Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i XIII


Syarat syarat Tayamum

  1. Tayamum harus dengan debu yang suci dalam Mahzab Syafi’i.jika tidak ada debu tidak sah.Jika dalam Mahzab Imam Maliki adalah permukaan meskipun tidak ada debu.contoh permukaan karpet, dinding.
  2. Tayamum harus setelah masuk waktu sholat.Boleh tayamum untuk witir dengan tayamum sholat ba’diyah sholat isya’ .Alasan Tayamum harus setelah masuk sholat karena sifat nya darurat.Ini perbedaan nya dengan wudhu, karena wudhu bisa masuk sebelum waktu sholat.
  3. Tayamum harus dengan sebab yang dibenarkan oleh syari’at ,contoh : tidak ada air sama sekali.,tidak bisa menggunakan air bisa karena sakit atau berbahaya.Atau air ada tapi dihukumkan tidak ada karena sedikit.Jika tidak ada air maupun debu wajib sholat karena untuk menghormati waktu sholat tersebut.
  4. Kita memang berkeinginan menuju debu bukan debu yang menuju kita.

Hukum hukum yang berkenaan dengan Tayamum

  1. Tayamum itu hanya untuk Satu sholat fardhu ain ,contoh: Dalam perjalanan jama sholat taqdim harus tetap Tayamum masing masing.Adapun sholat sholat sunnah boleh tayamum sekali.Begitu juga sholat jenazah di boleh kan ,misalnya habis sholat fardhu baru sholat jenazah.karena sholat jenazah dihukumkan sholat sunnah.
  2. Jika pernah meninggal kan sholat tetapi lupa sholat apa dan ingin mengqodo dan tidak ada air kemudian ingin tayamum maka boleh cukup sekali tayamum untuk sholat qodo yang di tinggal kan tersebut.
  3. Jika dalam perjalanan boleh sholat sunnah tidak dalam menghadap kiblat tetapi jika sholat fardhu maka tetap sholat tetapi hanya untuk sholat menghormati waktu sholat tersebut nanti jika ada waktu maka harus mengqodo sholat fardhu nya.
  4. Jika mengambil debu untuk Tayamum sekali maka kedua kali nya harus berbeda tempat misal di kanan nya atau kiri nya.
  5. Masalah lain, jika sholat di suatu tempat dari awal tidak mencari arah kiblat kemudian dia sholat maka sholat nya tidak sah.minimal dia berijtihad atau mengikuti orang yang berijtihad.Jika ternyata salah kiblat maka harus mengqodo sholat nya.
Iklan
Featured post

Tahukah Anda Jika Merah-Putih Itu Berasal Dari Rasulullah SAW?


Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah menulis, bendera Republik Indonesia (RI), Sang Saka Merah Putih, adalah Bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak abad ketujuh masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara.

Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

Pertama, setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah? Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah, akan terlihat di dalamnya berwarna putih?
merah-putih-10
Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?

Ketiga, pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jumat, mimbar Jumat di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Mansyur pun menyatakan pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia.

Mansyur menegaskan bendera Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani,

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh”.

Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Informasi ini didapat Mansyur dari buku berjudul Kelengkapan Hadits Qudsi yang dibuat Lembaga Alquran dan Al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian Waqaf Mesir pada 1982, halaman 357-374. Buku ini dalam versi bahasa Indonesia dengan alih bahasa oleh Muhammad Zuhri.

Mansyur mengemukakan sejumlah argumen pendukung untuk memperkuat pendapatnya, yakni merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Menurut Mansyur, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam memanggil istrinya, Siti Aisyah ra, dengan sebutan Humairah yang artinya merah.

Busana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Saw marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu”.

Artinya: “Pada suatu hari Nabi sallallahu alaihi wasallam duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”.

Mansyur pun menyatakan busana warna putih juga dikenakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sedangkan pedang Sayidina Ali radi allahu anhu berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah-putih.

