Tahukah Anda Jika Merah-Putih Itu Berasal Dari Rasulullah SAW?


Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah menulis, bendera Republik Indonesia (RI), Sang Saka Merah Putih, adalah Bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak abad ketujuh masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara.

Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

Pertama, setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah? Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah, akan terlihat di dalamnya berwarna putih?
merah-putih-10
Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

Ketiga, pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jumat, mimbar Jumat di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Mansyur pun menyatakan pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia.

Mansyur menegaskan bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani,

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh”.

Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Informasi ini didapat Mansyur dari buku berjudul Kelengkapan Hadits Qudsi yang dibuat Lembaga Alquran dan Al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian Waqaf Mesir pada 1982, halaman 357-374. Buku ini dalam versi bahasa Indonesia dengan alih bahasa oleh Muhammad Zuhri.

Mansyur mengemukakan sejumlah argumen pendukung untuk memperkuat pendapatnya, yakni merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Menurut Mansyur, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam memanggil istrinya, Siti Aisyah ra, dengan sebutan Humairah yang artinya merah.

Busana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Saw marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu”.

Artinya: “Pada suatu hari Nabi sallallahu alaihi wasallam duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”.

Mansyur pun menyatakan busana warna putih juga dikenakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sedangkan pedang Sayidina Ali radi allahu anhu berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah-putih.

(kl/republika)

sumber

IMAM BUKHARI, AHLI HADITS YANG DIRINDUKAN RASULULLAH SAW.


Penyusun kitab fenomenal Shahih al-Bukhari ini memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim ibn al-Mughirah bin Bardizbah. Imam yang lahir pada 13 Syawwal 194 H ini pernah mengalami kebutaan di waktu kecil, namun penyakit itu sirna setelah sang ibunda bermimpi dengan Nabi Ibrahim as. Di dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Allah SWT telah mengembalikan penglihatan anakmu, karena tangisanmu dan banyaknya doa yang kau lafalkan”.

Dalam usia 10 tahun, beliau telah hafal ribuan hadis. Bahkan dalam usia 11 tahun, ia berani mengoreksi seorang ulama yang salah menyebutkan sanad hadis. Usia 16 tahun beliau mampu menghafal karya-karya Ibnu al-Mubarak dan Waki’. Ketika haji bersama ibu dan saudaranya Ahmad, ia tidak mau pulang dan memilih menetap di Mekah demi mencari hadis. Menjelang usia 18 tahun, ia sudah mendokumentasikan putusan-putusan sahabat Nabi, Thabi’in, dan fatwa-fatwa mereka.

Salah satu karya monumentalnya, al-Tarikh, ditulis di samping makam Rasulullah SAW di tengah malam hari. Saat di Madinah, Imam Bukhari senantiasa menghabiskan malam di samping makam Rasulullah, memanjatkan shalawat dan salam serta bertawassul dan berdoa agar usahanya dimudahkan dan dikuatkan dalam meneliti dan menghimpun hadits-hadits shahih dari Rasulullah.

Di masa kecilnya, ia pernah berbeda pendapat dengan seorang ulama fikih dari Marwa, hingga ia mengejek al-Bukhari.

“Sudah berapa kitab yang kamu tulis hari ini?”, tantang ulama itu dan al-Bukhari langsung menjawab, “Dua kitab dan aku menolak dua hadis tersebut”.

Jawaban itu mengundang gelak tawa hadirin yang menyaksikannya. Namun seorang ulama yang hadir di majelis itu berkata, “Jangan ditertawakan, karena suatu saat kalian yang akan ditertawakan olehnya.”

Beliau banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara demi mengumpulkan hadis Nabi. Ia pernah mengunjungi Balk, Marwa, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Syam, dan lain-lain. Diantara guru-gurunya adalah Makki bin Ibrahim, Abdan bin Usman, Yahya bin Yahya, Ibrahim bin Musa, abi ashim al-Nabil, dan Ubaidullah bin Musa.

Ia juga telah berhasil mengkader ulama-ulama ternama, seperti Abu Isa al-Tirmidzi, Abu Hatim, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, dan Muhammad bin Abdullah al-Hadlrami Muthayyan. Bahkan, Imam Muslim, yang namanya seringkali disandingkan dengan al-Bukhari, pernah mengunjunginya seraya berkata, “Biarkan aku mencium kedua kaki mu wahai gurunya para guru, tuannya para ulama hadis, dan tabib hadis yang mampu mengungkap kecatatan (‘illat) hadis”.

Abu Yazid pernah bermimpi dengan Rasulullah ketika tidur di antara Rukun Yamani dan kuburan Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad berkata padanya, “Wahai Abu Yazid, sampai kapan kamu hanya mempelajari kitabnya al-Syafii dan mengapa kau tidak mempelajari kitabku ini?”

Yazid menjawab,”Wahai Rasul, kitab apa yang engkau maksud?” Beliau menjawab,“Jami’ al-Shahih karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.

Terkait pengalaman al-Bukhari menulis kitab hadis, ia tidak akan menulis hadis sebelum mandi dan shalat dua raka’at terlebih dahulu. Ketika menulis kitab Shahih al-Bukhari, ia tidak memasukkan satu hadis pun di dalamnya kecuali hanya hadis-hadis shahih, meskipun tidak semua hadis shahih yang terhimpun di dalamnya.

Seorang raja di masanya pernah megutus seseorang untuk meminta al-Bukhari mengajarkan Shahih al-Bukhari, al-Tarikh, dan karangan lainnya kepadanya secara privat. Namun al-Bukhari berkata kepada utusan tersebut,“Sesungguhnya kami tidak merendahkan ilmu dan tidak mengajarkannya kerumah-rumah. Jika engkau membutuhkan ilmu, datanglah ke masjid atau rumah saya”.

Dikisahkan pula bahwa Imam al-Bukhari memiliki tiga sifat terpuji: beliau sedikit bicaranya, tidak tama’, dan tidak sibuk dengan urusan manusia, karena sibuk mencari ilmu. Saking seriusnya, setiap bulannya beliau mendapatkan 500 dirham, tapi semuanya diinfakkan demi mencari ilmu.

