40 Hadits Prinsip Dasar Jam’iyah Nahdlatul ULAMA


40 Hadits Prinsip Dasar Jam’iyah Nahdlatul ULAMA

HADRATUS SYAIKH HASYIM ASY’ARY
ARBAIN A HADITSAN TATA’ALLAQU BI MABADI’I JAM’IYYAT  NAHDLATUL ULAMA

“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

“Jangan tangisi (urusan) agama ini jika dikendalikan oleh ahlinya, tetapi tangisilah agama ini apabila ía dikendalikan oleh orang yang bukan ahlinya”.

“Bergegaslah dengan melakukan amal-amal yang baik, karena nanti akan terjadi fitnah seperti potongan malam yang gelap, (di mana) pagi hari seorang laki-laki (dalam keadaan) mukmin dan di sore hari (dalam keadaan) kafir. Atau di sore hari dalam keadaan mukmin dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Dia akan menjual agamanya dengan harta dunia.” (HR. Muslim)

“Beramallah, karena setiap sesuatu (pasti) dimudahkan untuk apa sesuatu itu diciptakan.” (HR. At-Tabrani)

“Amal yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah amal yang paling istiqomah, walaupun (cara pengamalannya) sedikit-sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

“Tetaplah untuk selalu beramal (berusaha), karena demi Allah, Allah Swt tidak akan bosan memberi pahala) sampai kalian (merasa) bosan untuk beramal.” (HR. At-Tabrani)

“Setiap perkara yang baik itu (punya nilai) shodaqoh, dan orang yang menunjukkan atas kebaikan itu seperti orang yang mengerjakannya. Dan Allah Swt suka menolong orang yang prihatin.” (HR. Ad-Daruquthni dan Ibnu Abi Dunya)

“Barang siapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan. Apabila tidak mampu dengan lisan, maka (ingkar) dengan hati. Dan yang demikian itu adalah lebih lemahnya iman.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah Swt tidak akan menyiksa masyarakat umum sebab perbuatan segelintir orang, sampai mereka melihat kemungkaran di hadapan mata mereka, tapi mereka tidak mau mencegahnya, padahal mereka mampu untuk mencegahnya (merubahnya). Kemudian apabila mereka tetap menjalankan itu semua, maka Allah Swt akan menurunkan siksa kepada mereka semua balk yang umum maupun yang khusus.” (HR. Al-Baghowi di dalam kitab Syarhus Sunnah)

“Diriwayatkan dan Abi Hurairoh, beliau berkata, “Kekasihku Rasulullah Saw berwasiat kepadaku tentang hal-hal yang balk, beliau berwasiat kepadaku agar aku tidak takut dengan cacian orang yang mencaci, dan beliau berwasiat kepadaku untuk berkata yang benar walaupun pahit (dirasakan).” (HR. Ibnu Hibban)

“Ada tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang merusak. Adapun yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah Swt baik dalam keadaan terang-terangan, menghukumi dengan adil baik dalam keadaan ridho mau pun marah, serta bertindak sederhana baik dalam kondisi kaya maupun miskin. Dan yang merusak (jiwa) adalah mengikuti sifat kikir, mengikuti hawa nafsu dan berbangga dengan pendapatnya sendiri.” (HR. Al-Bazzar)

“Kalian semua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban dari kepemimpinannya. Imam (pemimpin) adalah pengatur rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan terhadap rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di dalam urusan rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Pelayan adalah orang yang mengatur didalam urusan harta majikannya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari)

Seorang Miskin Membangun Mesjid Paling Unik di Dunia


Mungkin kita tak percaya jika tidak melihat faktanya. Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskin, namun mampu membangun sebuah Masjid

di Turki. Nama masjidnya pun paling aneh di dunia, yaitu “*Shanke Yadem*” (Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan? Dibalik Masjid yang namanya paling aneh tersebut ada cerita yang sangat menarik dan mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita.Ceritanya begini : Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang
wara’ dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem” .
Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untukmembeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)…Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampumenahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab. Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-citanya yang amat mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjiddan berhasil dia wujudkan. Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairudin ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.

Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Akhiruddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritanya seorang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah makan).

