Tahukah Anda Jika Merah-Putih Itu Berasal Dari Rasulullah SAW?


Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah menulis, bendera Republik Indonesia (RI), Sang Saka Merah Putih, adalah Bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak abad ketujuh masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara.

Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

Pertama, setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah? Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah, akan terlihat di dalamnya berwarna putih?
merah-putih-10
Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

Ketiga, pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jumat, mimbar Jumat di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Mansyur pun menyatakan pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia.

Mansyur menegaskan bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani,

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh”.

Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Informasi ini didapat Mansyur dari buku berjudul Kelengkapan Hadits Qudsi yang dibuat Lembaga Alquran dan Al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian Waqaf Mesir pada 1982, halaman 357-374. Buku ini dalam versi bahasa Indonesia dengan alih bahasa oleh Muhammad Zuhri.

Mansyur mengemukakan sejumlah argumen pendukung untuk memperkuat pendapatnya, yakni merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Menurut Mansyur, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam memanggil istrinya, Siti Aisyah ra, dengan sebutan Humairah yang artinya merah.

Busana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Saw marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu”.

Artinya: “Pada suatu hari Nabi sallallahu alaihi wasallam duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”.

Mansyur pun menyatakan busana warna putih juga dikenakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sedangkan pedang Sayidina Ali radi allahu anhu berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah-putih.

(kl/republika)

sumber

Iklan
Featured post

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i XII


Sunnah sunnah Tayamum

  • Apa yang di sunnah kan dalam wudhu juga di sunnah kan dalam tayamum,tetapi tidak mutlak.contoh:
  • Mengucapkan bismillahhirrahmaanirrahim., memulai membasuh /mengusap dari wajah.,
  • Mengusap tangan kanan sebelum tangan kiri.,
  • Melebihkan usapan seperti usapan rambut.,
  • Mengusap lengan atas dilebihkan.,
  • Berkesinambungan / berurutan.,
  • Membaca do’a setelah wudhu.,
  • Menyela nyela jari jemari ketika tayamum.,
  • Tayamum menghadap kiblat.,
  • Tidak meminta tolong untuk dibasuhkan /diusap kan karena hukum nya makruh.,
  • Disunnah membuka jari jemari ketika menepukkan debu supaya debu keatas mengenai sisi jari jemari.,
  • Sunnah tidak lebih dari dua tepukan karena satu tepukan untuk satu kali usapan.Begitu juga tepukan kedua bagian tangan kanan untuk bagian kiri seluruh nya begitu sebalik nya tujuan nya supaya tidak terlalu berdebu.,
  • Dia tidak mengangkat tangan nya ketika mengusap hingga selesai mengusap seluruh nya bagian yang diusapkan debu.,
  • Mengusap telapak tangan nya setelah dia mengusap wajah, tangan kanan dan kiri.

 

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i XI


Fardhu fardhu rukun-rukun Tayamum 

  1. Mesti berniat (berniat dalam hati) sunnah jika diucapkan menurut para ulama.Tayamum hanya berlaku sekali untuk satu kali sholat.Boleh mengerjakan sholat sunnah , misal ba`diyah maghrib.Tayamum harus diniatkan untuk sholat wajib kemudian mengikuti sholat sunnah.Pengecualian dengan tayamum sholat dhuha bisa di lanjutkan dengan sholat jenazah.Tayamum seperti pengganti / cadangan bersuci jika tidak ada wudhu.Wajib beriringan dengan niat mulai mengambil debu.
  2. Mengusap wajah ketika bertayamum wajib disempurnakan ,pengecualian ,memasukkan debu kedalam alis ,cukup permukaan nya saja,begitu juga dengan kumis.jika janggut nya tipis wajib disempurnakan jika tebal cukup dipermukaan saja.Sunnah menepuk ketika mengambil debu.dan ketika mengusap tidak di lepas langsung bersambung.
  3. Mengusap kedua tangan ,bagaimana pun cara nya,pertama ketika diusap bagian tangan kanan . Pengambilan debug tepukan pertama untuk wajah ,tepukan kedua untuk  tangan,tepukan ketiga untuk sela 2jari.debu pada telapak tangan kanan untuk punggung tangan kiri kemudian melingkar begitu sebalik nya.
  4. Berurutan , wajah dahulu baru kedua tangan.

