Adakah Mazhab Salaf?


Assalamu’alaikum

Ustadz. saya punya teman yang katanya tidak bermazhab kepada imam2 mazhab yg dikenal seperti Imam Maliki, Imam Syafi’i. dll. katanya ia beragama berdasarkan mazhab salaf. bagaimanakah hal ini sebenarnya??

Jazakallah khairan…

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kerancuan Istilah Salaf

Istilah ‘salaf’ artinya adalah sesuatu yang lampau atau terdahulu. Terjemahan salaf dalam bahasa Indonesia bisa bermacam-macam, seperti lampau, kuno, konservatif, konvensional, ortodhox, klasik, antik, dan seterusnya.

Kalau kita lihat dari sisi ilmu hukum dan syariah, istilah salaf sebenarnya bukan nama yang baku untuk menamakan sebuah medote istimbath hukum. Istilah salaf hanya menunjukkan keterangan tentang sebuah kurun waktu di zaman yang sudah lampau.

Kira-kira perbandingannya begini, kalau kita ingin menyebut skala panjang suatu benda dalam ilmu ukur, maka kita setidaknya mengenal ada dua metode atau besaran, yaitu centimeter dan inchi. Di Indonesia biasanya kita menggunakan besaran centimeter, sedangkan di Amerika sana biasa orang-orang menggunakan ukuran inchi. Nah, tiba-tiba ada orang menyebutkan bahwa panjangnya meja adalah 20 ‘masa lalu’.

Lho? Apa maksudnya ’20 masa lalu’ ?

Apakah istilah ‘masa lalu’ itu adalah sebuah besaran atau ukuran dalam mengukur panjang suatu benda? Jawabannya pasti tidak. Yang kita tahu hanya besaran 20 centimeter atau 20 inchi, tapi kalau ’20 masa lalu’, tidak ada seorang pun yang mengenal istilah itu.

Ya bisa saja sih segelintir orang menggunakan istilah besaran ‘masa lalu’ sebagai besaran untuk mengukur panjang suatu benda, tetapi yang pasti besaran itu bukan besaran standar yang diakui dalam dunia ilmu ukur. Jadi kalau kita ke toko material bangunan, lalu kita bilang mau beli kayu triplek ukuran 20 ‘masa lalu’, pasti penjaga tokonya bingung dan dahinya berkerut 10 lipatan.

Sistem Operasi Komputer

Dalam dunia komputer kita juga mengenal istilah sistem operasi. Dan kita tidak akan bisa menggunakan komputer, kalau sistem operasinya tidak diinstal terlebih dahulu. Tidak ada komputer kalau tidak ada sistem operasinya.

Meski sebenarnya jumlah sistem operasi cukup banyak, tapi yang paling populer dikenal orang awam cuma tiga saja, yaitu Windows, Linux dan Mac. Ketiganya diciptakan oleh team-team yang ahli di bidang teknologi IT, dan sudah mulai menciptakan sistem operasi itu sejak awal komputer ditemukan.

Buat kita orang awam, kalau beli komputer pastilah kita pilih yang sudah ada sistem operasinya. Sebab kita tidak akan mampu menciptakan sistem operasi sendiri. Bahkan para programmer pun umumnya pakai sistem operasi salah satu dari ketiganya. Saya belum pernah menemukan ada orang sangat pintar dalam urusan komputer, sampai-sampai dia bisa bikin sistem operasi sendiri. Kalau sekedar bikin script atau bikin pemrograman, tentu banyak yang mampu. Apalagi bikin tulisan di microsoft word, saya kira semua orang juga bisa.

Tetapi bikin sebuah file tulisan di microsoft word itu tidak sama dengan menciptakan sistem operasi. Meski pun nama filenya bernama : sistem-operasi-masa-lalu.doc, tetapi kalau kita buka, tentu isinya bukan sistem operasi. Itu cuma file microsoft word, tetapi mengaku-ngaku sebagai sistem operasi. Anak TK juga bisa bikin file begituan.

Yang pasti, di dunia ini kita tidak pernah mendengar ada orang menjual sistem operasi yang namanya adalah : salaf alias  ‘masa lalu’. Dan kalau ada orang datang ke toko komputer lalu minta komputernya diinstal dengan sistem operasi ‘masa lalu’, tentu pemilik toko menggelengkan kepala. Dia pasti bingung sambil bertanya, ‘OS masa lalu, apaan tuh mas?’.

Nah, kurang lebih perbandingannya begini. OS yang kita kenal seperti Windows, Linux dan Mac itu kira-kira seperti mazhab-mazhab fiqih  baku yang kita kenal sekarang ini, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Semua orang tahu dan semua orang pakai. Dan nyatanya memang ketiga OS itulah yang digunakan orang, tentu dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya.