Beliau pernah sakit parah menjelang wafatnya. Ketika dibawa ke Samarqand, tubuhnya melamah dan berpesan kepada para sahabatnya agar dikafani dengan tiga baju putih, bukan gamis dan bukan pula sorban. Ahli hadis yang memiliki postur tubuh sedang ini menghembuskan nafas terakhirnya pada hari sabtu, malam idul fitri tahun 256 H dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Di saat proses pemakamannya, keluar aroma wangi di dalam kuburnya yang harumnya melebihi minyak kasturi. Aroma wangi ini masih tercium hingga berhari-hari. Tak ayal sebagian besar penduduk membincang kebaikan al-Bukhari karena saking kagum kepadanya.

Pada saat yang sama, ‘Abdul Wahid bin Adam bermimpi dengan Rasulullah SAW yang sedang bersama para sahabatnya. Di dalam mimpinya itu, Rasulullah berhenti di suatu tempat dan ‘Abdul Wahid bertanya kepadanya, “Mengapa berhenti di sini wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.

Tak lama kemudian, beredarlah kabar kematian sosok yang ditunggu Rasulullah tersebut.

—–

Tabungan di Bank Syariah Bukan Wadiah


Bank syariah menyebut tabungan yang disetorkan nasabah sebagai wadiah. Namun konsekuensi akad tabungan di bank sama sekali tidak sesuai dengan konsep wadiah menurut aturan syariat. Para ulama menyimpulkan, tabungan di bank adalah utang.

Oleh Ustad Kholid Syamhudi, Lc.

Kita awali kajian ini dengan menyoal hakikat menabung di bank, lalu kita bahas hukum syariatnya.

Menabung atau Memberi Utang?

Penabung di bank baik konvensional maupun syariah mengenal istilah rekening bank. Rekening adalah daftar catatan muamalat (transaksi) antara nasabah dan bank (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya Husain Kamil, majalah Mujamma’ al-Fiqh al-Islami No. 9 juz 1 hal. 689). Rekening ini dinamakan dalam bahasa Arab dengan al-hisab al-jari (perhitungan yang berjalan), atau dalam bahasa kita dikenal dengan account. Dinamakan al-hisab al-jari karena terus bergerak, bertambah atau berkurang (lihat Bunuk Tijariyah bila Riba, hal. 74).

Sementara simpanan rekening bank, inilah tema yang kita kaji, didefinisikan dengan “uang yang dititipkan oleh pemiliknya di sebuah bank, dan bank siap membayarkan kepada pemiliknya kapan pun dia mengambilnya”(lihat Mu’jam al-Mushthalahat at-Tijariyah wal Maliyah wal Mashrafiyah, hal. 269; al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Hasani, hal. 70; Buhuts fi Qadhaya Fiqhiyah Muashirah karya Qadhi al-Utsmani, hal. 350).

Berdasarkan penjelasan tersebut, menabung di bank memiliki dua hal penting. Pertama, bank memegang tabungan (rekening) dan memiliki hak untuk mengembangkannya, serta mengikat dirinya untuk bersedia mengembalikan uang yang ketika diambil pemiliknya. Dan kedua, bank mengharuskan dirinya untuk mengembalikan dana tersebut apa pun risikonya, sehingga bank bertanggung jawab terhadap semua bentuk kehilangan dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Majma’ al-Fiqh al-Islami di bawah Liga Muslim Dunia memberikan keputusan No. 86, 3/9  tentang tabungan sebagai berikut: “Tabungan bank, baik di bank Islam maupun bank konvensional, adalah utang dari sudut pandang fikih. Bank penerima tabungan adalah pihak yang bertanggung jawab dan secara sah mengharuskan dirinya untuk mengembalikannya kepada penabung saat dia menariknya dan keadaan bank (debitur) yang kaya tidak mempengaruhi hukum utang.”

Keputusan tersebut berdasarkan dua alasan. Pertama, bank memegang tabungan (rekening) dan memiliki hak untuk beraktivitas dengan dana yang dia kumpulkan, serta mengikat dirinya untuk mengembalikan uang yang senilai  saat pemiliknya menariknya. Status tabungan ini semakna dengan utang, sekalipun dinamakan titipan (tabungan). Namun penamaan ini tidak sesuai dengan hakikat secara syar’i.

Karena jika disebut titipan (baca: wadiah), bank tidak berhak menggunakan dana tersebut. Titipan berpijak kepada prinsip penjagaan dan harus dikembalikan barangnya apa adanya (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Hasani, hal. 103 )

Sebagian orang menyanggahnya, bahwa tindakan bank terhadap dana tabungan berpijak kepada izin nasabah, karena demikianlah yang umumnya berlaku di masyarakat kita. Tentunya ini tidak mengeluarkan titipan dari maknanya, selama masih ada unsur penjagaan dengan tetap mengembalikan yang semisal (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Amin, hal. 234).

Bantahan: Sanggahan di atas tidak bisa diterima. Aktivitas bank terhadap tabungan nasabah telah mengeluarkannya dari statusnya dari hukum titipan (wadiah), sekalipun dengan izin pemiliknya. Jika bentuk aktivitasnya dengan mengambil manfaat dan barangnya masih utuh, maka ia adalah pinjaman (’Aariyah). Namun bila yang memegang titipan menggunakannya sampai habis, seperti dana tabungan, maka statusnya adalah utang yang wajib diganti.

Kedua, bank mengharuskan dirinya mengembalikan dana yang semisal pada saat penabung menariknya, dan bank bertanggung jawab atas segala risiko terhadap tabungan nasabah, baik karena kelalaian bank atau tidak. Fenomena ini jelas merupakan konsekuensi akad utang-piutang. Lain halnya dengan titipan. Barang titipan harus dikembalikan sebagaimana apa adanya dan penerimanya tidak bertanggung jawab terhadap segala risiko, kecuali bila dia melakukan pelanggaran padanya atau melalaikannya (lihat ar-Riba wal-Muamalat al-Mashrafiyah, hal. 347; dan Buhuts fi Qadhaya Fiqhiyah Muashirah, hal. 253).

Alasan tersebut disanggah. Keharusan bank mengembalikan saat terjadi kehilangan sekalipun bank tidak melakukan tindak pelanggaran padanya atau lalai hanyalah berlaku sesuai dengan kebiasan transaksi perbankan. Tentunya hal ini tidak sejalan dengan aturan titipan syar’i (wadiah), yang merupakan amanat yang tidak mendapat jaminan keamanan, selama  tidak terjadi pelanggaran atau kelalaian (lihat al-Masharif al-Islamiyah karya al-Haiti, hal. 264).