​Manuver PKI Membelit Istana


Oleh: Ustad Alfian Tanjung

Paska keluarnya TAP MPRS  No. XXV/1966 yang menyatakan PKI sebagai Partai dan organisasi teralarang, orang-orang yang pernah terlibat dengan PKI terbagi menjadi dua. Pertama, PKI yang ada di Indonesia. Mereka terdiri dari tiga kelas;  A, B, dan C. Masing-masing sesuai dengan kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Golongan A adalah mereka yang memiliki kesalahan yang paling fatal dan mereka telah dieksekusi. Golongan  B, yaitu mereka yang melakukan kejahatan kelas menengah, oleh Orde Baru mereka diasingkan ke Pulau Buru. Oleh kader PKI, Pulau tersebut dijadikan judul film propaganda mereka. Adapun golongan C, yaitu kader PKI yang mendukung  aksi-aksi PKI. Jumlah mereka banyak dan berkeliaran dimana-mana. Mereka berpindah-pindah, bersembunyi dan bahkan mengganti identitas.
Kedua, orang-orang PKI yang berada di luar negeri. Setidak-tidaknya mereka melakukan tiga kegiatan, diantaranya adalah mereka yang tetap mengurus partai dengan semangat bahwa PKI tidak pernah dibubarkan. Kedua, mereka melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi di berbagai universitas  luar negeri. Seperti di Inggris,  Belanda,  Jerman,  Rusia,  maupun China. Banyak di antara mereka ada yang telah  menjadi doktor dan profesor. Terakhir adalah mereka yang bergerak di bidang bisnis.
Baik PKI dalam negeri maupun PKI luar negeri, mereka saling terhubung dan bekerja sama demi kebangkitan PKI di masa mendatang. PKI yang berada di dalam negeri bertugas mencari kader untuk kemudian dikirim ke luar negeri. Sementara PKI yang berada di luar negeri bertugas menyambut dan mengurus kader PKI yang berasal dari Indonesia. Sehingga ketika para kader PKI ini kembali ke Indonesia, mereka telah menjadi kader-kader tangguh yang nantinya menjadi mentor bagi kader PKI Indonesia.
Untuk mempertahankan eksistensinya, PKI memiliki jurus yang mereka sebut sebagai KKM. Yaitu Kemampuan Kerja di Kalangan Musuh. Kendati pintu politik telah ditutup bagi mereka, namun dengan KKM yang dipadu dengan kamuflase yang sempurna, mereka berhasil memasuki berbagai instansi pemerintahan di indonesia.Tak tanggung-tanggung, jabatan mentereng pernah mereka raih. Sebut saja Sudarmono, di zaman ORBA, tokoh PKI tulen tersebut berhasil menduduki kursi wakil presiden Indonesia.
Pasca revormasi, PKI seolah-olah mendapatkan angin segar. Berbagai aturan yang selama ini melarang PKI memasuki birokrasi dihapuskan. Terutama setelah keluarnya Undang-Undang Pemilu nomor 12 tahun 2003. Dimana pasal 60 G memuat adanya kebolehan orang-orang yang berideologi PKI menjadi apa saja di DPRD, DPR RI, legislatif, yudikatif, atau bahkan eksekutif.
Masuknya kader PKI ke berbagai instansi pemerintahan tentu memiliki tujuan yang tidak bisa diremehkan. Di antaranya adalah menghapus jejak hitam PKI. Menyatakan bahwa PKI tidak bersalah. Sebisa mungkin mereka menekan pemerintah agar meminta maaf kepada PKI. Tuntutan tersebut tidak mungkin keluar kecuali jika jumlah mereka telah terlampau banyak dan kekuatan telah berlipat ganda. Padahal permintaan maaf memiliki konsekuensi logis; meminta maaf berarti mengakui kesalahan. Jika sudah demikan, maka mau tidak mau umat Islam dan TNI yang dulu menjadi korban keganasan PKI akan menjadi pihak yang bersalah. Sebuah pemutar balikan fakta yang amat keji.
Dalam pengkoordinasian kekuatan, setidaknya PKI menggunakan tiga pola utama. pertama, pola resmi. Yaitu dengan menggunakan nama dan lambang PKI asli. Beberapa kali telah menggelar kongres. Kongers ke-8 pada tahun 2000 di Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Kongers ke-9 tahun 2005 di Cianjur Selatan. Dan yang terbaru adalah kongres ke-10, 15-17 Agustus tahun 2010 di Magelang.
Kedua, PKI Gaya Baru. Yaitu dengan menggunakan nama samaran dan lambang yang berbeda, padahal inti mereka adalah sama. Pola seperti ini diwakili oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan  Budiman Sudjatmiko. Pada tanggal 24-26 maret 2015 PRD telah melakukan kongres yang ke-8 di Hotel Akasia, Jakarta Pusat. Dari kongres tersbut terbitlah sebuaah AD/ART PRD yang sama dengan AD/ART PKI.
Ketiga, kelompok romantis