Lalu tiba-tiba ada orang yang tidak mau pakai salah satu dari ketiga OS itu, cuma sayangnya dia pun bukan ahli komputer, bukan programmer dan pengetahuannya tentang komputernya di bawah rata-rata, alias orang awam. Kemudian dia menghayal untuk bikin OS yang diberinya nama : ‘masa lalu’, padahal yang dia buat adalah sebuah file tulisan dengan menggunakan microsoft word. Tetapi karena komputernya belum ada sistemnya, meski file word itu ada di dalam hardisk, apa yang akan terjadi?

Begitu dia booting untuk menyalakan komputernya, yang tampil di layar cuma warna hitam saja. Kalau pun ada tulisan, cuma keterangan bahwa komputer ini tidak atau belum ada sistemnya. Silahkan instal sistem ke dalamnya. File word yang dia bikin dengan nama ‘masa lalu’ ternyata bukan sebuah sistem, tetapi sekedar sebuah file, itu pun sebenarnya under windows juga.

Kalau melihat kelakuan bocah lugu seperti itu, tentu kita yang rada sedikit mengerti tentang komputer akan tertawa terpingkal-pingkal. Sudahlah belajar komputer saja yang benar dengan guru yang benar juga, kurang lebih begitu nasehat kita kepadanya.

Mazhab Fiqih Yang Empat Adalah Salaf

Sementara kita memperbincangkan bahwa salaf itu bukan nama sebuah sistem, sebenarnya justru keempat mazhab yang kita kenal itu hidupnya malah di masa salaf, alias di masa lalu.

Al-Imam Abu Hanifah (80-150 H) lahir hanya terpaut 70 tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Apalah seorang Abu Hanifah bukan orang salaf? Al-Imam Malik lahir tahun 93 hijriyah, Al-Imam Asy-Syafi’i lahir tahun 150 hijriyah dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal lahir tahun 164 hijriyah. Apakah mereka bukan orang salaf?

Maka kalau ada yang bilang bahwa mazhab fiqih itu bukan salaf, barangkali dia perlu belajar sejarah Islam terlebih dahulu.  Sebab mazhab yang dibuangnya itu ternyata lahirnya di masa salaf. Justru keempat mazhab fiqih itulah the real salaf.

Sedangkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm, kalau dilihat angka tahun lahirnya, mereka juga bukan orang salaf, karena mereka hidup jauh ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Apalagi Syeikh Bin Baz, Utsaimin dan Al-Albani, mereka bahkan lebih bukan salaf lagi, tetapi malahan orang-orang khalaf yang hidup sezaman dengan kita.

Sayangnya, Ibnu Taymiyah, Ibnul Qayyim, apalagi Bin Baz, Utsaimin termasuk Al-Albani, tak satu pun dari mereka yang punya manhaj, kalau yang kita maksud dengan manhaj itu adalah arti sistem dan metodologi istimbath hukum yang baku. Bahasa mudahnya, mereka tidak pernah menciptakan ilmu ushul fiqih. Jadi mereka cuma bikin fatwa, tetapi tidak ada kaidah, manhaj atau polanya.

Kalau kita ibaratkan komputer, mereka memang banyak menulis file word, tetapi mereka tidak menciptakan sistem operasi. Mereka punya banyak fatwa, mungkin ribuan, tetapi semua itu levelnya cuma fatwa, bukan manhaj apalagi mazhab.

Bukan Salaf Tetapi Dzahihiri

Sebenarnya kalau kita perhatikan metodologi istimbath mereka yang mengaku-ngaku sebagai salaf, sebenarnya metode mereka itu tidak mengacu kepada masa salaf. Kalau dipikir-pikir, metode istimbah yang mereka pakai itu lebih cenderung kepada mazhab Dzhahiriyah. Karena kebanyakan mereka berfatwa hanya dengan menggunakan nash secara Dzhahirnya saja.

Mereka tidak menggunakan metode istimbath hukum yang justru sudah baku, seperti qiyas, mashlahah mursalah, istihsan, istishhab, mafhum dan manthuq. Bahkan dalam banyak kasus, mereka tidak pandai tidak mengerti adanya nash yang sudah dinasakh atau sudah dihapus dengan adanya nash yang lebih baru turunnya.

Mereka juga kurang pandai dalam mengambil metode penggabungan dua dalil atau lebih (thariqatul-jam’i) bila ada dalil-dalil yang sama shahihnya, tetapi secara dzhahir nampak agak bertentangan. Lalu mereka semata-mata cuma pakai pertimbangan mana yang derajat keshahihannya menurut mereka lebih tinggi. Kemudian nash yang sebenarnya shahih, tapi menurut mereka kalah shahih pun dibuang.