Informasi di atas saya dapat di sini, sungguh luar biasa. Kita belajar banyak dari kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan Khairuddin. Beramal bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja tidak harus menjadi kaya dulu. Bahkan banyak orang yang diberikan kekayaan oleh Allah lantas menjadi lupa untuk beramal. Harta yang digunakan Khairuddin untuk membangun mesjid diperoleh dengan cara yang halal dan itulah salah satu penyebab orang senang datang ke mesjid yang dibangunnya walaupun mesjid tersebut sangat sederhana. Semoga di Indonesia akan banyak orang-orang seperti khairuddin yang beramal bukan karena ingin di puji orang akan tetapi semata-mata mengharapkan Ridho dari Allah SWT, aamiin.

 

sumber

Sejenak Mengintip Penemu dan Pembuat Sabun Pertama di Dunia


Sabun pertama kali ditemukan para ilmuwan Muslim di era puncak peradaban Islam pada abad 7 M. Siapa yang mengira bahwa peradaban Barat di Eropa baru mengenal pembuatan sabun di abad 16 M.

Terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi maupun hiruk pikuk kehidupan politik yang serba njelimet, tanpa disadari ternyata masih banyak sekali orang yang abai terhadap hal-hal remeh di sekitarnya, padahal benda-benda tersebut tidak bisa terpisahkan dalam kebutuhan sehari-hari. Salah satu diantaranya yakni sabun. Siapa sangka keberadaan sabun yang sangat berperan dalam menjaga kebersihan tubuh kita teralihkan dengan update mengenai fenomena Donald Trump hingga seputar teknologi smartphone yang kini banyak digandrungi kawula muda. Yap, sabun. Salah satu benda kaya manfaat yang paling kita remehkan eksistensinya. Setidaknya, pernahkah kita berpikir tentang siapa yang dan mengembangkan sabun pertama?

Sabun Pertama buatan orang muslim

Di dalam bukunya yang berjudul Technology Transfer in the Chemical Industries, Ahmad Y Al Hassan menerangkan bahwa sabun merupakan salah satu penemuan penting di era puncak peradaban muslim, tepatnya pada abad 7 SM. Di masa itu, umat muslim telah berhasil mengembangkan konsep hidup higienis yang mutakhir. Menurut Al Hassan, sabun pertama kali diproduksi para kimiawan Muslim di era kekhalifahan dengan menggunakan minyak zaitun atau minyak sayuran dan minyak aroma sebagai bahan dasarnya. Salah satu diantara yang berhasil menemukan formula dasar pembentukan sabun adalah Al Razi, seorang ahli kimia asal Persia.

penemu-sabun

Sabun yang ditemukan dan dikembangkan umat muslim di zaman kejayaan sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Dan sudah ada pula sabun cair maupun batangan (padat). Lebih jauh lagi, di masa itu bahkan sudah digunakan sabun khusus untuk mencukur kumis dan jenggot. Secara fundamental, Al Hassan menyatakan bahwa formula pembuatan sabun tidak pernah berubah bahkan hingga saat ini.


Resep pembuatan sabun juga turut ditulis oleh Abu Al Qasim Al Zahrawi alias Abulcassis (936 – 1013 M), seorang dokter muslim terkemuka asal Andalusia, Spanyol. Beliau menerangkan cara membuat sabun dalam kitabnya yang berjudul Al Tasreef yang kini menjadi ensiklopedia monumental yang terbagi dalam 30 volume. Kitab tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan disebarluaskan sebagai buku referensi utama di sejumlah universitas terkemuka di Eropa. Sedangkan masyarakat Barat sendiri, khususnya Eropa, diperkirakan baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M.

soap-6

Sherwood Taylor (1957) di dalam bukunya yang berjudul A History of Industrial Chemistry, juga menyatakan bahwa peradaban Barat baru menguasai pembuatan sabun pada abad ke-18 M. Dalam hal ini, penemuan sabun yang tergolong modern memang diciptakan di masa kejayaan Islam.

The Well of Usman, Sumur Orang Yahudi yang Menjadi Milik Utsman bin Affan


Dulu, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu-waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Madinah pun terpaksa harus tetap membelinya. Karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah saw. bersabda, “Kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah surga”. Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.

Tetapi Usman bin Affan bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, “Aku akan membeli setengah dari sumurmu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya”. Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.

Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa bingung. Ternyata, Usman bin Affan menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Penduduk Madinah pun mengambil air sepuas-puasnya sehingga hari keesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta Usman bin Affan untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja, Usman bin Affan harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya diekspor ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun).

Sang Yahudi tidak akan pernah menang. Kenapa?

Karena visi Yahudi terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia hidup di dunia. Sedangkan visi dari Usman bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan. Sebuah sedekah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.