 Ydaitu golongan tua yang terbakar api dendam dan kebencian. Selain karena alasan ideologi, mereka disatukan oleh omosi dan perasaan. Rata-rata usia mereka antara 70 dan 80 tahun ke atas. Mereka dianggap sebagai pahlawan ideologi oleh kader PKI, dan dipercaya untuk memberikan penjelasan tentang doktrin marxisme, sosialis dan ateisme.
Belitan PKI di Istana Negara bukan isapan jempol belaka. Keberadaan mereka bagaikan matahari di siang bolong. Sebut saja Teten Masduki, kader PKI asal Garut, Jawa Barat, sekarang menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia. Padahal telah kita ketahui berseama bahwa tugas Staf Kepresidenan adalah memberi dukungan dan mengarahkan Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan pengendalian program-program prioritas nasional, dan pengelolaan isu strategis.
Dita Indah Sari, seorang Gerwani muda PKI. Dalam dua priode berturut-turut, Ia  menjabat sebagai staf ahli di Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Padahal pada tahun 1996 ia memiliki catatan hitam. Ia pernah ditangkap oleh polisi atas gerakan politiknya. Dalam catatan harian bertanggal 16 April 1996 yang berhasil diamankan oleh polisi, di sana tertulis, “Well, partai kita yang telah dibubarkan 31 tahun yang lalu, akan kita hidupkan lagi.”
Dan selanjutnya adalah Ribka Ciptaning, anggota DPR dari PDI Perjuangan yang datang dari Sukabumi Selatan, dimana daerah itu telah menjadi tempat diselenggarakannya kongres PKI ke-8. Dia pula yang menuliskan buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.
Kehadiran kader PKI ke dalam panggung politik membawa dampak yang sangat meresahkan bagi masyarakat. Misalnya, keluarnya himbauan kepada orang yang berpuasa agar toleransi kepada orang yang tidak berpuasa, rencana penghapusan kolom agama dalam kartu identitas warga, dan pelarangan pembacaan doa ketika membuka atau menutup kegiatan belajar dan mengajar di sekolah-sekolah formal. Semua itu tidak lain merupakan cermin dari ideologi komunis yang menjadi program mereka.
Selain menargetkan Istana Negara, mereka juga telah menguasai birokrasi kepemerintahan. Mulai dari Gubernur, Bupati, Camat, Kades, sampai Ketua RT. Semua itu dilakukan dalam rangka mensukseskan terbentuknya Negara Demorasi Komunis Indonesia. Terbukti beberapa kepada daerah berani mengutak atik Syi’ar-Syi’ar Islam yang telah membudaya bagi rakyat Indonesia.
Di jakarta misalnya, Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Jakarta yang akrab dipanggil Ahok, beberapa kali mengeluarkan surat edaran yang kontroversial. Yang tidak hanya menyakitkan hati warga yang Jakarta, tapi seluruh warga indonesia. Di antaranya adalah larangan untuk Takbir Keliling, larangan memakai jilbab di sekolah negeri, larangan pengajian di Monas, larangan kurban di masjid atau sekolah.
Sayangnya, ketika media mencoba menuturkan fakta-fakta tentang kebangkitan PKI, banyak dari kalangan umat islam Sendiri merasa ceuk, atau bahkan lebai dan mengada-ngada. Padahal fakta telah terpampang jelas di depan mata. Satu hal yang harus dijawab, “Haruskah leher umat Islam dipotong terlebih dahulu, baru mereka percaya?”
Namun, sebagai umat Islam tidak ada kata untuk menyerah, banyak hal yang bisa dilakukan. Antara lain; pertama, mengedukasi umat tentang bahaya dan realita kebangkitan PKI. Media memiliki tanggung jawab yang besar dalam membendung gerak laju PKI. Kedua, membentuk tim kecil yang fokus meneliti, mengkaji, membahas dan melaporkan perkembangan PKI. Ketiga, menghilangkan faktor-faktor pemicu tumbuhnya PKI. Seperti ketidakadilan, pengangguran, kapitalis, dan lain sebagainya.
Editor: Sahlan Ahmad (Majalah Islam An-Najah)