Padahal setelah dipelajari lebih dalam, klaim atas keshahihan hadits itu keliru dan kesalahannya sangat fatal. Cuma apa boleh buat, karena fatwanya sudah terlanjur keluar, ngotot bahwa hadits itu tidak shahih. Maka digunakanlah metode menshahihan hadits yang aneh bin ajaib alias keluar dari pakem para ahli hadits sendiri.

Dari metode kritik haditsnya saja sudah bermasalah, apalagi dalam mengistimbath hukumnya. Semua terjadi karena belum apa-apa sudah keluar dari pakem yang sudah ada. Seharusnya, yang namanya ulama itu, belajar dulu yang banyak tentang metode kritik hadits, setelah itu belajar ilmu ushul agar mengeti dan tahu bagaimana cara melakukan istimbath hukum. Lah ini belum punya ilmu yang mumpuni, lalu kok tiba-tiba bilang semua orang salah, yang benar cuma saya seorang. Waduh, minum dimana mabok dimana nih orang. . .

Bukan Salaf Tapi Taklid Kepada Ulama Dengan Sistem Tebang Pilih

Dan dalam kenyatanyaannya, sebenarnya yang mereka lakukan pada hakikatnya hanyalah sekedar bertaklid buta kepada tokoh yang mereka anggap sebagai ulama. Namun sayangnya, ketika mereka bilang ikut para ulama, ternyata dengan cara tebang pilih. Kalau ada ulama yang sekiranya punya pendapat cocok dengan ‘selera’ mereka, maka pendapatnya itu diikuti bagaikan wahyu yang turun dari langit, sambil mencaci maki semua ulama yang lain.

Ulama yang pandangannya agak berbeda dengan pendapat mereka, maka tanpa ampun lagi ulama itupun dicaci maki, bahkan dikatakan bodoh, tidak mengerti agama, bahlul dan kadang dianggap keluar dari agama. Padahal ulama yang mereka caci maki itu justru hidupnya di masa salaf, masa yang mereka bangga-banggakan sebagai masa yang paling suci dan murni. La haula wala quwwata illa billah.

Jadi mereka sih memang ikut pendapat ulama, tetapi hanya terbatas pada ulama yang pendapatnya sesuai dengan selera mereka sendiri saja. Kalau pendapat seorang ulama ternyata tidak sesuai dengan selera, pendapat ulama itu pun dibuang jauh-jauh.

Lucunya, seringkali dalam beberapa pendapat, si ulama yang ditaklidi ini ternyata punya pendapat yang tidak sesuai dengan ‘selera’ mereka, maka tulisan para ulama ini pun disembunyikan. Kalau perlu, mereka bisa cetak kitabnya, tetapi materi yang sekiranya kurang sesuai dengan ‘selera’ mereka pun bisa dihapus.

Maka kita menemukan begitu banyak kitab para ulama dicetak dan beredar, tetapi isinya sudah diputar-balik sedemikian rupa, sehingga seolah-olah penulisnya itu 100% cocok dengan ‘selera’ mereka. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kitmanul-haq, atau setidaknya sebuah pengkhianatan. Dalam istilah ilmu hadits, namanya tadlis.

Sesama Tokoh Salaf Pun Tidak Sepakat

Fakta di lapangan yang sering kita temukan, ternyata pendapat para tokoh yang mengaku salaf ini tidak selamanya sejalan, banyak sekali perbedaan pendapat yang pecah di tengah mereka. Padahal semuanya adalah icon dan tokoh salaf. Jadi meski sudah sama-sama berpaham salaf, tetapi ternyata mereka pun berbeda pendapat juga. Lucunya, sesama mereka pun banyak saling hujat, saling caci dan saling memaki, khususnya di alam maya.

Murid-murid yang kemarin sore baru belajar pun ketularan penyakit yang sama. Tidak tahu urusan, yang penting kasih komen dimana-mana, sambil menghina, mencaci, menghujat.

Kasihan juga murid-muridnya, sudah terlanjur disuruh membenci segala yang bukan berbau ‘salaf’, ternyata sesama orang yagn mengaku ‘salaf’ sendiri pun tidak akur juga.

Lucunya, kalau fakta ini diajukan kepada mereka, jawab mereka bahwa kita harus menerima kalau para ulama berbeda pendapat. Tetapi kalau yang berbeda pendapat ulama di luar wilayah mereka, tetap saja mereka perangi.

