. Tak seperti Aya Sofia yang memiliki empat menara, Masjid Biru memiliki enam menara dan 36 kubah kecil di sekitar kubah induk. Dan Aya Sofia sejak itu menjadi museum.

Lukisan-lukisan kramik peninggalan Katholik di dinding dan di langit-langit St. Sophia masih dapat disaksikan hingga kini. Untuk memberi nuansa Islam, Ottoman memasang tujuh kaligrafi besar di ruang utama, yang masing-masing bertuliskan nama Muhammad, empat khalifah pertama, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, serta dua cucu Muhammad, Hassan dan Hussein.

Seperti Romawi, Ottoman juga menjadikan Topkapi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal Sultan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Dolmabache.

Dan kini, setelah menjadi museum pada 1924, di Topkapi dapat ditemukan berbagai benda yang berhubungan dengan perkembangan agama Islam. Bahkan, jenggot, pedang dan cetakan telapak Nabi Muhammad pun ada. Juga tongkat yang (kemungkinan) digunakan Nabi Musa untuk membelah Laut Merah saat dia melarikan diri dari Mesir bersama ribuan orang Yahudi ke Israel, hampir 4.000 tahun lalu.

sumber

Artikel terkait :

Al-Kindi, Filsuf Muslim Pertama yang Sangat Genius


Mengenal dan mengetahui kisah hidup orang-orang besar sepintas seperti tak ada gunanya. Tapi kalau kita gali lebih dalam, ada banyak dampak positif yang bisa kita ambil dari mendalami kisah orang-orang besar dan ternama. Salah satunya adalah untuk mendapatkan cambukan motivasi agar kita pun bisa mengikuti jejaknya untuk jadi orang besar yang namanya tetap akan diingat dan dikenang karena banyaknya karya dan kontribusi yang sudah diberikan pada dunia.

Kali ini kita akan mengenal sosok besar yang merupakan filsuf muslim pertama. Namanya Abu Yusuf Ya’qub Al-Kindi. Al-Kindi, begitu namanya lebih akrab dikenal dunia merupakan seorang pembesar filsafat. Tak hanya itu, ia juga merupakan seorang ilmuwan besar muslim di bidang kedokteran. Bahkan ia juga merupakan pemilik salah satu pemikiran terbesar yang sudah dikenal sepanjang peradaban manusia.

1. Al-Kindi Sudah Yatim Sejak Kecil

Al-Kindi menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kufah. Saat masih kecil, ayah Al-Kindi wafat. Meskipun ia seorang anak yatim, ia tak begitu saja putus asa atau menyerah dalam menuntut ilmu. Berbagai macam ilmu ia kuasai selama di Kufah, Basrah, dan Baghdad. Tak hanya ilmu-ilmu agama saja, ia juga mempelajari sejumlah ilmu lain. Sebut saja filsafat, logika, matematika, astronomi, fisika, kimia, geografi, kedokteran, teknik mesin, dan juga musik. Wah, benar-benar beragam sekali ya bidang ilmu yang ia pelajari.

Al-Kindi Sudah Yatim Sejak Kecil [ Image Source ]

Selain itu, di bidang penguasaan bahasa asing, Al-Kindi bisa menguasai bahasa, yaitu bahasa Yunani dan Suryani. Tapi ada yang menyebutkan kalau ia juga menguasai bahasa asing lainnya. Menguasai sejumlah bahasa asing, Al-Kindi sangat terbantu dalam mempelajari banyak bidang ilmu. Sosoknya pun menjadi sangat menonjol. Tak heran jika Khalifah Al-Ma’mun kemudian mengangkatnya sebagai penerjemah buku-buku asing yang dianggap penting pada masa tersebut.

2. Kejeniusan Al-Kindi Sempat Jadi Sumber Kedengkian Orang-Orang di Sekitarnya

Melihat seseorang yang begitu cerdas dan genius, kita sendiri mungkin akan merasa sedikit iri, berharap kita juga bisa memiliki kejeniusan yang sama. Tapi tiap orang pastinya lahir dengan keistemewaan dan anugerah yang berbeda-beda. Dan hal inilah yang tampaknya tak bisa diterima begitu saja oleh sejumlah orang di sekitar Al-Kindi.