Bantahan: Sanggahan di atas dijawab, hakikat-hakikat syar’i tidak patut dibenturkan dengan kebiasaan perbankan dan hakikat tersebut tidak berubah karenanya. Terjadinya hal itu hanyalah disebabkan opini bahwa uang-uang tersebut adalah titipan (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah, hal. 101).

Ada sebagian yang menyelisihi keterangan di atas dengan dasar beberapa argumen.

Pertama, rekening tersebut berada dalam kewenangan nasabah. Dia bisa menarik dana secara keseluruhan kapan pun diinginkan, tanpa terhambat syarat apa pun. Inilah makna titipan (wadiah). (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Amin, hal. 233)..

Bantahan:  Maksud titipan adalah mengembalikannya saat diminta pemiliknya. Juga agar orang yang dititipi, tidak melakukan aktivitas terhadap barang yang dititipkan. Sementara itu bank bisa beraktivitas terhadap dana nasabah dan mengembalikan gantinya. Ini sama persis dengan utang (lihat al-Manfa’ah wal Qardh, hal. 304).

Kedua, tujuan penabung bukan meminjamkan uangnya kepada bank. Juga tidak bermaksud melakukan kongsi dengan bank untuk mencari keuntungan. Namun hanya ingin menyimpan uangnya di bank agar bank menjaganya. Selama penabung tidak bermaksud mengutangkan, tidak patut disebut utang (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Amin, hal. 233).

Bantahan:  Alasan tersebut disanggah. Keadaan penabung yang tidak bermaksud memberi utang kepada bank tidak mempengaruhi hakikat transaksi. Karena kebanyakan penabung tidak peduli beda makna utang dan titipan, dan bagi mereka, terminologi itu tidak penting. Yang penting bagi mereka adalah hasil riil. Nasabah tidak akan bersedia menabung jika tanpa ada jaminan dan tanggung jawab terhadap segala risiko. Adanya jaminan dan tanggung jawab terhadap segala risiko itu berlaku untuk utang bukan titipan. Sementara itu pihak bank tidak menerima tabungan kecuali dengan tujuan memutar dana tersebut. Inilah utang yang sejatinya, sehingga terbukti bahwa tujuan mereka adalah memberi utang, bukan menitipkan, sebagaimana yang dikupas dalam tinjauan fikih. Dalam akad yang dilihat adalah hakikatnya, bukan namanya (lihat Ahkam al-Wada`i’ al-Mashrafiyah dalam Buhuts fi Qadhaya Fiqhiyah Muashirah, hal. 253).

Ketiga, bank tidak menerima uang tabungan sebagai utang-piutang. Tetapi sebagai titipan. Buktinya, bank memungut biaya administrasi atas penjagaannya terhadap uang tersebut dengan tetap sangat berhati-hati beraktivitas terhadap harta dan mengembalikannya dengan segera saat pemiliknya memintanya (lihat al-Wada`i’ al-Mashrafiyah karya al-Amin, hal. 233).

Bantahan: Alasan tersebut tidak bisa diterima, karena bank memungut biaya demi pelayanan yang diberikan kepada penabung seperti menerbitkan daftar cek, kartu ATM dan sebagainya. Bukan demi penjagaan yang diberikan bank. Sementara pernyataan bahwa bank menggunakan dana tersebut dengan sangat hati-hati, tidak bisa diterima. Karena bank mencampur uang nasabah dan menggunakannya seolah-olah pemilik yang sebenarnya.

Kalaupun kita bisa menerima alasan bank bertindak ekstra hati-hati, hal itu karena pertimbangan sisi-sisi kerugiannya. Ada pun alasan bank mengembalikannya dengan segera, hal itu berpijak kepada kebiasaan akad di antara kedua belah pihak, serta demi menjaga kepercayaan masyarakat serta menarik minat pemilik uang untuk menabung di bank (lihat al-Manfa’ah wal Qardh, hal. 305).

Kemudian nasabah berhak menuntut ganti utang (uang yang dia pinjamkan ke bank) saat itu juga. Karena memang dalam tanggungan bank saat itu juga, dia berhak menagihnya. Sebagaimana utang yang sudah jatuh tempo. Selain itu permintaannya merupakan sebab yang mewajibkan bank mengembalikan semisalnya atau seharga dengannya, maka ia menjadi kontan saat itu juga (lihat Bada`i’ ash-Shana`i’ 7/396 dan Aqd al-Qardh fi asy-Syaria’ah al-Islamiyyah karya Nazih Hammad, hal. 61).

Kesimpulan: pendapat yang kuat berdasarkan sudut pandang fikih menyatakan tabungan bank adalah utang, bukan titipan (wadiah). Hal ini karena dua alas an:

Pertama, hakikat syar’i uang sejalan dengan definisi utang: “Menyerahkan uang kepada orang lain untuk dimanfaatkan dan mengembalikan gantinya” (lihat Radd al-Muhtar 5/161, Bulghah as-Salik 3/290, dan Mughni al-Muhtaj 3/29).

Kedua, tanggung jawab menjamin secara mutlak, baik karena kelalaian bank atau di luar itu. Aturan ini sejalan dengan akad utang-piutang. Berbeda dengan titipan yang berpijak pada prinsip penerimanya orang yang dipercaya, sehingga dia tidak bertanggung jawab kecuali bila melanggar atau lalai (lihat Bada`i’aash-Shana`i’ 6/211, at-Taj wal Iklil 7/268, dan Aqd al-Wadi’ah fi asy-Syaria’ah al-Islamiyyah karya Nazih Hammad, hal. 61).

Apabila jelas hakikat menabung adalah memberikan utang kepada pihak bank, maka diharamkan adanya profit keuntungan atas tabungan tersebut, karena itu adalah riba. Demikian juga, layakkah pihak bank mengambil biaya administrasi atas tabungan yang pada hakikatnya utang-piutang? Masihkah ingin menabung dengan membayar administrasi dan mengambil keuntungan darinya?*

Resume:

  1. Tiga catatan penting terkait hakikat tabungan di bank:
  2. Bank berhak memanfaatkan dana yang dikumpulkan nasabah sesuai kebutuhan bank.
  3. Bank siap untuk mengembalikan dana tersebut, kapan pun yang diinginkan nasbah.
  4. Bank Menanggung segala risiko yang terjadi terhadap tabungan nasabah, baik karena keteledoran bank atau di luar itu.
  5. Para ulama menyimpulkan bahwa tabungan dengan tiga karakter di atas, hakikatnya adalah transaksi utang, di mana nasabah memberi pinjaman (utang) kepada bank.
  6. Sebagian kalangan menyebut tabungan di bank sebagai wadiah. Pernyataan ini tidak bisa diterima, karena beberapa alasan:
  7. Dalam akad wadiah, pihak yang dititipi tidak berhak memanfaatkan barang yang dititipkan. Padahal dana nasabah, sepenuhnya dimanfaatkan bank
  8. Dalam akad wadiah, pihak yang dititipi tidak menanggung risiko yang menimpa barang titipan, karena statusnya murni amanah. Sementara dalam transaksi tabungan,         bank mendedikasikan dirinya untuk menanggung segala risiko terhadap dana yang           disimpan di bank.
  9. Para ulama mendefinisikan mengutangi sebagai: menyerahkan uang kepada orang lain untuk dimanfaatkan dan wajib mengembalikan gantinya.

sumber

Gaji Ditransfer via Bank Konvensional


Sy seorang karyawan yang gajinya di transfer ke bank konvensional yg telah bekerjasama sebelumya dgn perusahaan kami, Apa yang harus sy lakukan ? Apakah sy harus mencairkan dana semuanya tanpa sisa?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat beberapa keterangan dari para ulama, yang mengisyaratkan bolehnya membuat rekening bank, untuk memanfaatkan jasa bank, semacam transfer gaji atau yang lainnya. Di antaranya:

Fatwa ahli hadis abad ini, Muhammad Nasiruddin Al-Albani rahimahullah. Dalam program Silsilatul Huda wan Nur, beliau ditanya:

Terkait gaji beberapa pegawai yang diambil melalui bank, apakah gaji pegawai ini haram, karena termasuk harta riba?

Beliau memberikan jawaban:

“Saya tidak menganggap hal itu (gaji mereka termasuk riba). Karena yang saya tahu, mereka tidak melakukan hal itu karena keinginan mereka, tapi sebagai aturan yang wajib mereka ikuti. Yang penting gaji itu sampai kepada pegawai dengan jalan yang halal. Akan tetapi jika gaji itu harus melalui fase yang tidak halal, seperti ditabung dulu di bank maka itu di luar tanggung jawab pegawai, namun dia harus berusaha untuk mengambil uang tersebut sesegera mungkin. (Silsilah Huda wan Nur, rekaman no.387).

Keterangan beliau ini juga dinyatakan oleh Lajnah Daimah.

Pada kasus pertanyaan yang sama, ada seorang pegawai yang gajinya ditransfer melalui bank ribawi.

Jawaban Lajnah Daimah,

لا بأس بأخذ الرواتب التي تصرف عن طريق البنك؛ لأنك تأخذها في مقابل عملك في غير البنك، لكن بشرط أن لا تتركها في البنك بعد الأمر بصرفها لك من أجل الاستثمار الربوي

“Tidak masalah mengambil gaji yang ditransfer melalui bank. Karena pegawai ini mengambil gaji sebagai imbalan dari pekerjaan yang dia lakukan, yang tidak ada kaitannya dengan bank. Akan tetapi dengan syarat, jangan sampai ditinggal di bank untuk dibungakan, setelah gaji itu ditransfer ke rekening pegawai.” (Fatawa Lajnah, no. 16501)

Syarat yang disampaikan Lajnah Daimah, bahwa gaji yang sudah ditransfer harus segera diambil. Ini bertujuan agar nasabah tidak mengendapkan dananya di bank ribawi, yang nantinya akan dimanfaatkan bank untuk mengembangkan riba.

Sebagaimana hal ini juga ditegaskan dalam kumpulan Fatwa Syabakah Islamiyah. Dalam salah satu fatwanya dinyatakan,

“Bahwa transfer gaji melalui bank, meskipun bukan untuk tujuan membungakan uang, tetapi dana tersebut akan dimanfaatkan bank untuk transaksi mereka yang penuh dengan riba maka hukumnya tidak diperbolehkan, karena termasuk membantu orang lain untuk maksiat.” (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 115367)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber artikel: KonsultasiSyariah.com

sumber

Pencarian Kebenaran dalam Al-Qur’an


*Copas dari fb teman dari grup WA nya,  saya berharap dgn yakin. Hal ini akan menambah keimanan dan kecintaan Kita kpd Al-Quranul Kariim*
Sbg info :
Tulisan dari, Eka Pratama  Alumni Mesin ITB 2002..inspiratif
PERJALANAN MENCARI KEBENARAN
Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya bukan ustadz. Saya hanya seorang “truth seeker” yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena Allah, dan bukan karena yang lain. Tulisan ini pun request dari seseorang (yang dekat) yang bertanya pada saya mengenai temannya, yang memiliki pertanyaan unik mengenai Al-Qur’an. Tentang mengapa ayat Al-Qur’an sering kali sulit dimengerti? 
Mengapa ayat-ayat nya seperti meloncat-loncat dan tidak tersusun secara sistematis?

Bagaimana cara meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? 

Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an?
Mendengar pertanyan-pertanyaan ini seperti dejavu. Teringat pertanyaan-pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang bahkan lebih liar dari ini. Tapi Alhamdulillah… Justru pertanyaan-pertanyaan seperti itulah, yang jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni untuk mencari kebenaran (bukan kesombongan), kemudian kita menemukan jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan. 
Tulisan ini mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas. Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya dan dipakai untuk memotivasi.  Motivasi untuk terus mencari jawaban, menggunakan segala potensi yang kita miliki, termasuk akal. Dan akal bukanlah logika tanpa batas. Akal adalah logika yang tunduk dan rendah hati. 
Motivasi bagi siapapun yang memiliki pertanyaan yang sama, atau bahkan yang sedang mengalami krisis keimanan, atau untuk siapapun yang pada titik tertentu dalam hidupnya mulai bertanya: Mengapa saya ada di sini? Untuk apa sih tujuan hidup ini? Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar?
Well, mari kita mulai.