Semoga Allah SWT menurunkan rahmat, hidayah serta ilmu-Nya yang diberkahi kepada kita semua, agar tidak mudah mencaci maki orang, khususnya para ulama dan ilmu-ilmu yang telah mereka wariskan kepada kita. Dan semoga kita bisa menjadi murid-murid yang santun, shalih, beradab, berakhlaq mulia, serta tidak merasa paling pintar sendirian.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat,Lc,.MA

Rumah
Fiqih
Indonesia

 

Perintis Awal Teknologi Pesawat Terbang Ternyata Ilmuwan Islam



Jika Indonesia punya BJ Habibie yang andal dalam hal pesawat terbang, umat Islam semestinya juga bangga dengan Abbas bin Firnas. Berkat dialah pesawat terbang kini tercipta.

Abbas bin Firnas merupakan salah satu ilmuwan Andalusia yang dilahirkan di Izn-Rand Onda, Andalusia pada tahun 810 M. Dia mulanya dibawa ke Cordoba untuk mengajar musik, tetapi begitu tiba di sana ia menunjukkan bakatnya yang luar biasa sebagai penemu.

Dikutip brilio.net dari buku “Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern”, Kamis (18/6) selain membuat gelas bening, ia merupakan pelopor penerbangan. Beberapa sumber mengatakan bahwa ia terinspirasi saat melihat pemain akrobat bernama Armen Firman yang selamat setelah meloncat dari salah satu puncak menara dekat masjid sembari mengenakan jubah sutera yang sangat longgar yang dikaitkan ke rangka kayu.

Namun, sumber lainnya mengatakan bahwa sebenarnya yang berakrobat itu adalah dirinya sendiri dan Armen Firman adalah nama latin darinya.

Quote:
Abbas bin Firnas membuat sayap besar seperti gantole modern dari sutera dan bulu elang di atas kerangka kayu ringan. Setelah beberapa percobaan di padang pasir yang ia lalui sukses, ia memutuskan untuk menampilkannya di depan khalayak ramai.

Abbas bin Firnas yang saat itu berusia 70 tahun mengenakan sayapnya di puncak tebing tinggi Taman Rustafa Cordoba. Dengan keberaniannya, ia lalu meloncat.

Orang-orang pun terkejut dengan perbuatan Abbas bin Firnas yang dari segi usia sudah tak muda lagi. Orang yang menonton semakin terheran lantaran Abbas bin Firnas tak langsung jatuh ke tanah.

Abbas bin Firnas melayang dan berputar beberapa kali di udara selama sepuluh menit hingga akhirnya mendarat di tanah. Sayangnya ia tak menyadari kecepatan yang ia ambil untuk memperlambat laju terbang sehingga ia menghantam tanah yang menyebabkan sayapnya patah dan punggungnya terluka.

Ia pun kemudian menyadari jika ekor burung mempunyai fungsi memperlambat laju pendaratan dan ia mendarat keras karena tak mempunyai ekor.

Ibnu Firnas meninggal dunia tahun 887 M/274 H, sekitar 12 tahun setelah ia melakukan uji coba terbang keduanya. Cedera yang dialaminya saat melakukan uji coba penerbangan itu membuat kondisi kesehatannya semakin memburuk.

Philip K Hitti, sejarawan Barat, menempatkannya sebagai salah satu tokoh besar dan manusia pertama dalam sejarah yang melakukan uji coba dalam bidang penerbangan.

Jasanya pun dikenang dengan keluarnya perangko bergambar Abbas bin Firnas di Libya. Irak juga mengabadikan namanya sebagai nama bandara di Utara Baghdad dan membangun patung penerbang pertama itu di sekitar lapangan terbang internasionalnya.

Alfarabi, Komposer Besar Muslim Yang Tidak Cinta Dunia


Selama ini kita hanya tahu kalau jagoan musik itu orang-orang seperti Mozart, Bach, atau komposer-komporser barat lainnya. Padahal jauh sebelumnya, dunia Islam sudah melahirkan seorang musisi jenius: Al Farabi!

Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M (260H) di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki. Bapaknya merupakan seorang anggota tentara yang miskin tetapi semua itu tidak menghalanginya untuk menimba ilmu di Baghdad. Kenapa di Baghdad, ini karena pada zaman itu semua ilmu memang berkumpul di Syria atau Irak.

Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di Irak, Al Farabi memutuskan hijrah ke Damsyik, sebelum meneruskan perjalanannya ke Halab. Semasa di sana, beliau berkhidmat di istana Saif al-Daulah dengan gaji empat dirham sehari. Hal ini menyebabkan dia hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.
Walaupun Al-Farabi merupakan seorang yang zuhud, tetapi beliau bukan seorang ahli sufi. Beliau merupakan seorang ilmuwan yang cukup terkenal pada zamannya. Dia berkemampuan menguasai pelbagai bahasa.
Bicara soal keahliannya yang utama apalagi kalo bukan dalam soal musik. Lagu yang dihasilkannya meninggalkan kesan secara langsung kepada pendengarnya. Selain mempunyai kemampuan untuk bermain musik, beliau juga telah mencipta satu kesenian yang kelak jadi identitas orang Arab. Apalagi kalo bukan musik gambus.
Tapi kemampuan Al-Farabi bukan sekadar itu. Beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dalam bidang kedokteran, sains, matematika, dan sejarah. Satu lagi keterampilannya sebagai seorang ilmuwan yang terulung dalam bidang falsafah. Bahkan kehebatannya dalam bidang ini mengatasi ahli falsafah Islam yang lain seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.
Di bidang musik, sumbangan terbesarnya dalam sejarah adalah sebuah buku yang berisi tentang pengajaran dan teori musik Islam: Al-Musiqa. Asal tahu saja, buku ini sampai sekarang masih dianggap jadi buku musik yang terpenting dalam bidang musik di seluruh dunia. Soalnya, Al-Farabi konon yang pertama meletakan dasar-dasar tentang not balok dan segala sesuatu yang berhubungan dengan musik-musik modern zaman sekarang.
Sebagai seorang ilmuwan yang tulen, Al-Farabi turut memperlihatkan kecenderungannya menghasilkan beberapa kajian dalam bidang kedokteran. Walaupun kajiannya dalam bidang ini tidak menjadikannya masyhur tetapi pandangannya sudah memberikan sumbangan yang cukup bermakna terhadap perkembangan ilmu kedokteran di zamannya.
Al-Farabi terdidik dengan sifat qanaah (sederhana). Sifat itu menjadikan beliau seorang yang amat sederhana, tidak gila akan harta dan tidak cinta dunia. Beliau lebih menumpukan perhatian untuk mencari ilmu daripada mendapatkan kekayaan duniawi. Sebab itulah Al-Farabi hidup dalam keadaan yang miskin sehingga beliau menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 950M (339H). (sa/ind/berbagaisumber)

sumber

Artikel terkait :

Penjelasan Ilmiah Dan Alqur’an Tentang DNA Bukan Berasal Dari Bumi


Menurut penelitian bahwa DNA bukan berasal dari bumi, dan di dalam Alqur’an juga dijelaskan tentang DNA tersebut, seperti apa ?ayo disimak baik-baik.

Menurut Ilmiah DNA ( Dioxyribo Nucleic Acid ) sebagai susunan struktur dasar pembentuk kehidupan sudah dikenal dalam ilmu biologi dan genetika abad 20. Menjadi popular oleh ilmuwan pemenang Nobel Biologi bernama Francis Crick yang menemukan struktur double helix dari DNA.

Melalui teorinya yang mencengangkan, yaitu Directed Panspermia pada tahun 1973. Crick mendeklarasikan “ kami sudah menemukan rahasia awal mula kehidupan” asumsi dasar teori tsb adalah berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dalam penelitiannya iya sampai pada satu kesimpulan bahwa “ ASAL MULA DNA BUKANLAH DARI BUMI ” melainkan datang dari suatu tempat diluar bumi. Crick menemukan bahwa asal mula bentuk kehidupan di dunia ini berasal dari sumber yang tunggal bukan dari sumber yang jamak.

Dan dalam kasus DNA manusia unsur-unsur kimia pembentuknya justru lebih banyak terdiri dari unsur-unsur yang tidak banyak terdapat dibumi. Sungguh aneh memang jika DNA diasumsikan terjadi karena proses kimia dan fisika dibumi, kenapa justru DNA itu sendiri banyak mengandung unsur-unsur yang justru langka di bumi..

Quote:
Hipotesis Crick :
1. Code genetic adalah indentik pada semua mahluk hidup
2. Bentuk2 kehidupan awal muncul secara tiba2 dibumi ini, tanpa asanya tanda2 eksistensi dari nenek moyang sebelumnya.

Mungkinkah DNA ini berasal dari luar bumi sana? Mungkin sekali dan sampai saat ini belum ada bantahan mengenai teori Crick ini, malah beberapa ilmuwan justru menguatkan teori tersebut. Dan DNA ini tidak mungkin terbawa secara tidak sengaja oleh komet atau meteor karena sesuatu yang hidup akan menglami kematian diperjalan tersebut.

Kemungkina lain jg bahwa DNA ini di bawa dengan transfortasi khusus ke bumi dan siapapun yang membawanya kemudian melakukan penanaman genetic. Dan apakah munculnya Homo sapiens secara tiba-tiba akibat dari penanaman kode genetic ini?