Kejeniusan Al-Kindi Sempat Jadi Sumber Kedengkian Orang-Orang di Sekitarnya [ Image Source ]

Al-Kindi hampir saja dipenjara, dicambuk, bahkan diboikot oleh orang-orang yang merasa dengki pada kejeniusan Al-Kindi. Sampai-sampai ada yang menyebut Al-Kindi orang pelit dan menjelek-jelekkan perilakunya. Sebagai salah satu sosok yang bersinar dengan kemampuannya menguasai berbagai bidang ilmu, pastilah ada saja orang yang merasa iri atau tak terima dengan kelebihan yang dimiliki Al-Kindi.

3. Al-Kindi Punya Keistimewaan dalam Berpikir

Pemikiran ilmiah Al-Kindi memiliki keistimewaannya sendiri. Ia termasuk salah satu golongan ilmuwan pertama yang memegang pedoman pada metode eksperimen sebagai cara untuk menyimpulkan hakikat ilmiah. Ilmuwan Belanda, De Bour bahkan sudah mengakui hal ini. Selain itu, Al-Kindi juga mengakui pentingnya peranan ilmu matematika dalam membangun serta melatihnya untuk bisa terus konsisten dengan kebiasaan berpikir yang benar. “Filsafat tidak dapat diperoleh kecuali dengan menguasai ilmu matematika,” begitu katanya. Siapa sangka ya ternyata ilmu matematika juga punya peranan besar dalam filsafat.

Al-Kindi Punya Keistimewaan dalam Berpikir [ Image Source ]

Hakikat teori ilmiah dan pemikiran, menurut Al-Kindi, tidak akan bisa benar sebelum melalui proses pematangan yang lama. “Kebenaran yang sempurna tidak akan didapat oleh seseorang, karena ia akan sempurna secara bertahap dengan disempurnakan oleh para generasi pemikir,” ungkap Al-Kindi. Sebagai seorang pemerhati astronomi, ia tak bisa menerima perkataan paranormal atau ramalan tak berdasar tentang pergerakan benda-benda di langit. Di sisi lain, perhatiannya pada bidang kimia terbatas pada manfaatnya secara ilmiah, yaitu tak lain dalam bidang industri dan pengobatan. Sebagai contoh, dirinya menolak pemanfaatannya sebagai cara untuk mengubah logam yang murah jadi emas karena menurutnya pekerjaan itu membuang waktu ilmuwan pada hal yang tak mendatangkan banyak manfaat.

4. Karangan Al-Kindi Sudah Mencapai Ratusan tapi Kebanyakan Hilang

Dalam bukunya, Tarikh Al-Ilm wa Daur Al-Arab fi Taqaddumihi, Dr. Abdul Halim mengatakan kalau buku karangan Al-Kindi sudah lebih dari 230 buku. Namun, yang sangat disayangkan, kebanyakan dari buku-buku tersebut hilang. Sudah ada banyak karya yang ia buat di berbagai bidang ilmu. Hanya saja tak semuanya bisa sampai ke tangan kita kecuali judul-judulnya saja.

Karangan Al-Kindi Sudah Mencapai Ratusan tapi Kebanyakan Hilang [ Image Source ]

Sebagai seorang dokter terkemuka, Al-Kindi sudah menulis 22 buku di bidang kedokteran dan telah memisah-misahkan spesialisasi dalm bidang kedokteran yang terbilang penting. Ia juga telah mendahului penggunaan musik sebagai salah satu alat untuk mengobati sejumlah penyakit. Ya, di bidang musik sendiri Al-Kindi sudah membuat tujuh karya tulis yang berisi tentang berbagai macam jenis alat musik, macam-macam biola, neraca musik, dan hubungan antara musik dan puisi. Salah satu bukunya yang paling fenomenal adalah Risalah Tartib An-Nagham yang berisi tinggi rendahnya melodi biola. Karya ini bahkan sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa membuat penemuan yang sama.