(kl/republika)

sumber

Featured post

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i Bab Adzan dan Iqomah II


Syarat syarat sah nya Adzan dan Iqomah

  1. Beragama Islam
  2. Berakal / memiliki kesadaran .tidak sah adzan orang gila
  3. Tamyiz / Mumayiz , anak kecil tidak sah adzan ,jika sekedar pembelajaran di boleh kan.
  4. Laki laki ,perempuan tidak sah adzan meskipun sesama jama’ah nya perempuan
  5. Mengangkat suara / mengeraskan suara ,tapi tidak mutlak jika adzan hanya untuk diri nya .Sholat sendiri tetap disunnah kan adzan
  6. Masuk waktu ,harus benar benar masuk waktu ,meskipun di pertengahan adzan baru masuk waktu nya.Terutama waktu adzan Maghrib
  7. Mengetahui waktu waktu sholat secara jelas
  8. Adzan harus berurutan ,berkesinambungan tidak boleh ada jeda

Sunnah sunnah Adzan

  1. Al qiyam ,berdiri ketika adzan jika duduk hukum nya makruh ,kecuali darurat sakit.
  2. Menghadap kiblat
  3. Sunnah meletakkan dua telunjuk nya kedalam lubang telinga ,dua tangan kecuali salah satu tangan memegang pengeras suara, jika iqomah tidak perlu
  4. Thaharah,/ suci dari dua hadats ,hadats kecil maupun besar.Makruh berhadats kecil / batal jika adzan apalagi berhadats besar meskipun sah.Jika tetap dilakukan mengurangi keutamaan sunnah / pahala.afdhol nya adzan itu suci dari hadats
  5. Baligh ,ada anak yang sudah mumayiz tapi belum baligh ,tetap di kedepan kan yang sudah baligh.
  6. Orang nya adil ,lawan dari fasik
  7. Suara nya nyaring jika bisa suara nya bagus

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i Bab Adzan dan Iqomah


  1. Adzan dan iqomah adalah dua simbol Islam.Di Syari’at kan setelah masuk nya waktu Sholat, khusus sholat fardhu 5 waktu.
  2. Adzan dalam syari’at Islam adalah ucapan ucapan yang telah di tentukan diketahui waktu sholat fardhu , fungsi nya untuk mengumumkan / memberitahukan masuk waktu sholat.
  3. Hukum Adzan,pendapat yang paling kuat bahwasanya adzan hukum nya sunnah untuk setiap sholat fardhu yang masuk waktu nya maupun lewat waktu sholat (qodho) meskipun sholat sendiri.Tetapi tidak mutlak hanya khusus laki laki, perempuan tidak disunnah kan , meskipun satu kampung perempuan.Jika pada sholat jamak cukup adzan sekali,karena digabung waktu sholat.
  4. Jika mengumandangkan adzan pada masjid masjid ada syarat syarat sah nya .a.Beragama Islam.b. Berakal/tidak gila.c.Tamyiz / sudah baligh. d.Laki-laki ,e.Mengangkat suara .f.masuk waktu .g.Kalimat adzan berurutan.

AL QURAN & UMUR KITA


Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-Quran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-Quran”.

Berkata Al-imam Qurtubi :
“Barang siapa yang membaca Al-Quran, maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun”.

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim Rahimahullah.

“Perbanyaklah membaca Al-Quran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah :

“Bahawasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Al-Quran, maka oleh kerana itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari bacaan manusia”.

Berkata Abu Zanad :

“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah SAW sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan padanya ada yang membaca Al-Quran”.

Berkata sebagian ahli tafsir :

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-Quran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia”.

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqnya kepada Kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Al-Quran dan mengamalkan kandungannya”.

Bila anda Cinta pada Al-Quran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Al-Quran maka pahala akan mengalir pada anda.

Umur kita terlalu singkat
… hingga ALLAH kurniakan Lailatul Qadar (1000 bulan) untuk menambah umur amal.

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH pinta bersilaturrahim untuk memanjangkannya.

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH kurniakan Puasa Enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun.

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH kurniakan baca Surah Al-Ikhlas seperti membaca sepertiga Al-Quran.