​KETIKA PKI MENEKAN ULAMA MEMINJAM TANGAN NEGARA


Oleh: Prof. Dr. Ing. H  Fahmi Amhar

Saya lahir ketika Orde Baru sedang mulai berkuasa,

yang saya tahu, saat itu PKI, anggota, keluarga dan pengikutnya, sedang dikejar-kejar dari lubang semut sampai lubang buaya.
Tetangga saya di-pulau-Buru-kan sepuluh tahun lamanya. Padahal di tahun 1960an, dia hanya orang-orang sederhana, yang karena takut pada PKI lalu ikut menjadi penggembira acaranya. 
Memang ada jutaan orang yang di masa Orde Baru terdholimi, baik yang masa lalunya dengan PKI membuat mereka dipersekusi. Atau juga orang-orang kritis lain yang dengan asal dituduh subversi.

Sejatinya, kejahatan Orde Baru tidak berarti memutihkan dosa-dosa PKI.
Karena, jauh sebelum Orde Baru mengejar-ngejar PKI,

justru PKI sudah biasa menekan dan membantai ulama di sana dan di sini, baik secara langsung, atau meminjam tangan negara dengan keji !!!
Zaman itu PKI juga sudah menyalahgunakan dasar negara. Para ulama yang anti komunis, dituduh Anti Pantjasila. Partai seberang, dibubarkan meminjam tangan penguasa. Para pemimpinnya dipenjarakan, tanpa pengadlan tentu saja, dan para pengikutnya dimusuhi dan dikejar sampai desa-desa.
Dan berikut ini adalah kesaksian tokoh ulama anti komunis di zaman itu, yang dipenjarakan sekian lama, PROF. BUYA HAMKA:
———————————————————————————-
Mari kita segarkan kembali ingatan kita, bahwa menegakkan kebenaran itu selalu penuh tantangan. Belum tentu yang tampak diikuti secara gegap gempita dengan segala kebesarannya adalah hal yang benar. Ulama sejati tidak boleh mundur menyuarakan kebenaran sekalipun kesesatan tampak bagai gelombang besar di hadapannya.
Pada tanggal 17 Agustus 1958, dengan suara yang gegap gempita, Presiden Soekarno telah mencela dengan sangat keras Muktamar (Konferensi) para Alim Ulama Indonesia yang berlangsung di Palembang tahun 1957. Berteriaklah Presiden bahwa konferensi itu adalah “komunis phobia” dan suatu perbuatan yang amoral.
Pidato yang berapi-api itu disambut dengan gemuruh oleh massa yang mendengarkan, terdiri dari parpol dan ormas yang menyebut dirinya revolusioner dan tidak terkena penyakit komunis phobia. Sebagaimana biasa pidato itu kemudian dijadikan sebagai bagian dari ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi, semua golongan berbondong-bondong menyatakan mendukung pidato itu tanpa reserve (tanpa syarat).
Malanglah nasib alim-ulama yang berkonferensi di Palembang itu, karena dianggap sebagai orang-orang yang kontra revolusi, bagai telah tercoreng arang. “Nasibnya telah tercoreng di dahinya”, demikian peringatan Presiden. Banyak orang yang tidak tahu apa gerangan yang dihasilkan oleh alim-ulama yang berkonferensi itu, karena disebabkan kurangnya publikasi (atau tidak ada yang berani) yang mendukung konferensi alim-ulama itu, publikasi-publikasi pembela Soekarno dan surat-surat kabar komunis telah mencacimaki alim-ulama kita.
Perlulah kiranya resolusi Muktamar Alim-Ulama ini kita siarkan kembali agar menyegarkan ingatan umat Islam dan membandingkannya dengan Keputusan Sidang MPRS ke IV yang berlangsung bulan Juli 1966 lalu.
Muktamar yang berlangsung pada tanggal 8 – 11 September 1957 di Palembang telah memutuskan bahwa :

1. Ideologi-ajaran komunisme adalah kufur hukumnya dan haram bagi umat Islam menganutnya.

2. Bagi orang yang menganut ideologi-ajaran komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, kafirlah dia dan tidak sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka mempusakai dan haram jenazahnya diselenggarakan (tata-cara pengurusan) secara Islam.