Kisah Bung Karno Marahi Presiden Amerika


[IMG]

Seperti diketahui, Bung Karno adalah seorang yang begitu memegang harga dirinya dan bangsa Indonesia. Karenanya, ia selalu menampilkan diri dan bangsa ini di mata dunia dengan tampilan gagah. Tak peduli di Negara super power sekalipun. Sebab, Bung Karno menyadari besarnya negeri ini dilihat dari sudut pandang manapun: sejarah, SDA, SDM, georgrafis, budaya, dll. Karenanya, ia akan marah jika ada perlakuan yang dinilainya merendahkan dirinya dan bangsa ini.

Alkisah, Presiden Sukarno pernah marah saat berkunjung ke Amerika Serikat dan merasa harga dirinya diinjak-injak oleh protokoler Presiden AS. Tepatnya pada tahun 1950-an. Saat itu, sebagaimana dikisahkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku “Sewindu Dekat Bung Karno”, Sukarno dijadwalkan menemui Presiden Eisenhower tepat pukul 10.00 pagi. Pada pukul 09.58, Sukarno sudah tiba di tempat pertemuan. Ia tak mau terlambat tentu, ini bagian dari upayanya menjaga kedisiplinan dan harga diri.

Hingga pukul 10.00, ia masih menunggu Eisenhower yang belum kunjung tiba. Pukul 10.10, Sukarno masih tenang menunggu dan memberikan toleransi. Pukul 10.25, Eisenhower belum datang dan Sukarno mulai tegang dan tak mau bicara. Akhirnya, memuncak pada pukul 10.30. Meledaklah amarahnya. Protokoler Presiden AS dimarahi.

“Apa-apaan ini, kalian yang menetapkan pertemuan pukul 10.00, hingga pukul 10.30 Presiden kalian belum datang juga!” marahnya. “Apakah kalian memang bermaksud menghina saya. Sekarang juga saya pergi,” lanjut Bung Karno.

Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Sukarno tinggal. Hingga Eisenhower ‘pun segera keluar menemui Sukarno.

Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower mengubah sikapnya. Dia bahkan menyambut Sukarno begitu keluar dari pintu mobil. Padahal presiden yang mantan jenderal perang dunia II ini biasanya sangat angkuh jika menemui pemimpin negara dunia ketiga.

Artikel terkait :

Kisah Bung Karno Yang Hendak Memindahkan Makam Imam Bukhari ke Indonesia


Di bekas negara pecahan Uni Soviet, yaitu Uzbekistan, nama Presiden Soekarno sangat dihormati. Jika orang Indonesia (Muslim) datang berkunjung ke Uzbekistan mengunjungi makam Imam Bukhari, salah satu ahli hadits Nabi Muhammad SAW, akan diberi keistimewaan.

Orang Indonesia akan diizinkan masuk ke bagian dasar bangunan yang merupakan tempat jasad Imam Bukhari disemayamkan. Perlakuan istimewa ini berkat jasa Bung Karno.

Tahun 1961, pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow.

Khrushchev yang berkuasa di Uni Soviet dari tahun 1953 hingga 1964 itu hendak menunjukkan pada Amerika Serikat bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan bahwa Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Bung Karno tahu, kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat Indonesia.

Bung Karno tidak mau membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun.

Maka, Bung Karno mengajukan syarat. Dialog pun terjadi antara Bung Karno dan Khrushchev.
“Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak,” kata Bung Karno.

“Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?” Khrushchev balik bertanya.
Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”

Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitenya untuk menemukan makam dimaksud. Ternyata, hasilnya nihil.

Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno. “Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?”

“Kalau tidak ditemukan, ya sudah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda,” ujar Bung Karno.

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas. Khrushchev kembali memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini.

Setelah tiga hari pencarian, mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam Al Bukhari.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada tahun 810 M. Ia meninggal dunia dan dimakamkan Samarkand pada 870 M. Ketika ditemukan, makam Imam Al Bukhari dalam kondisi rusak tak terawat.

Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya, misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil. Bung Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda.”

Setelah dari Moskow, pada 12 Juni 1961, Bung Karno tiba dengan kereta api di Samarkand. Puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini sejak dari Tashkent.

Sejak Bung Karno tiba pada malam hari dan beliau langsung membaca Alquran sampai pagi hari, tidak tidur.
Bung Karno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaiki makam Imam Bukhari.