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH kurniakan Solat di Masjidil Haram seperti solat 100.000x lebih di masjid lain.

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH kurniakan Solat berjemaah nilainya 27x lebih daripada solat sendirian.

Umur kita terlalu singkat
…ALLAH kurniakan *Solat
sunat 2 rakaat sebelum subuh, setara dgn kekayaan akhirat seluas langit dan bumi*

Umur kita terlalu singkat
…ALLAH kurniakan solat subuh berjemaah seperti solat sepanjang malam*

Umur kita terlalu singkat
… ALLAH kurniakan solat isyak berjemaah seperti solat separuh malam dan bebas dari sifat munafik*

Hidup ini terlalu singkat
… ALLAH kurniakan satu huruf bacaan Al-Quran dengan 10 pahala/kebaikan.

Hidup ini terlalu singkat
…ALLAH kurniakan siapa yg 1. beramal jariyah, 2. share ilmu yang bermanfaat, dan 3. mengusahakan anak2nya jadi anak yg soleh, pahalanya akan terus mengalir ke alam kuburnya.

Wahai diri…, usia umat Nabi Muhammad SAW rata2 hanya 63 – 65 tahun.

Kalau saat ini usia kita rata rata Sudah 40 tahun, paling lama 25 tahun lagi Malaikat Al Maut akan menjemput kita..

Nubuat Nabi Muhammad SAW tentang perang terhadap 4 kekuatan dunia


Rasulullah telah menubuatkan bahwa akhir zaman al-Mahdi akan menaklukkah empat kekuatan dunia. sebagaimana hadist. Sebagaimana hadist Rasulullah saw :
تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim).

Penaklukkan pertama adalah Jazirah Arab terdiri dari beberapa negara liga Arab yang saat ini merupakan sekutu dari zionis dajjal. penaklukkan kedua adalah Persia (iran) yang saat ini sebagai sekutu Rum. Maka dalam hadist diatas al-Mahdi akan menaklukkan antek-antek Dajjal dan antek Rum. Setelah Antek Rum di taklukkan maka penaklukkan yang ketiga adalah Penaklukkan Rum Yaitu Rusia modern hari ini. Dalam hadist disebutkan dengan perang al-malhamah kubra pusat peperangan terjadi di Amaq dan Dabiq (Suriah). sebagaimana hadist,
عن معاذ بن جبل قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الملحمة الكبرى وفتحُ القسطنطينية وخروجُ الدجال في سبعة أشهر . روه أبو داود
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata : Rasulullah bersabda : Al Malhamah Al Kubra, penaklukan Konstantinopel dan keluarnya Dajjal terjadi selama tujuh bulan.(HR Abu Dawud).

Setelah terjadi perang al-Malhamah kubra maka Rusia di taklukkan, setelah Rusia ditaklukkan, maka ditaklukkan Konstantinopel yaitu Turki modern hari ini tanpa peperangan. di saat pasukan al-mahdi sedangkan membagikan harta rampasan perang dan kembali ke Syam dan Dajjal keluar sebagai presiden negara Israel. Maka penaklukkan yang ke empat adalah penaklukkkan Dajjal yaitu tempatnya di Palestin wilayah negara Israe sekarang. maka penaklukkan dajjal adalah penaklukkan Israel. dalam penaklukkan Dajjal maka di utuslah pasukan Ya’juj dan Ma’juj yang merupakan koalisi Amerika dan sekutunya untuk mempetahankan negara Israel dari gempuran pasukan al-Mahdi yang pada masa itu Nabi Isa juga telah turun di Damaskus.

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةإذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

“Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga Ketika itu Allah subhanahuwata’ala mewahyukan kepada Isa ‘alaihissalam: Sesungguhnya aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hamba-Ku menuju Thuur. Lalu Allah subhanahuwata’ala mengutus Ya’juj wa Ma’juj dan mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi…. (HR. Muslim )

Perang Ya’juj dan Ma’juj didalam nubuat al-kitab adalah disebut dengan perang armageddon. dan pusat peperangannya terjadi di Palestin bukit mageddon. maka setelah terjadi empat penaklukkan tersebut hancurlah seluruh kekuatan dunia maka tinggallah kekuatan kaum muslimin yang akan menguasai dunia.