Menurut Alqur’an Semua apa yang dicari oleh manusia sebenarnya telah ada di dalam Alqur’an salah satunya tentang DNA yang bukan berasal dari bumi. Di dalam agama Islam manusia yang diciptakan adalah Adam a.s yang berasal dari surga lalu Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s . Ini menunjukkan salah satu kebenaran Alqur’an yang faktanya berasal dari 1.400 tahun yang lalu sedangkan penelitian tentang ini baru terkuak. Betapa hebatnya Alqur’anul Karim bagai kitab penerang, petunjuk , kebenaran dan juga sumber ilmu yang tak lekang dimakan zaman. Masih banyak rahasia di dalam Alqur’an yang masih belum terjawab.“Dan Kami turunkan (Al-Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran.” (QS Al-Israa: 17)

Kita perhatikan apa yang dikatakan al-Quran tentang penciptaan manusia ini. Allah Swt berfirman: “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air.” (QS Al-Furqan: 54)

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani.” (QS Faathir: 11)

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu pada kali yang lainnya.” (QS Thaaha: 55)

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS Al-Mursalat: 20)

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).” (QS Ath-Thaariq: 5-8)

Sudah jelas bukan bahwa Alqur’an adalah kitab penuntun yang paling benar dan tak lekang dimakan zaman.

Artikel terkait :

 

Inilah 6 Pesan Rasulullah Saat Menjelang Bulan Ramadhan


Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan, Yakni bulan yang penuh dengan berkah ini dimana sebagai umat muslim anda pastinya menanti datangnya bulan tersebut. Ibadah yang anda jalani di bulan Ramadhan, Akan dipenuhi dengan pahala yang berlipat ganda. Sehingga tidak ada salahnya, jika anda senantiasa memiliki persiapan yang sebaik mungkin, Agar nantinya semua ibadah yang anda lakukan seperti puasa, sholat, dan lainnya baik itu fardhu maupun sunnah, Bisa terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga ketika anda menjalankan semua ibadah tersebut bisa berjalan dengan lancar dan sesuai harapan.
Oleh karena itu, Perlunya mengingat akan pesan – pesan Rasulullah S.A.W dari apa yang beliau sabdakan itu sangat penting. Karena dengan beberapa pesan beliau tersebut, Anda akan lebih bisa mengena dalam benak pikiran tentang hal – hal apa saja yang dilakukan ketika bulan suci ramadhan telah tiba. Sehingga tujuan untuk mendapat ridho dan berkah di bulan suci ramadhan bisa tercapai.
Dan inilah pesan Rasulullah S.A.W di saat menjelang bulan suci ramadhan, Yang telah dinukil berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimahdari Salman al-Farisi. Di dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah S.A.W sedang bekhutbah  pada akhir bulan Sya’ban, Yang berisi beberapa pesan kepada seluruh umat islam. Sehingga dari hadits tersebut bisa diambil 6 pesan yang bisa disimpulkan sebagai berikut :
1. Gunakanlah bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat islam. Yang mana pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Yang dimaksud dengan satu malam tersebut adalah malam Lailatul Qodar. Dan Allah telah mewajibkan umat islam berpuasa di siang hari dan menjadikan Qiyamu lail (shalat terawih) adalah suatu tathawwu’ (sunnah). Dengan demikian, Bahwa di bulan Ramadhan menandakan suatu bulan yang penuh dengan pahala. Oleh karena itu, Hendaknya anda bisa memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan sebaik mungkin.
2. Ingat bahwa Pahala di bulan Ramadhan berlipat ganda
Bila anda mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan di bulan ramadhan, Niscaya akan mendapatkan pahala seperti menunaikan ibadah fardhu di bulan yang lain. Dan barang siapa yang menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan, Niscaya akan mendapatkan pahala layaknya menunaikan 70 ibadah fardhu di bulan yang lain. Oleh karena itu, Dapat disimpulkan bahwa pahala di bulan ramadhan sangatlah berlipat ganda.
3. Ingat bahwa bulan Ramadhan bisa melatih kesabaran anda
Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesabaran. Dan barang siapa yang sabar pahalanya adalah syurga. Tahukah anda, Bahwa ketika berpuasa di bulan suci Ramadhan, Anda dilatih untuk menghindari makan, minum dan semua yang bisa membatalkan puasa tersebut berdasarkan kurun waktu yang telah ditentukan. Secara tidak langsung anda telah melatih kesabaran dengan mengikuti semua aturan dalam berpuasa. Dan inilah yang menjadikan bulan ramadhan bisa melatih kesabaran dalam diri anda.
4. Belajarlah bersimpati kepada orang lain
Saling bersimpati kepada orang lain, Itulah salah satu pesan rasulullah kepada umat islam. Yang mana seperti anjuran Rasulullah S.A.W untuk memberi makan ketika berbuka puasa meskipun hanya sebiji kurma, dan seisap air susu. Dan barang siapa yang memberi makan untuk berbuka kepada orang lain, Maka pahalanya seperti puasanya orang tersebut. Dengan demikian rasa bersimpati antar sesama akan tumbuh dan menjadikan seseorang akan memiliki rasa peduli yang tinggi.
5. Meningkatkan amal sholih
Bulan suci Ramadhan adalah bulan rahmat, Yang mana pada sepuluh hari pertama di bulan tersebut adalah bulan yang penuh rahmat. Dengan adanya hal demikian, Maka hendaknya perbanyaklah amal sholih layaknya berbakti kepada orang tua, saling menolong antar sesama, bertutur santun dan lainnya, Agar anda selalu mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
6. Memperbanyak berdoa dan meminta ampunan
Di sepuluh Pertengahan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ampunan, Dan di sepuluh terakhirnya adalah terbebas dari api neraka. Maka dari situ anda bisa memperbanyak do’a dan ampunan kepada Allah SWT.  Di dalam bulan suci Ramadhan, Hendaknya memperbanyak kalimat thoyyibah, istighfar dan berdoa kepada Allah agar dimasukkan surgaNya, Serta memohon perlindungan dari api neraka.
Catatan Penting : Untuk mencari teks asli hadits rujukan pada artikel di atas, Anda bisa membuka di kitab Shahîh Ibn Khuzaimah.