Salah satu kontribusinya di bidang ilmu alam dan fisika adalah tesisnya tentang warna biru langit. Ia menjelaskan bahwa warna biru bukanlah warna langit itu sendiri, akan tetapi merupakan warna dari pantulan cahaya lain yang asalnya dari penguapan air serta butir-butir debu yang bergantung di udara.

5. Kecerdasan dan Kejeniusannya Membuat Namanya Abadi

Sebagai seorang genius dan telah menghasilkan ratusan karya, jelas namanya akan terus abadi meskipun sudah wafat. Cara De Vaux, seorang orientalis Perancis mengutarakan, “Al-Kindi merupakan salah satu dari dua belas ilmuwan terkemuka di dunia.” Sementara itu, Roger Bacon, seorang pendeta juga ilmuwan Inggris memberikan kesannya sendiri. “Al-Kindi dan Al-Hasan bin Al-Haitsam berada di barisan pertama bersama Ptolemaeus,” ungkapnya. Teori Al-Kindi dalam bidang teknik yang didasarkan pada rumus-rumus matematika Yunani sangat mempengaruhi Roger Bacon.

Kecerdasan dan Kejeniusannya Membuat Namanya Abadi [ Image Source ]

Nama seseorang memang akan abadi jika selama hidupnya ia membuat berbagai karya dan penemuan yang bermanfaat bagi orang banyak. Kalau kamu sendiri, sudah punya rencana akan membuat karya besar apa selama hidup?

Sejarah Mata Air Zubaidah Yang Jarang Diungkap


[IMG]

Banyak sekali peninggalan bersejarah di kota Makkah yang luput dari pemberitaan media, Salah satu situs sejarah di kota Makkah yang jarang diungkap media adalah Mata Air Zubaidah.

Ini bukan sembarang mata air, Karena mata air Zubaidah menyimpan sejarah unik terkait pelaksanaan ibadah haji di Makkah. Dahulu, mata air Zubaidah merupakan tempat yang sangat bermanfaat bagi penduduk Mekah dan jemaah haji yang datang ke sana.

Sebelum kita membahas tentang mata air Zubaidah ini alangkah lebih baik jika kita ketahui siapa sebenarnya Zubaidah?

Zubaidah (wafat 831 M) memiliki nama asli Amatul Aziz binti Ja’far bin Abi Ja’far al Manshur, Ia adalah istri dari Khalifah Harun Al Rasyid yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad.

Harun sendiri merupakan satu kholifah Dinasti Abbasiyah yang kerap melaksanakan haji. Jika tidak pergi untuk ibadah haji, Biasanya Harun Al Rasyid akan memberangkatkan 300 rakyatnya untuk berhaji dengan dibekali segepok uang dan dipenuhi semua perlengkapan.

Sejarah Mata Air Zubaidah

Suatu ketika di bulan Dzulqa’dah sebelum ibadah haji dimulai, Zubaidah kerap bermimpi dikumpuli oleh seluruh jamaah haji. Awalnya Zubaidah menduga bahwa mimpi tersebut hanya merupakan bunga tidur saja. Namun setelah 3 malam didatangi mimpi serupa akhirnya Zubaidah menanyakan mimpi tersebut pada Ahli Tafsir mimpi kerajaan.

Memang, di masa-masa tersebut kota Makkah sering dilanda kekeringan yang sangat dahsyat. Hingga banyak jamaah haji yang meninggal karena kehausan, Namun berita ini belum pernah sampai ke telinga Harun Al Rasyid.

[IMG]

Setelah dita’wilkan, ternyata mimpi aneh Zubaidah tersebut adalah salah satu perintah untuk membangun saluran air demi kelancaran ibadah haji yang akan dilaksanakan.

Mendengar penuturan ahli ta’wil mimpi tersebut akhirnya Zubaidah membuat mega proyek untuk membangun saluran air yang sumbernya diambil dari Wadi Nu’man yang kemudian airnya dialirkan menuju tempat-tempat vital selama ibadah haji dilangsungkan, Seperti Arafah, Mina, Muzdalifah dan Masy’aril Haram.