*Inilah Dalil Tahlilan 3,7,25,40,100, & 1000 Hari Yang Perlu Anda Tahu*


Tak henti-hentinya Wahabi Salafi menyalahkan Amaliyah Aswaja, khususnya di Indonesia ini. Salah satu yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓﻨﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan???

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎﻡ، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ

Cc : pengajian bulanan pbnu

AKHIR ZAMAN AKAN TIMBUL ORANG-ORANG PINTAR YANG MUNAFIK


Tentang Orang pintar yang munafik,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

سيكون في أمتي اختلاف وفرقة ، قوم يحسنون القيل ويسيئون الفعل

“Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan (akhlak yang buruk) “.

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ

” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran “. (Sunan Abu Daud : 4765)

Umar bin Khattab r.a. pernah mengingatkan fenomena cendekiawan yang tidak beradab. Dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa beliau berkata: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa seseorang itu menjadi munafik yang pintar? Umar r.a. menjawab: “Yaitu orang yang pandai berbicara (bak seorang alim), tapi hati dan perilakunya jahil”.

Abu Sa’id berkata : (Sayyidina) Ali karamallahu wajhah pernah mengirim dari Yaman kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong emas dalam kantung kulit yang telah disamak dan emas itu belum dibersihkan dari kotorannya.

Maka Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membagikannya kepada empat orang : Zaid Al Kahil, Al Aqra’ bin Habis, ‘Uyainah bin Hishn, dan Alqamah Watshah atau ‘Amir bin Ath Thufail. Maka sebagian para shahabatnya, kaum Anshar, serta selain mereka merasa kurang senang.

Maka Rasulullah saw bersabda : “Apakah kalian tidak percaya kepadaku padahal wahyu turun kepadaku dari langit di waktu pagi dan sore?!”

Kemudian datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol bagian atas kedua pipinya, menonjol dahinya, lebat jenggotnya, tergulung sarungnya, dan botak kepalanya. Orang itu berkata : “Takutlah kepada Allah, wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah saw mengangkat kepalanya dan melihat orang itu kemudian berkata : “Celaka engkau, bukankah aku manusia yang paling takut kepada ALLAH?” Kemudian orang itu pergi.

Maka Khalid berkata : “Wahai Rasulullah, bolehkah aku penggal lehernya?”
Rasulullah saw bersabda : “Mungkin dia masih shalat.”
Berkata sayyidina Khalid ra : “Berapa banyak orang yang shalat dan berucap dengan lisannya (syahadat) ternyata bertentangan dengan isi hatinya?”
Rasulullah saw bersabda : “Aku tidak disuruh untuk meneliti isi hati manusia dan membelah dada mereka.”

Kemudian Nabi melihat kepada orang itu dalam keadaan berdiri karena takut sambil berkata : “Sesungguhnya akan keluar dari orang ini satu kaum yang membaca Al Qur’an yang tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari buruannya.”
(HR. Bukhari nomor 4351 dan Muslim nomor 1064) ]

Orang pintar yang munafik adalah ulama (ahli ilmu) seperti Dzul Khuwaishiroh at Tamim an Najdi yakni orang-orang menampakkan ke-sholeh-an di hadapan orang banyak dalam bentuk tanda-tanda atau bekas ibadah sunnahnya namun berakhlak buruk seperti

1. Suka mencela dan mengkafirkan kaum muslim
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun lemah lembut kepada kaum Yahudi

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya“. (HR Muslim 1762)

Sabda Rasululullah yang artinya “mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala” maksudnya mereka memahami Al Qur’an dan Hadits dan berkesimpulan kaum muslim lainnya telah musyrik (menyembah selain Allah) sehingga membunuhnya namun dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan para penyembah berhala yang sudah jelas kemusyrikannya. Penyembah berhala adalah kaum Yahudi yang sekarang dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason, iluminati, lucifier yakni kaum yang meneruskan keyakinan pagan (paganisme) atau penyembah berhala

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:101-102)

Dalam syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd ra bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah an Najdi dengan pertanyaan

“Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi tidaklah cukup jika tidak menimbulkan ke-sholeh-an seperti bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi mereka.

Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah adalah

1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim
2. Bersikap keras (tegas / berpendirian) terhadap orang-orang kafir
3. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
4. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah At Tamim An Najdi dipanggil oleh Rasulullah sebagai “orang-orang muda” yakni mereka suka berdalil atau berfatwa dengan Al Qur’an dan Hadits namun salah paham.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda yang pemahamannya sering salah paham. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyyah” (maksudnya: suka berdalil dengan Al Qur’an dan Hadits). Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu perangilah mereka (luruskan pemahaman mereka).” (Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari 3342).

Imam Syafi’i pernah berkata:
“Nanti di akhir jaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana ‘Ulama Warotsatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat”.

Al-Imam syafi’i (rahimahullah) pun ditanya oleh salah satu muridnya tentang gimana trik dan ciri-cirinya untuk mengenali ‘Ulama yang patut di ikuti di era yang penuh fitnah?

Maka Imam Syafi’i mengatakan:
“Carilah ‘Ulama yang paling di benci oleh orang-orang kafir (HARBI) dan orang MUNAFIK, dan jadikanlah Ia sebagai Ulama yang membimbing mu,
dan jauhilah Ulama yang dekat dengan orang kafir (HARBI) dan MUNAFIK karena ia akan menyesatkan mu, menjauhi mu dari Keridhoan ALLAH”.

Nah sekarang perkataan Imam Syafi’i itu terbukti, dan kita bisa MENILAI nya sendiri mana Ulama yang di musuhi oleh orang KAFIR (yang harbi) dan MUNAFIK yang harus kita ikuti, kita cintai dan kita bela,
dan mana Ulama yang selalu dekat dengan orang KAFIR (yang harbi) dan MUNAFIK yang harus kita jauhi.”

Oleh karena itu, Ikutilah yang dakwahnya mengikuti akhlak Rasulullah, jauh dari caci maki dan hobi nuduh bid’ah syirik kafir kpda muslim lainnya..
Karna kunci ilmu yang brmanfaat bisa tercemin pada akhlaknya..
Semoga ALLAH menyelamatkan iman, Islam dan ihsan kita dan mewafatkan kita dalam keadaan khusnul khotimah…

Wallahu a’lam

Mari bersholawat;
Allohumma sholli wa sallim ‘alaa ‘abdika wa rosulika khootamin nabiyyiina, wa akromil awwaliina wal akhiriina, Sayyidina Muhammadin, wa ‘alaa Aalihi wa shohbihi wat tabi’iina, wa farrij ‘alal muslimiina, Ya Qowiyyu Yaa Matiinu, wak-fi syarrodz dzolimiina.

BENARKAH MI’RAJ ITU BUKTI TUHAN BERADA DI ATAS LANGIT ?


SAYA HANYA MELURUSKAN KEKELIRUAN SEBAGIAN YG ANGGAP BAHWA ISRO MIRAJ ITU PERTEMUAN ALLOH DENGAN ROSULULLAH DI LANGIT JUGA PERINTAH SOLAT.

BENARKAH MI’RAJ ITU BUKTI TUHAN BERADA DI ATAS LANGIT ?

Assalamualaikum wr wb.

Isra’ dan Mi’raj Nabi dari Mesjidil Haram ke Mesjid Al-Aqsa dan dari Mesjid Al-Aqsa naik ke Sidrati Al-Muntaha adalah benar adanya, dan merupakan Mu’jizat Nabi besar Muhammad SAW, setiap muslim tentu tidak meragukan kebenaran keajaiban Isra’ dan Mi’raj, tapi sebagian orang yang mengaku muslim telah menodai kisah Isra’ dan Mi’raj ini dengan memasukkan ideologi menempatkan Tuhan di atas langit, dan mari kita lihat kebenaran ideologi tersebut dengan Ayat tentang Isra’ dan Mi’raj, adakah tersurat atau tersirat ideologi tersebut dalam Al-Quran ?