Alhamdulillah…I was born as a muslim. Yup, orang tua dan keluarga saya juga muslim. (Saya tidak sedang mengomentari istilah agama warisan yang ditulis seorang remaja baru-baru ini, hehe.)
Saya hanya mau menceritakan bahwa saya sangat menyesal karena sangat terlambat menyadari anugrah Allah yang telah menakdirkan saya terlahir di keluarga muslim. Penyesalan yang baru terjadi beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tahun 2014. Sebelum itu, interest saya terhadap ilmu agama sangat minim, sangat jarang ikut kajian, apalagi baca buku agama. Ibadah pun pas-pasan, shalat subuh sering kesiangan, baca Qur’an jarang-jarang, zakat kadang-kadang, pas ada yang minta bantuan paling enggan, puasa bulan Ramadhan juga datar-datar aja dan lewat begitu aja tanpa ada perubahan. Fokus saya saat itu adalah: uang, bayar utang, menafkahi istri dan anak, membangun rumah tangga, rumah, mobil, pendidikan anak dan sejenisnya. Karena menurut saya pada saat itu, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidup.
Hingga suatu saat ketika utang semakin sedikit, penghasilan makin naik, karir pekerjaan semakin baik (walaupun menuntut waktu lebih banyak dan tanggung jawabnya lebih besar), rumah sudah ada, mobil sudah ada, biaya kesehatan ditanggung, saya mulai suka bertanya sendiri: What’s next? (Selanjutnya apa?).
OK, next-nya mungkin rumah yang lebih bagus, mobil yang lebih bagus, dan sejenisnya. Dan ketika semua itu tercapai, saya mulai ngerasa aneh. Kok kerasa hampa ya? Ngga sebahagia yang dibayangkan sebelumnya. Meanwhile, tanpa disadari tuntutan pekerjaan makin ganas, dan stress mulai melanda. Instead of baca Qur’an, musik-film-game lah yang jadi andelan. Stress memang hilang, tapi sesaat. Besoknya balik ke kantor stress lagi. Sampai akhirnya semua itu mulai berpengaruh ke kesehatan. Mulai sering sakit, daya tahan tubuh drop, sering kena maag, asam lambung, dll. Saya kadang menjadi sedikit delusional, sering membuat lagu sendiri, membuat puisi sendiri, kadang hanyut di alam khayalan dan angan-angan kosong. Rindu akan kedamaian, yang abstrak, yang entah bagaimana mencapainya.
Sampai suatu hari, saya jatuh kepeleset di stasiun dengan posisi jatuh terduduk. Ceritanya panjang sebenernya, singkat cerita saya jadi ngga bisa berdiri, ngga bisa duduk, apalagi jalan, karena setelah diperiksa dokter, ada urat yang kejepit di punggung/pinggang. Ada cairan lumbal disc yang pecah dan menjepit saraf. Saya harus dioperasi, walaupun cuma operasi kecil. Tapi tetep harus dibius total. Saya masih ingat betul, pemandangan terakhir yang saya ingat di ruang operasi, sebelum saya ngga sadar, adalah lampu di atas ruang operasi. Melihat lampu itu dengan syahdu, saya membatin: “Gimana kalau ada yang salah dan saya mati? Inikah akhir perjalanan hidup?”
Alhamdulillah saya masih hidup, dan operasinya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani masa pemulihan. Sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan walaupun belum normal. Saya mulai suka bermimpi yang aneh-aneh. Suatu hari saya bermimpi sedang digantung di atas lautan api yang menyala-nyala. Astaghfirullah….mimpinya serasa begitu nyata, sampai pas bangun pun rasanya masih teringat bagaimana panas yang terasa.
Mimpi itu seperti lecutan yang menghantam keras. Setelah itu saya mulai sering membuka Al-Qur’an, dan mulai membaca buku-buku agama. Air mata pun mulai sering menetes. Rasa sesal mulai meresap ke dalam hati.
Mimpi berikutnya tak kalah menakutkan. Ketika terbelalak melihat matahari terbit dari arah barat. Dan seketika itu datang  rasa sesal yang begitu nyelekit. Tertutup sudah pintu taubat. Astaghfirullah…
Setelah itu, semangat mempelajari Al-Qur’an semakin menggebu-gebu. Pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri terus terlontar. Saking banyaknya pertayaan sampai harus dicatat untuk dicari jawabannya kemudian. Seperti terlahir kembali menjadi orang yang baru. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan saya ada di sini?”, ” Apa tujuan hidup ini?”, “Apa yang terjadi setelah kita mati?”, “Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini ini benar?”, “Apa sih sebenarnya isi Al-Qur’an?”. Bahkan sampai bertanya, “Apa buktinya ya Qur’an itu benar dari Sang Pencipta, dan bukan buatan manusia?”, dan “Apa buktinya ya Islam itu benar?”.
Berhubung pertanyaan saya agak liar, saya kadang menghindari pertanyaan langsung kepada ustadz. Karena setelah saya sensor pertanyaannya pun, seringkali jawabannya kurang memuaskan. Seringkali malah saya mendapat renspon bahwa pertanyaan saya ini ngga patut, dan bahwa keyakinan itu ya harus yakin aja, bahwa agama itu diyakini dengan hati, bukan dengan akal. Dan seringkali diakhiri dengan kata “Pokoknya begini, dan begitu”. Terpaksa saya iya kan aja, walaupun saya membatin, “Kalau keyakinan itu ya harus yakin aja, orang yang beragama lain juga bisa pake argumen yang sama dong. Terus masa ada multiple kebenaran, padahal antara satu dan yang lain bertentangan? Taklid buta dong jadinya.”
Sehingga saya lebih banyak mencari sendiri melalui membaca buku, artikel, menonton video ceramah, dokumenter, dll. Hingga seorang teman memperkenalkan saya dengan video-video Ust. Nouman Ali Khan, begitu juga teman lain yang memperkenalkan dengan video Dr. Zakir Naik. Walaupun tidak pernah bertemu, mereka terasa begitu dekat di hati. Both of them are my heroes. Isi ceramahnya benar-benar persis dengan apa yang saya butuhkan. Saya sangat beruntung, bahasa Inggris yang sehari-hari digunakan di tempat kerja, ternyata sangat berguna untuk mendengarkan ceramah mereka berdua dalam bahasa aslinya.
Saya sangat terinspirasi dengan Dr Zakir Naik ketika beliau sedang berdebat dengan seorang atheis, kemudian beliau berkata, “So you’re an atheist? Congratulation! You’re half a moeslim. To become a moeslim you need to admit that there is no god, except Allah, Laa ilaaha illallah. You already believe there’s no god, correct? Then my job is to convince you another half: illallah, except Allah.” (Jadi anda ateis? Selamat! Berarti anda setengah muslim. Untuk menjadi seorang muslim, anda harus mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Allah, Laa ilaaha illallah. Anda sudah percaya bahwa tidak ada tuhan, benar? Jadi saya tinggal meyakinkan anda setengah bagian berikutnya: illallah, kecuali Allah).
Beliau juga menjelaskan bahwa kunci untuk menjawab pertanyaan: “Apa bukti Islam lah yang benar?”, adalah Al-Qur’an. Bahwa selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat. Hard proof bahwa itu memang berasal dari Tuhan Yang Esa, Allah. Beliau menguraikan bagaimana ayat-ayat Qur’an mendahului science sebanyak 1400 tahun. Sesuatu yang baru-baru ini saja ditemukan science, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Siapa kah yang memberi tahu Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, jika bukan Allah The Creator.
“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