3. Bagi orang yang memasuki organisasi atau partai-partai berideologi komunisme, PKI, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat dan lain-lain tiada dengan keyakinan dan kesadaran, sesatlah dia dan wajib bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut.
Demikian bunyi resolusi yang diputuskan oleh Muktamar Alim-Ulama Seluruh Indonesia di Palembang itu. Resolusi yang ditandatangani oleh Ketua K.H. M. Isa Anshary dan Sekretaris Ghazali Hassan. Karena resolusi yang demikian itulah para ulama kita yang bermuktamar itu dikatakan oleh Presidennya sebagai amoral (tidak bermoral/kurangajar).
Akibat dari keputusan Muktamar tersebut, alim-ulama kita yang sejati langsung dituduh sebagai orang-orang tidak bermoral, komunis phobia, musuh revolusi dan sebagainya. Maka K.H. M. Isa Anshary sebagai ketua yang menandatangani resolusi itu pada tahun 1962 dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama kurang lebih 4 tahun. Dan banyak lagi alim-ulama yang terpaksa menderita dibalik jeruji besi karena dianggap kontra revolusi. 
Terbengkalai nasib keluarga, habis segala harta-benda bahkan banyak di antara mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Semua itu tidak menjadi pikiran Soekarno. Di samping itu, ada “ulama” lain yang karena berbagai sebab memilih tunduk tanpa reserve pada Soekarno dengan ajaran-ajaran yang penuh maksiat itu, bermesra-mesra dengan komunis di bawah panji Nasakom.
Bertahun lamanya masa kemesraan dengan komunis itu berlangsung di negara kita, dalam indoktrinasi, pidato-pidato Nasakom dipuji-puji sebagai ajaran paling tinggi di dunia. Dan ulama yang dipandang kontra revolusi yag telah memutuskan komunis sebagai paham kafir yang harus diperangi, dihina dan setiap pidato dan dalam setiap tulisan. Meskipun sang ulama sudah meringkuk dalam tahanan, namun namanya tetap terus dicela sebagai orang paling jahat karena anti Soekarno dan anti komunis.
Nasehat dan fatwa ulama yang didasarkan kepada ajaran-ajaran Al Qur’an, dikalahkan dengan ajaran-ajaran Soekarno melalui kekerasan ala komunis.
Rupanya Allah hendak memberi dulu cobaan bagi rakyat Indonesia. Kejahatan komunis akhirnya terbukti dengan Gestapu-nya. Allah mencoba dulu rakyat Indonesia sebelum Dia membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh alim-ulama itu hampir sepuluh tahun lalu.
Sidang MPRS ke IV pun telah mengambil keputusan mengenai komunis dan ajaran-ajarannya sebagai berikut :

“Setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan paham atau ajaran tersebut adalah DILARANG”.
Dengan keputusan MPRS tersebut, apa yang mau dikata tentang alim-ulama kita yang dulu dikatakan amoral oleh Soekarno? Insya Allah para alim-ulama kita dapat melupakan semua penghinaan dan penderitaan yang dilemparkan kepada mereka. Dan sebagai ulama mereka tidak akan pernah bimbang walau perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan itu pasti akan beroleh ujian yang berat dari Tuhan.
Watak ulama adalah sabar dalam penderitaan dan bersyukur dalam kemenangan.
Ulama yang berani itu telah menyadarkan dirinya sendiri bahwa mereka itu adalah ahli waris para nabi.
Nabi-nabi banyak yang dibuang dari negeri kelahirannya atau seperti yang dialami Nabi Ibrahim a.s. yang dipanggan dalam api unggun yang besar bernyala-nyala, seperti Nabi Zakariya a.s. yang gugur karena digergaji dan lain-lain nabi utusan Allah.
Hargailah putusan Muktamar Alim-Ulama di Palembang itu, karena akhirnya kita semua telah membenarkannya. Bersyukurlah kita kepada Tuhan bahwa pelajaran ini dapat kita petika bukan dari menggali perbendaharaan ulama-ulama lama tapi hanya dalam sejarah 10 tahun yang lalu.
(Disarikan dari Kumpulan Rubrik Dari Hati ke Hati, Majalah Panji Mas dari 1967 – 1981, terbitan Pustaka Panji Mas hal 319)