Allah taala berfirman :
سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari masjid al- Haram menuju masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami, sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan Maha melihat”. [QS Al-Isra’ 1]

Coba perhatikan adakah dalam ayat itu disebutkan bahwa Nabi Mi’raj ke langit untuk bertemu dengan Tuhan ?

dari mana mereka memahami dari Ayat tersebut bahwa Nabi malam itu pergi ke tempat Tuhan ?

yang ada dalam ayat hanya لنريه من آياتنا “agar kami perlihatkan tanda-tanda kami”, bukan hendak dipertemukan dengan Allah, tapi hanya untuk diperlihatkan tanda-tanda besar adanya Tuhan, sungguh sebuah prasangka yang mengada-ngada bila mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan Nabi ke tempat Tuhan, dan menjadikan sebagai bukti Tuhan berada di atas, [Na’uzubillah].

Selanjutnya bukankah Nabi berkalam dengan Allah di Sidrati Al-Muntaha ? bukankah itu artinya Allah berada di situ ?

Lagi-lagi ini adalah prasangka di atas prasangka, seorang yang berprasangka buruk terhadap Allah, pasti akan menyangka demikian, maha suci Allah dari prasangka hamba-Nya.

Sebagaimana di pahami dari Hadits-Hadits tentang Isra’ dan Mi’raj, behwa Allah taala berkalam dengan Nabi Muhammad SAW, tapi sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah berada di tempat itu, sebagaimana Allah juga berkalam dengan Nabi Musa di lembah Al-Muqaddas Thuwa, lalu apa anda menyangka bahwa Allah juga berada di lembah itu ?

hanya orang yang condong hati kepada kesesatan yang berprasangka demikian, dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 11-14 diceritakan sebagai berikut :

فلما أتاها نودي يا موسى * إني أنا ربك فاخلع نعليك إنك بالواد المقدس طوى * وأنا اخترتك فاستمع لما يوحى * إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري
“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa * Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa * Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) * Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. [Q.S. Thaha 11-14]

Dipahami dari ayat di atas bahwa Allah bicara dengan Nabi Musa di Al-Wadi Al-Muqaddasi Thuwa di pinggir bukit di Palestina, sedangkan Allah tidak berada di situ, begitu juga dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Sidrati Al-Muntaha, Allah berkalam dengan Nabi Muhammad SAW di situ, sementara Allah tidak berada di situ, Maha suci Allah dari tempat dilangit dan dibumi.

Selanjutnya, bukankah menerima perintah Sholat di Sidrati Al-Muntaha ? kalau bukan berada di atas, kenapa juga perintah Sholat tidak melalui wahyu seperti perintah lain nya ?

sebaiknya berhentilah berprasangka terhadap Allah, karena prasangka itu datang dari dasar Tauhid yang rapuh, betapa tidak, karena dalam surat Al-Isra’ di atas sudah tercantum bahwa Allah membawa Nabi Isra’ dan Mi’raj karena ingin menampakkan tanda yang sangat besar dan ajaib, yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada, Isra’ dan Mi’raj bukan untuk menerima perintah Sholat, biarpun Nabi menerima perintah Sholat di situ, karena Nabi Musa menerima perintah Sholat di bumi, sebagaimana tercantum dalam surat Thaha di atas, maka perintah Sholat tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sebagaimana Allah memerintahkan Sholat kepada Nabi Musa di bumi, padahal Allah juga tidak berada di bumi, Maha suci Allah dari segala sifat makhluk.

Syubhat selanjutnya, bukankah nabi melihat Allah di sana ? bukankah itu bukti Allah berada di sana ?