(Adz Dzaariyaat: 20-21)
Beberapa di antaranya:

1. Teori Big Bang dan asal usul alam semesta yang baru di era science modern ditemukan (1980an), yang menyatakan bahwa alam semesta saat ini terus mengembang. Dan dulu merupakan suatu kesatuan massa besar namun kemudian terjadi ledakan besar sangat dahsyat (big bang) yang terus mengembangkan alam semesta. Hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa: 30

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

 

2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Hal ini juga baru diketahui science modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Alqur’an Sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan: 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebutkan matahari dengan “Syams” atau “Siraaj (obor)” atau “wahhaaj (lampu menyala)”. Dan cahaya bulan dengan kata ” muniir” yang artinya tidak mengelurkan cahayanya sendiri.
3. Besi yang sekarang ada di bumi, tidak terbentuk saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al Hadid: 25. Pada ayat ini, kata “Anzalnaa” berarti “Kami turunkan”.
4. Gunung sebagai pasak yang memiliki root/akar yang menhujam ke lapisan dalam bumi sebagai penstabil kerak bumi. Hal ini baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat Thaha: 6-7, Surat Al-Anbiyaa:31, dan Surat Lukman:10.
5. Gunung yang bergerak perlahan (beberapa cm per tahun). Juga baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat An Naml:88.
6. Fenomena pembatas antara dua perairan. Seperti di daerah Selat Giblatar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Diungkapkan oleh ahli Oseanografi Francis J. Cousteau. Dan ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahman: 19-20 dan An-Naml: 61.
7. Penciptaan manusia di dalam kandungan ibu. Dr Keith Moor, seorang ahli embriologi dibuat takjub dengan begitu akuratnya Al-Qur’an mendeskripsikan perkembangan embrio dalam Surat Al-Alaq:1-2, Surat Al-Mu’minuun:12-14, Surat Al Qiyamah:38 dan Surat Al Hajj: 5.
Dan masih banyak lagi dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini karena begitu banyaknya. Subhaanallah…
Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing. Di sini saya mulai menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik. Karena terjemahan kadang doesn’t even scratch the surface. Terlalu banyak makna yang hilang. 
Keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an semakin terasa mantap. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab. Kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan science. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar? Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi yang berada di dalam Al Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption? Di sini juga saya pun bertanya-tanya mengapa ayat-ayat Al Qur’an terlihat seperti melompat-lompat dan seperti tidak sistematis?
Di sinilah kajian-kajian Ust Nouman Ali Khan begitu banyak memberikan jawaban yang memuaskan.
Ust Nouman begitu mendalam membahas sisi linguistik Al-Qur’an, yang membuat saya benar-benar terpukau dengan Al-Qur’an. Semangat untuk belajar bahasa Arab klasik terasa makin menggebu-gebu jadinya. Sebagai seseorang yang hobi menulis dan membuat puisi, saya dibuat takjub dengan surat-surat yang incredibly poetic, terutama surat-surat Makkiyah. Walaupun baru mulai belajar bahasa Arab, I can’t help myself ketika mendengarkan ayat-ayat yang begitu puitis, seringkali  tak kuasa menahan air mata yang mengalir, karena keindahan bahasanya yang begitu kuat terasa, meskipun didengar oleh telinga saya yang non-arab. Lebih indah dari lagu atau irama mana pun. Lebih dahsyat dari puisi mana pun. Belum lagi jika ayat itu berhubungan dengan penciptaan atau alam. Bagi penggemar science seperti saya, yang sering nonton video dokumenter tentang alam, bagaimana terbentuknya bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu benar-benar menembus ke dalam jiwa.

 

Saya pun dibuat takjub dengan Ring Composition Structure di beberapa Surat Madaniyah. Serta ayat-ayat yang incredibly symmetric. It’s so mind boggling, menakjubkan. Jelas sudah, manusia tidak memiliki mental capability untuk membuat yang seperti ini. It’s definitely word of God.
Berikut beberapa contoh-contoh keindahan linguistik dalam Al-Qur’an:

1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman,

 وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

Terjemahan simpelnya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuninya: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”

Huruf و dalam bahasa Arab, sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Huruf و dapat digunakan untuk 21 jenis fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر

 Nah sekarang perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف di tengahnya. Subhanallah! Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari 7 huruf. Dalam bahasa Indonesia kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Dan Qur’an hanya membutuhkan 7 huruf yang disusun secara sangat elegan.

 

2. Dalam Surat Ya Sin ayat 40, Allah SWT berfirman,

 لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 

Terjemahannya simpelnya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” 

Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, dimana masing-masing “berenang”/”melayang”/beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan kata كُلٌّ فِي فَلَكٍ

Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي

Sekarang mari kita ilustrasikan:

 ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك

Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar. Subhaanallah! Bagaimana mungkin manusia bisa merangkai kata sedahsyat ini? It’s so not human. It could only come from God.

 

3. Ayat Kursi yang tentunya sudah familiar bagi seorang muslim. 

Ayat ini terbagi menjadi 9 kalimat:

 (1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

       “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhkluk-Nya)”

 (2)  لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

       “tidak mengantuk dan tidak tidur”

 (3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ

       “Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”

 (4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

      “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya”

 (5) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

      “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka”

 (6) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

      “dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki” 

 (7) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

      “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

 (8) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

      “Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya”

 (9) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

      “dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar”

 

Kalimat pertama diakhiri dengan 2 nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri; Sumber dari segala sesuatu). Dan kalimat pertama ini, memiliki kesamaan dengan kalimat ke-9, dimana juga disebutkan 2 nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Besar).

 

Kemudian lihatlah kalimat ke-2, dan hubungannya dengan kalimat kedua dari akhir (kalimat ke-8). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk. Manusia misalnya, akan mengantuk jika kelelahan. Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuatnya lelah atau berat.