Ringkasan kajian Fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i X


Sebab sebab Tayamum 

  1. Tidak ada air .tayamum itu jika tidak ada air.Atau ada tetapi tidak bisa digunakan ,contoh : air nya untuk minum , ada air di suatu tempat tetapi berbahaya untuk mengambilnya, ada singa disekitarnya.ada air tetapi jauh radisu jaraknya 2,5 Km .jika ada air yang dijual dengan harga pasaran maka wajib wudhu dengan air itu tidak boleh tayamum.selama ada jalan untuk menemukan air wajib wudhu tidak boleh tayamum.Jika air ada meskipun sedikit wajib pakai sisanya bisa diteruskan dengan tayamum.jika ada air tetapi terhalang menggunakan maka air dianggap tidak ada.
  2. Ada air ,tetapi tidak bisa digunakan berbahaya,contoh : sakit ,perban.bahkan kata ulama jika menggunakan air membahayakan nyawa maka wajib tayamum.begitu juga kondisi yang sangat dingin.

Kemaluan, mata dan lisan 


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Sejenak Pagi:
Ada 2 bagian tubuh kita yang kita tak sadar betapa bahayanya jika ia lepas, laksana anak panah yang menghujam..

sangat berbahaya…
“Kemaluan dan mata,” demikian menurut Imam As-Suyuthi, “Dikancing Alloh dengan sepasang anggota badan. Kemaluan dengan kaki, mata dengan kelopak.”
“Tapi khusus lisan, dikunci Alloh dengan segel ganda. Sepasang bibir sekaligus sepasang deretan gigi di atas gusi. Sebab, betapa banyak manusia ditelungkupkan ke neraka oleh kata-katanya.”
“Betapa banyak ucapan yang kalian anggap biasa,” ujar Sayyidina ‘Abdullah ibn Mas’ud pada para tabi’in muridnya, “padahal dulu di masa Rasululloh saw kami menganggapnya sebagai pembinasa.” Masyaa Alloh!
Adalah Abu Dzar Al-Ghiffary pernah berkata kepada Sayyidina Bilal ibn Rabah ketika sedang jengkel padanya, “Hai anak budak hitam!”
Meski ini khilaf, tapi Sang Nabi menunjuk wajah Abu Dzar dengan marah dan bersabda, “Engkau… di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliah…”
Maka Abu Dzar merebahkan dirinya, menaburi wajahnya dengan debu pasir lalu berkata, “Wahai Bilal, kemarilah, injak kepalaku, injak wajahku… Agar menjadi penebus dosaku di sisi Alloh padamu…”
Dan muadzin kesayangan Rasululloh saw itu tersenyum berkata, “Aku menjadikannya simpanan kebaikan di sisi Alloh.”
Maka adalah wajar jika Baginda bersabda, tanda iman pada hari kiamat adalah berkata yang BAIK atau DIAM.
Apa yang keluar dari lisan kita, mencerminkan isi kepala kita. 
Dan memang demikianlah adanya. Layaknya teko, ia tak akan mengeluarkan sesuatu selain isi kandungannya. 
Tak akan bisa mengelabui!
Maka bagaimana mungkin seorang muslim atau muslimah yang setiap hari hiasannya adalah taklim dan ayat-ayat Al-Quran, tapi memiliki perkataan begitu tajam menghujam, kepada asisten rumahnya, anak-anaknya atau bahkan juga kepada pasangannya atau org lain.
Ah prihatinnya!

Baiknya pikirkan dulu sebelum berkata, karena akan meninggalkan luka yang mungkin tak terlupakan. 
Andai kita atau keturunan kita diperlakukan yang sama, tentu kita pun tidak akan rela!
Semoga menjadi lebih baik dan bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin
😊❤👍

Ringkasan kajian Fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i IX


Tayamum

Menyampaikan debu ke wajah dan kedua tangan sebagai ganti wudhu dan mandi atau salah Satu dari wudhu dan mandi atau salah Satu anggota badan yang tidak bisa berwudhlu misalnya perban dengan syarat syarat tertentu.