Misteri dan Manfaat Buah Utrujjah Menurut Nabi Muhammad


Utrujjah [Citrus medica] termasuk marga dari jeruk. Bentuk dan rasanya hampir sama dengan jeruk lemon. Namun berbeda dengan jeruk dan lemon yang kaya akan air sehingga bisa diperas sebagai jus, buah utrujjah sangat kering. Di dalamnya ada lapisan putih yang agak keras, yang menepel kuat dengan kulit luarnya. Sehingga agak sulit untuk mengupas buah ini.

Karena baunya yang sangat harum, buah ini sering digunakan sebagai bahan untuk membuat parfum. Di beberapa negara bahkan kulitnya dikerik tipis-tipis sebagai pengharum dalam resep masakan. Bulir-bulir jeruknya juga sering dikeringkan untuk dijadikan camilan [seperti kismis].

Dalam hadis ini, terdapat 4 bidalan dan perumpamaan yang boleh dijadikan renungan kepada orang yang mencari hidayah dan petunjuk Allah s.w.t. bidalan-bidalan tersebut ialah :
Orang mukmin yang membaca al-Qur’an dan beramal dengan isi kandungannya.
Orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an tetapi beriman dan beramal dengan isi kandungannya.
Orang munafiq yang membaca al-Qur’an tetapi tidak beramal dengan isi kandungannya
Orang munafiq yang tidak membaca al-Qur’an serta tidak beramal dengan isi kandungannya

Khasiat buah utrujjah:
1. Bermanfaat jika diletakkan di pakaian, ia dpt mencegah gegat.
2. Baunya dapat membersihkan secara semulajadi udara yg kotor & wabak penyakit.
3. Mengeluarkan bau yg wangi jika dimasukkan ke dalam mulut.
4. Dicampurkan dlm makanan sebagai penyedap.
5. Dapat melancarkan pencernaan.
6. Isinya dapat menurunkan panas di perut & sesuai bagi orang yg mengalami gangguan hempedu.
9. Rendaman bijinya dapat menangani racun yg ganas.

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur`an adalah seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al- Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit.” (Hadits Riwayat al-Bukhari)

Perumpamaan manusia berkaitan dengan aktivitasnya dalam membaca al-Qur’an ternyata masing-masing memiliki rasa dan aroma tersendiri yang berbeda-beda. Namun seperti apa sebenarnya rupa dan rasa buah Utrujjah hingga sampai-sampai dijadikan perumpamaan bagi orang-orang mukmin yang membaca Al Quran. Nama buah tersebut memang aneh. Pernahkah anda melihatnya atau bahkan mencicipinya?.

Buah ini seperti yang diyakini aslinya berasal dari Selatan-Timur Asia. Namun buah ini banyak dijumpai di kawasan Maghribiyah seperti di Maroko. Buah ini pernah juga disinggung di Al Qur’an. Dikatakan bahwa ketika Zulaikho mengundang beberapa pembesar wanita Mesir untuk melihat Nabiyullah Yusuf ‘alayh salam. Zulaikho memberikan kepada mereka semua masing-masing sebuah pisau dan Utrujah. Setelah itu yang terjadi adalah seperti yang kita ketahui dalam kisah Nabi Yusuf yang diceritakan di dalam Al Quran.

Kulit bijinya berwarna putih yang juga selaras dengan hati seorang mukmin. Beberapa keistimewaan lainnya adalah besar bentuknya, indah penampilannya, warnanya yang menyenangkan, dan lembut bila disentuh. Bila dimakan terasa lezat, sedap aromanya, mudah dikunyah dan juga dapat membersihkan lambung.