Ia bahkan sempat menawarkan agar makam dipindahkan ke Indonesia, apabila Uni Soviet tidak mampu merawat dan menjaga makam tersebut. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

Artikel terkait :

5 Perang ini Dimenangkan Umat Islam Saat Ramadhan


[IMG]

Ramadhan menjadi bulan penting bagi umat Islam, terutama secara spiritual sebagai sarana menuju peningkatan keimanan dan ketakwaan.

Selain upaya individu untuk menjalankan Ramadhan dengan maksimal, komunitas, bahkan otoritas pemerintahan, bisa juga berperan menciptakan suasana Ramadhan yang kondusif agar perbaikan komunal bisa diwujudkan.

Namun Ramadhan kerap disalahpahami, sebagai saat bermalas-malasan. Padahal, fakta sejarah tidak mengatakan demikian. Justru, sejumlah capaian gemilang berhasil ditorehkan oleh Islam, ketika sedang berpuasa Ramadhan.

Lembaga Riset Islam Internasional (Islamic Research Foundation International), di laman resminya merangkum beberapa penaklukan yang penting bagi kaum Muslim dan semuanya terjadi saat Ramadhan.

1. Perang Badar, Kemenangan Perdana Islam
Perang ini berlangsung pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriyah. Lokasi peperangan berada di Sumur Badar, sekitar 80 mil Barat Daya Madinah.

Meski awalnya hanya diniatkan untuk mencegat kafilah dagang musyrik Makkah, pertempuran di Badar tak terelakkan.

Walau cuma didukung dengan kekuatan personil sebanyak 313 pejuang, umat Islam, atas seizing Allah SWT mampu mengalahkan kafir Quraisy dengan 1000 personel.

2. Perang Qadisiyah, Takluknya Kekaisaran Persia
Perang ini menjadi kunci penting penaklukkan umat Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khatab, atas wilayah Persia dan sekitarnya yang dikuasai oleh Kekaisaran Sassania Persia saat itu.

Perang yang terjadi di Qadisiyah, Irak, pada Ramadhan 15 Hijiriyah atau sekitar 636 M ini, ini dari kubu Islam dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash. Sedangkan pihak Sassania di bawah komando Rostam Farrokhzad dan Thulaihah al-Asadi.

Meski kubu Islam hanya diperkuat dengan 70 ribu pasukan sementara pihak Persia ditopang dengan 130 ribu personel, kemenangan ada di pihak Islam.

3. Penaklukkan Andalusia yang Fenomenal
Peristiwa bersejarah ini menjadi salah satu capaian gemilang pada masa Dinasti Umayyah.

Di bawah komando Jendral Taric el Tuerto (sang mata satu), julukan untuk Thariq bin Ziyad, umat Islam berhasil menaklukkan wilayah Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada 711 M atau Ramadhan 92 Hijriyah.

Pada 19 Juli 711 M, dalam Pertempuran Guadalete, penguasa Kerajaan Visigoth, Raja Roderic, terbunuh. Kemenangan ini menjadi awal masa emas Andalusia.

4. Perang Hittin, Pukulan Telak untuk Tentara Salib
Perang ini menjadi luka selama beberapa dekade bagi Tentara Salib. Hittin, dua bukit yang terletak di Tiberias, sekarang masuk wilayah Israel, menjadi saksi kegagahan dan keberanian tentara pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi.

Dalam pertempuran yang terjadi pada 4 Juli 1187 atau Ramadhan 682 H ini, sebagian besar kekuatan tentara salib terbunuh dan ditawan termasuk Raja Guy dari.

Kota Yerussalem yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Yerussalem berhasil direbut dan perang ini memicu meletusnya Perang Salib Ketiga.

5. Perang Ain Jalut, Ketika Pasukan Tartar Dipecundangi
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Tentara Tartara Mongol, di bawah pimpinan Kitbuqa, akan mengalami kekalahan telak dalam sepanjang ambisi invasi mereka menguasai wilayah Asia Tengah.

Di Ain Jalut, dataran luas yang dikelilingi perbukitan di bagian barat, Palestina Utara, pada 3 September 1260 atau Ramadhan 685 H, tentara Dinasti Mamluk (Mesir) yang dipimpin oleh Qutuz dan Baibars berhasil menaklukkan tentara Mongol.

Kemenangan ini dicatat dengan ‘tinta emas’ dalam sejarah Islam. Kehebatan Pasukan Mamluk, berhasil mengalahkan kedigdayaan Pasukan Mongol. Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dieksekusi.

sumber

Artikel terkait :