Merupakan bentuk kekhususan ummat Nabi Muhammad SAW dalam hal bentuk kemudahan bersuci.

Salah Satu nya bumi dijadikan tempat sholat dimana pun berada.

Debu debu di jadikan alat bersuci

Tayamum tbisa menggantikan wudhu ,dan mandi tetapi tidak bisa di jadi kan untuk membersihkan najis.

Cara tayamum secara umum.

  1. Tayamum itu dua Kali tepukan.tepukan pertama untuk diusapkan ke wajah secara merata tepukan kedua untuk tangan siku.yang jelas harus merata jika belum merata berarti belum Satu tepukan.
  2. Tayamum harus dengan debu dalam Mahzab syafi’i jika dalam Mahzab Maliki asal permukaan bumi sudah mencukupi.
  3. Debu yang di maksud adalah debu yang halus bertebaran jika ditepuk
  4. Debu yang digunakan harus debu murni tidak bercampur dengan say lain.
  5. Tidak masalah jika warna debu dari tanah berwarna macam macam .selama asli bentuk warna tanah memang seperti itu.

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i VIII


Mengusap perban ketika ingin bersuci

Diboleh kan mengusap perban .

  1. Tetapi jika bisa dibuka perban dan tidak berbahaya.maka wajib di buka.
  2. Kalau ingin menutupi luka nya dengan perban, harap jangan terlalu besar.
  3. Meletakkan nya harus dalam keadaan suci.

Cara mengusap perban ketika bersuci.Jika bisa di lepas tidak membahayakan tidak mengapa .Jika perban nya di lepas berbahaya tidak diperkenankan .

  1. Mengusap bagian yang di perban
  2. Membasuh bagian yang sehat ,seperti wudhu biasa.ketika wilayah perban di usap merata.
  3. Tayamum ,ketika selesai membasuh yang di perban ,atau tayamum dulu.tetapi lebih afdhol tayamum dulu.sebagai wakil bagian yang tak tersentuh air.
  4. Ketika ingin melanjutkan sholat selanjutnya maka wajib mengulangi tayamum nya saja yang diulangi.
  5. Jika luka nya sembuh dan bisa untuk berwudhu maka sholat sholat sebelum nya tidak perlu di qodo.

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i VII


Tentang mengusap dua khuf (seperti kaus kaki tebal terbuat dari kulit) .

Dua sepatu yang di pakai seseorang yang menutupi mata kaki nya disebut khuf.

Merupakan rukshah (keringanan) untuk ummat Islam sebagai pengganti membasuh kaki baik laki laki maupun perempuan ,khususnya dalam keadaan dingin,perjalanan, orang yang melakukan pekerjaan yang menggunakan sepatu terus menerus.

Syarat syarat.

  1. Ketika memakai sepatu harus suci terlebih dahulu  (berwudhu).Harus sempurna wudhu nya membasuh kedua kaki
  2. Sepatu yang digunakan menutupi kaki yang harus di basuh . sampai mata kaki.
  3. Sepatu tidak tembus air . termasuk kaus kaki.
  4. Sepatu yang digunakan tidak rusak, kuat.bisa di gunakan berjalan 1 hari 1 malam bagi yang bermukim ,3 hari 3 malam bagi musafir.
  5. Sepatu yang di gunakan harus suci dari najis.

Khuf ini hanya di jual di Arab . tidak di Indonesia.bentuk nya seperti kaus kaki tetapi tebal.pendek menutupi mata kaki.

Batas pemakaian khuf yang diusap 1 hari 1 malam bagi pemukim.musafir 3 hari 3 malam.

Cara nya :

Cukup membasahi tangan dan diusap di punggung kaki.

Yang afdhol menggunakan dua tangan kanan dan kiri.tangan kanan untuk bagian atas tangan kiri untuk bagian bawah.bagian atas ditarik kebelakang bagian bawah ditarik kedepan.

3 perkara yang membatalkan usapan khuf

  1. Jika sudah dibuka khuf nya maka batal.harus di ulang kembali.
  2. Batal jika habis masa nya, awal nya mulai hadats.
  3. Batal terjadi karena perkara 2 mandi.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