Beberapa kekhususannya dan keistimewaannya adalah besar ukurannya, bagus rupanya, memiliki rasa yang baik, lembut jika kita menyentuhnya, dapat “menghipnotis” siapapun yang melihatnya, sangat cerah warnanya, menyenangkan siapapun yang memandangnya, menambah nafsu makan tatkala melihatnya, mempunyai manfaat setelah mengkonsumsinya, maka keempat panca indera melihat, perasa, pencium, sentuh- memperoleh manfaat yang ia punya.

sumber

Stop Bilang ‘Ini Hanyalah Kebetulan’, Berikut Alasannya


“Ini hanyalah kebetulan”, kalimat ini kerap kali didengar ketika kita tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang sebelumnya dipikirkan, atau mendapatkan sesuatu yang tidak terduga, yang selama ini diinginkan tapi rasanya sulit untuk didapatkan. Ternyata kalimat ini tidak boleh diucapkan, Orang-orang yang kita temui, beragam kejadian yang kita dilewati, pagi, siang, malam, selalu menyimpan misteri, ada tujuannya, ada maksudnya. Jika kita peka, akan disadari bahwa apa yang kita anggap kebetulan adalah bentuk kasih sayang dan kuasa Allah saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadist yang menjelaskan bahwa tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sebuah kebetulan yang amat kebetulan tetap saja merupakan sebuah rencana Tuhan yang tidak pernah meleset. Jika kita tidak berhasil menerjemahkan tiap detailnya, karena terlalu megahnya rencana Tuhan tersebut, itu jelas bukan kabar buruk. Setidaknya pastikan saja kita sukses menysukuri tiap detik rencana tersebut.

Saat menyatakan kalimat ‘ini kebetulan’ atau semacamnya, ada indikasi kita mengungkapkan bahwa hal yang dialami terjadi tidak dengan takdir Allah. Hal ini tentu saja keliru, pasalnya Allah SWT sudah menakdirkan atau menetapkan hal itu sebelumnya. Tak mungkin Allah mengetahui belakangan atau secara kebetulan mengetahuinya.

Perlu dipahami, rukun beriman pada takdir ada empat yaitu kita meyakini Allah mengetahui segala peristiwa sebelum terjadi, Allah telah mencatatnya, Allah menghendakinya, dan Allah menciptakannya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran Surat At-Talaq:2-3.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS 65:2-3).

Juga dijelaskan dalam Surat Ali Imran: 190-191 berikut ini:
Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah yang merupakan seorang ulama era kontemporer yang ahli dalam sains fiqh mengungkapkan dalam Syarh Shahih Al Bukhari tentang takdir atau kebetulan ini.
“Misalnya ada yang bertanya, “Wahai Syaikh, tadi engkau mengatakan ujian yang diajukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah secara kebetulan. Apakah pernyataan kebetulan itu dilihat dari kita –selaku manusia- ataukah dilihat dari perbuatan Allah?”

Jawabnya, “Tidak mungkin kita mengatakan bahwa perbuatan Allah itu kebetulan. Karena Allah Ta’ala telah mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Akan tetapi jika dipandang dari sisi manusia, maka kebetulan itu mungkin. Penyebutan seperti itu seringkali kita temukan dalam sunnah dengan disebut ‘kebetulan ini dan itu’. Seperti itu tidaklah masalah.

Misalnya ada yang bertanya lagi, “Bolehkah engkau berkata ‘aku telah bertemu denganmu hari ini secara kebetulan’?

Jawabnya, “Seperti itu tidaklah masalah. Karena memang dilihat dari sisi kita sebagai manusia, pertemuan ketika itu memang kebetulan, tak direncanakan sebelumnya.” (Syarh Shahih Al Bukhari)

Seseorang yang mengetahui kebenaran ini didalam hatinya, dapat menyenangi hal apapun yang ia jalani dan berkah yang terdapat di balik hal itu. Banyak orang tidak memikirkan bagaimana mereka tercipta ataupun mengapa mereka ada.

Meskipun hati nurani mereka membimbing mereka agar sadar tentang keajaiban dan sempurnanya dunia yang dimiliki oleh Sang Pencipta, banyak sekali cinta yang mereka rasakan untuk kehidupan dunia ini, atau keengganan mereka untuk menghadapi kebenaran, membawa mereka untuk menyangkal realitas mengenai keberadaan-Nya.

Mereka menolak bukti bahwa setiap kejadian dari hidup mereka telah ditentukan sesuai dengan rencana dan tujuan, tetapi perilaku mereka menunjukkan aksi yang salah, yakni menganggap hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan ataupun keberuntungan. Lantas, apakah membaca tulisan ini hanya anda anggap sebuah kebetulan? saya rasa tidak. Terimakasih sudah membaca.