 

Kemudian perhatikan kalimat ke-3, dan koneksinya dengan kalimat ketiga dari akhir (kalimat ke-7).  Dua kalimat tersebut saling melengkapi. Pada kalimat ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan pada kalimat ke-7, Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya, Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi. Di dunia ini, pemilik yang memiliki suatu properti, belum tentu penguasa/raja yang memiliki kerajaan/authority. Dan raja yang memiliki kekuasaan, belum tentu sebagai pemilik. Karena kepemilikan itu, terhadap suatu objek atau properti. Sedangkan kerajaan adalah mengenai kekuasaan untuk mengendalikan orang. Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Raja bagi langit dan bumi.

 

Kemudian kalimat ke-4, dan hubungan maknanya dengan kalimat keempat dari akhir (kalimat ke-6). Di kalimat ke-4 Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya. Dan ini dilengkapi dengan kalimat ke-6 yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu-Nya, kecuali Allah menghendakinya.

 

Dan lihatlah bagaimana kalimat ke-5 yang berada di tengah, yang bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang mereka.

Who speak like that? Subhaanallah! So beautiful! 

 

4. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an, dengan jumlah 286 ayat, has take the symmetry to the whole new level. Struktur ini dinamakan Ring Composition Structure. Hal ini baru-baru ini saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern.

 

Surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian, berdasarkan tema:

 Bagian 1: Keimanan & Kekafiran

   Bagian 2: Penciptaan & Pengetahuan

     Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil

       Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim

         Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat

       Bagian 6: Muslim akan diuji

     Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada muslim

   Bagian 8: Penciptaan & Pengetahuan

 Bagian 9: Keimanan & Kekafiran

 

Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema. Dan di dalam bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286), perhatikanlah bunyi ayat ini:

 

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

 

Subhaanallah! Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan, lokasinya tepat berada di tengah surat ini.

 

Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema. Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin. Misalnya saja pada Bagian 8 – Penciptaan & Pengetahuan:

 

Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian harta dari apa yang Allah berikan

 

Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah memberi kehidupan dan kematian.
Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah

 

Bahkan struktur ini tidak berhenti pada level sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya ayat 255 yaitu ayat Kursi yang telah dibahas sebelumnya.

Subhaanallah!
Level kepresisian yang menakjubkan ini, jelas terasa sebagai mukjizat ketika mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Saat itu, saya baru paham bahwa ayat-ayat Qur’an itu diturunkan secara piecemeal, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi Sallallahu’alaihi wasallam saat menjalani misinya sebagai Rasulullah. Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi tersebut. Dan kejadian atau tantangan tersebut jelas-jelas di luar kontrol beliau. Contoh kongkrit nya misalnya: Seseorang mukmin bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, atau ketika musuh menantang beliau. Respon dari hal ini berupa turunnya ayat kepada beliau, menjawab situasi spesifik yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat ini tidak harus berurutan di surat yang sama dan tidak harus turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, out of sequence (tidak berurutan). Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam akan diinstruksikan oleh Allah untuk meletakkan ayat ini di posisi ini di surat ini. Dan ayat itu di posisi itu di surat itu. Dan seterusnya, sehingga posisinya fixed.
Dan perlu diingat, pada saat itu Qur’an adalah oral tradition. Para sahabat Nabi tidak melihat Qur’an seperti kita sekarang, dalam bentuk kitab (tertulis). Mereka mendengar Al-Qur’an. It’s an audio experience, not visual experience. Sebuah pengalaman audio namun setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa. Is that humanly possible? 
Al-Qur’an ini, tidak seperti buku biasa buatan manusia. Ayat yang sekilas terlihat melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang luar biasa.
Fakta lain sebagai hard proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya. Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer. Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah. Perhatikan fakta-fakta berikut:

– Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali. Dan kata “al akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali.

– Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Dan begitupun kata “Syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali.

– Kata “al-hayaat” (Kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Dan begitupun kata kematian sebanyak 145 kali.

– Kata “Ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Dan begitupun kata “As-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali.

– Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Dan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali.

– Frasa “mereka berkata”, terhitung sebanyak 332 kali. Dan kata “Katakanlah”, juga sebanyak 332 kali.

– Kata “bulan” sebanyak 12 kali

– Kata “hari” sebanyak 365 kali
Again, is that humanly possible?
Saya begitu dibombardir dengan kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an. Dan ternyata itu belum selesai. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya. Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaf, huruf يس di Surat Ya Sin, dan sebagainya. Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut:
– Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57. Dan 57 = 

3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19.

Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi.
– Jumlah huruf ي di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi.
– Jika initial حم  yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka:

Surat Al-Mu’min: terdapat 64 huruf “ha” dan 380 huruf “mim”

Surat Al-Fussilat: terdapat 48 huruf “ha” dan 276 huruf “mim”

Surat Asy-Syura: terdapat 53 huruf “ha” dan 300 huruf “mim”

Surat Az-Zukhruf: terdapat 44 huruf “ha” dan 324 huruf “mim”

Surat Ad-Dukhan: terdapat 16 huruf “ha” dan 150 huruf “mim”

Surat Al-Jasiyah: terdapat 31 huruf “ha” dan 200 huruf “mim”

Surat Al-Ahqaf: terdapat 36 huruf “ha” dan 225 huruf “mim”

Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi.
– Initial عسق  di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini. Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi.
– Begitu pun initial كهيعص  di Surat Maryam. Terdapat 137 huruf “Kaf”, 175 huruf “Ha”, 343 huruf “Ya”, 117 huruf “Ain”, dan 26 huruf “Shad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.
Subhaanallah! Jika Al-Qur’an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka saya tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang. Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini:
“Dan tahukah kamu apa Saqar itu?

Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,

Yang menghanguskan kulit manusia.

Di atasnya ada sembilan belas.

Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”

(QS. Al-Muddatsir: 27-31)
Ini baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an. Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan. Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya. Bagai lautan luas. Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.
Dan setelah mukjizat demi mukjizat, sudah saat nya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an. Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ullaha wa atii’urrasul. Taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Because Al-Qur’an is a “live” guidance. Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita. Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut. We will receive His Guidance thru His words in the Qur’an.
Jadilah hamba-Nya. The summary of entire Qur’an is basically to accept the fact that we are slaves and He is our Master (Ringkasan seluruh Qur’an pada dasarnya adalah untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah hamba dan Dia adalah Rabb kita). Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Kedamaian di Surga-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

(QS. Az-Zariyat: 55)
Dicopy dari Grup WA

Kisah Hasan al-Basri


Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruknya akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau seandainya dia akhlaknya seperti aku!”.

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas.

Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia dari pada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Bagaimanapun usahanya, Hasan al-Basri tetap gagal menyelamatkan yang seorang itu.

Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa,
bukan anggur atau arak”.

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati, bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Jika Allah membukakan pintu sholat tahajud untuk kita, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur nyenyak.

Jika Allah membukakan pintu puasa sunat, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunat.

Boleh jadi orang yang gemar tidur dan jarang melakukan puasa sunat itu lebih dekat dengan Allah daripada diri kita.

Ilmu Allah sangat amatlah luas.

Jangan pernah bangga dan sombong pada amalanmu.

Walau sehebat apapun diri kita.. jangan pernah berkata:
*”Aku lebih baik dari pada kalian”*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹KISAH SEORANG LELAKI DIMINTA MENGECAT PERAHU:


(KISAH HIKMAH)

Lelaki ini membawa cat, kuas dan mulai mengecat perahu itu dengan warna merah terang, Sesuai pesanan pemiliknya.

Saat mengecat, dia menemukan sebuah lobang kecil di lambung perahu, dan menambalnya diam diam.

Ketika pengecatan selesai, dia menerima upahnya dan kemudian pergi.

Tak lama berselang, pemilik perahu mendatangi si lelaki dan memberinya Cek yang jumlahnya lebih besar dari upah pengecatan.

Si tukang cat terkejut dan berkata “Kamu sudah membayar upah saya, Tuan”

“Tapi ini bukan untuk upah mengecat. Ini untukmu karena sudah menambal lobang di lambung perahu.”

“Ah! Itukan cuma sedikit aja… tidak perlulah memberi saya sebanyak itu untuk pekerjaan kecil saja.”

“Tapi mungkin anda tidak mengerti, biar saya jelaskan.

Ketika saya minta Anda mengecat kapal itu saya lupa memberitahu tentang libang itu.

Ketika perahu sudah kering anak anak saya pergi memancing dengan perahu itu.

Mereka tidak tau tentang lobang itu, sementara saya tidak berada di rumah saat mereka pergi.

Ketika saya pulang dan menyadari mereka membawa perahu itu pergi, saya sangat khawatir karena saya ingat perahu itu bocor”

Alangkah leganya saya ketika melihat mereka pulang dengan selamat.

Lalu saya mendapatkan bahwa Anda telah menambal lambung yang bocor. Kamu telah menyelamatkan anak anakku! Saya tidak punya cukup uang untuk membayar jasa ‘kecil’ mu itu”

Jadi, jangan kira siapa, kapan dan bagaimana, teruslah memberikan pertolongan, meringankan beban orang lain, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan perbaikilah setiap “kebocoran” yang kamu temukan. Anda tidak pernah tau kapan orang memerlukan bantuanmu, atau kapan Tuhan menganugerahi kejutan yang menyenangkan bagi kita karena sudah membantu dan menjadi berarti bagi orang lain.

Anda mungkin telah melakukan kebaikan selama ini….. tanpa menyadari bahwa Anda telah menyelamatkan Orang lain.

INILAH SEJARAH PKI YANG TIDAK BOLEH DI LUPAKAN OLEH KITA SEMUA.


Tgl 31 Oktober;1948 : Muso di Eksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH.Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

Akhir November 1948 : Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil di Bunuh atau di Tangkap, dan Seluruh Daerah yg semula di Kuasai PKI berhasil direbut, antara lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lain’y.
Tgl 19 Desember 1948 : Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

Tahun 1949 : PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

Awal Januari 1950 : Pemerintah RI dgn disaksikan puluhan ribu masyarakat yg datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yg semua’y berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

Tahun 1950 : PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

Tgl 6 Agustus 1951 :Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yg ada.

Tahun 1951 : Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yg sepenuh’y mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

Tahun 1955 : PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

Tgl 8-11 September 1957 : Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasi’y, tapi ditolak oleh Soekarno.

Tahun 1958 : Kedekatan Soekarno dgn PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

Tgl 15 Februari 1958 : Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontak kan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

Tanggal 11 Juli 1958 : DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

Bulan Agustus 1959 : TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yg didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dgn demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

Tgl 17 Agustus 1960 : Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang “PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)” dgn dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

Medio Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dgn keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

Bulan April 1962 : Kongres PKI.

Tahun 1963 : PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dgn Malaysia, dan mengusulkan dibentuk’y Angkatan Kelima yg terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

Tgl 10 Juli 1963 : Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

Tahun 1963 : Atas Desakan dan Tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH.Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH.Isa Anshari, KH.Mukhtar Ghazali, KH.EZ. Muttaqien, KH.Soleh Iskandar, KH.Ghazali Sahlan dan KH.Dalari Umar.

Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

Tgl 6 Januari 1965 : Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

Tgl 13 Januari 1965 : Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanita’y, dan jg merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injak’y.

Awal Tahun 1965 : PKI dgn 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

Tgl 14 Mei 1965 : Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

Bulan Juli 1965 : PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota’y di Pangkalan Udara Halim dgn dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

Tgl 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

Tgl 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

Tgl 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut jg GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayat’y ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT.Haryono, Letjen S.Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. PKI jg menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yg sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr.J.Leimena yg bersebelahan dgn Rumah Jenderal AH.Nasution. PKI jg menembak Putri Bungsu Jenderal AH.Nasution yg baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yg berusaha menjadi Perisai Ayahanda’y dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhir’y wafat pd tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain : Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief. Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi. Angkatan Udara : Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono. Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

Tgl 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta jg Membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuk’y DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil Alih Kekuasaan.

Tgl 2 Oktober 1965 : Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

Tgl 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

Tgl 13 Oktober 1965 : Ormas Anshar NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

Tgl 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshar Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshar Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshar Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yg menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazah’y dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshar yg dibantai, dan ad beberapa pemuda yg selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

Tgl 19 Oktober 1965 : Anshar NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

Tgl 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.

Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

Tgl 11 Maret 1966 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

Tgl 12 Maret 1965 : Soeharto melarang secara resmi PKI. Bulan April 1965 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

Tgl 13 Februari 1966 : Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidato’y di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tdk ada partai yg Pengorbanan’y terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

Tgl 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH.Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pd tahun 1967.

Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI. Dari tahun 1968 s/d 1998 Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasi’y dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yg dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisan’y yg masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yg sangat panjang, dan jgn biarkan mereka menambah lg daftar kekejaman’y di negeri tercinta ini..

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua

(Smith Junior)

BAGIKAN SEJARAH INI. JADIKAN PELAJARAN