Kala itu belum ada listrik atau alat yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit air. Namun Zubaidah tak kehabisan akal, ia memanfaatkan tenaga kuda untuk menarik air dari Wadi Nu’man untuk kemudian dialirkan ke saluran di mana jamaah haji berada.

[IMG]

Gebrakan Zubaidah dalam membuat mata air ini dianggap sebagai salah satu proyek ‘ajaib’ yang pernah ada dalam sejarah Haji di masa silam. Sumbangsihnya yang begitu besar untuk membantu para jamaah haji dan juga penduduk Makkah yang selama bertahun-tahun kesulitan dalam masalah air membuat namanya dijadikan sebagai nama mata air tersebut.

Snouck Hurgronje dalam Tulisan-tulisan Tentang Islam di Hindia Belanda pernah mengungkap keajaiban Mata Air Zubaidah tersebut,

“Di waktu biasa, sumber Mata Air Zubaidah memasok air lebih dari cukup untuk keperluan rumahtangga penduduk Mekkah seperti mencuci pakaian, bab dan mandi. Persediaan air di sumur-sumur itu tidak berkurang walau lama tak turun hujan.”

Huzaemah T. dalam bukunya “Konsep Wanita Menurut Quran, Sunnah, dan Fiqh,” mengatakan bahwa Pembuatan Mata Air Zubaidah dan sumur-sumur tersebut menelan biaya sebesar 1.500.000 dinar. Oleh karena itu, Zubaidah merupakan sosiawan yang jarang ada tandingannya.”

Zubaidah mengakhiri kiprah panjangnya yang sangat bermanfaat bagi umat setelah wafat di tahun 831 M. Meski terlahir sebagai perempuan, Zubaidah telah membuktikan bahwa wanita pun tak hanya pandai mengurus keluarga, tapi juga ikut andil, bahkan juga memelopori pembangunan yang bermanfaat bagi umat dan rakyatnya.

sumber : Kabarmakkah

SEJARAH: NAMA INDONESIA PERNAH BEBERAPA KALI DISEBUT OLEH RASULULLAH


Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-‘Allamah al-‘Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah swt. dapat berjumpa dengan Rasulullah saw.

[IMG]

Di belakang Nabi Muhammad saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”Rasulullah saw pun menjawab: “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya.

Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”Rasulullah saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

[IMG]

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki Merangkul Mbah Hasan Mangli Magelang
Bukti kecintaan as-Sayyid Muhammad al-Maliki kepada orang Indonesia adalah dengan membangunkan Pesantren khusus untuk orang Indonesia di Mekkah. Dan beliau sangat senang dan bahagia apabila ada orang/ulama Indonesia yang menyempatkan bersilaturrahim di rumahnya. Bahkan beliau sering memberikan buah tangan (hadiah) kepada orang/ulama.

sumber

Kisah Soichiro Honda, Sukses Setelah Gagal Berulang Kali


Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi.

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik itu mobil maupun motor. Merk kendaraan ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, jika sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI.

Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

“Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap penyakit lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya untuk menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, dan juga tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.

Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih?

Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, ” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah, melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Piston Honda diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Namun malang, niatnya itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang, setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pistonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” cikal bakal lahirnya mobil Honda itu diminati oleh para tetangga.

Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi “raja” jalanan dunia.

Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilannya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpi kan lah mimpi baru.

******
Kisah  Soichiro Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

Artikel di atas adalah hasil saduran dan kutipan dari berbagai tulisan baik media cetak maupun elektronik. Tulisan tersebut dimaksudkan untuk sharing motivasi, inspirasi, kisah hidup dan lain-lain.

SETIAP KALI TERINGAT DIA, DUNIA INI TERASA TIDAK ADA HARGANYA!


KISAH YANG MENAKJUBKAN..

Ibnul Mubarak (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya : “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI’UT TABI’IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata :
“Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan :
“Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.
Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka

Budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul
doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.
Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.
Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda
mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya l agi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)