Na’uzubillah, maha suci Allah dari prasangka mereka, sesungguhnya tengtang adakah Nabi melihat Allah di sana, telah terjadi perbedaan pendapat dari Ulama, ada yang menyatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata kepala tapi tanpa kaifiyat, ada yang mengatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata hati, bukan dengan mata kepala, khilafiyah dalam masalah ini menunjukkan bahwa ini pendapat dhani (boleh jadi benar, boleh jadi salah), maka tidak mungkin masalah ini dijadikan sebagai dalil untuk masalah yang Qath’i (pasti) yakni untuk masalah dasar Aqidah, karena sesuatu yang Dhanni tidak bisa sampai kepada sesuatu yang Qath’i, sesuatu yang pasti, harus beranjak dari sesuatu yang pasti pula.

Syubhat selanjutnya, bukankah ketika nabi turun membawa pulang 50 waktu sholat, lalu bertemu nabi Musa, dan Nabi Musa menyuruh kembali naik ketempat itu untuk minta keringanan dari 50 menjadi 5 waktu setelah bolak-balik nabi ketempat itu ?
bukankah nabi bolak balik ke tempat Tuhan ?

Na’uzubillah,……..

Maha suci Allah dari arah dan tempat, sesungguhnya nabi Musa berkata kepada Nabi Muhammad :
إرجع إلى ربك فاسأله التخفيف
“kembalilah engkau kepada Tuhanmu, maka mintalah keringanan”.

Maksudnya nabi Musa menyuruh nabi Muhammad agar kembali kepada tempat beliau menerima wahyu dari Allah, yakni tempat beliau menerima perintah sholat, nabi Musa sama sekali tidak menyebutkan tempat Tuhan, di saat nabi berada di Sidrat Al-Muntaha tidak menunjukkan Allah bertempat di situ atau atas nya lagi, maka saat nabi bolak-balik ke situ pun tidak menunjukkan demikian.
Dalam satu Hadits riwayat Bukhari dan Muslim Rasul bersabda :
لا ينبغي لعبد أن يقول أنا خير من يونس بن متى
“Tidak boleh bagi hamba bahwa ia berkata saya lebih baik dari nabi Yunus bin Matta”.
Dalam riwayat lain :
لا تفضلوني على يونس بن متى
“Jangan kalian melebih2kan aku dari Nabi Yunus bin Matta”
Hadits ini adalah larangan menyangka bahwa nabi Muhammad SAW lebih baik dari nabi Yunus karena Nabi Muhammad pernah dekat dengan Tuhan karena pernah berada di atas langit ketujuh, sementara nabi Yunus pernah jauh sekali dengan Tuhan karena pernah berada dalam dasar lautan, Allah ada tanpa bertempat, maka tidak ada yang lebih dekat tempat antara nabi Muhammad dan nabi Yunus kepada Allah.

Sementara tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad lebih mulia dari nabi Yunus bahkan dari semua nabi dan bahkan dari segala makhluk, kedudukan para rasul tidak sama dalam kelebihan, sebagaimana firman Allah :

تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”.[Q.S Al-Baqarah 253]

Dalam ayat lain Allah berfirman :
ولقد فضلنا بعض النبيين على بعض
“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain)”.[Q.S Al-Isra’ 55]

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa kedudukan martabat seorang rasul berbeda-beda, tidak mungkin nabi melarang melebihkan nya dari Nabi lain, sementara Allah telah melebihkan sebagian Nabi dari Nabi yang lain, maka larangan dalam hadits itu maksudnya adalah melebihkan nya dari nabi Yunus dari sisi tempat, sehingga menyangka Nabi Muhammad lebih dekat dengan Allah dari Nabi Yunus.
Berkata Al-Muhaddits Imam Muhammad Murtadha Az-Zabidi :

ذَكر الإمام قاضي القضاة ناصر الدين بن المُنَيِّر الإسكندري المالكي في كتابه “المنتقى في شرف المصطفى” لما تكلم على الجهة وقرر نفيَها قال: ولهذا أشار مالك رحمه الله تعالى في قوله صلى الله عليه وسلم: “لا تفضلوني على يونس بن متى”، فقال مالك: إنما خص يونس للتنبيه على التنزيه لأنه صلى الله عليه وسلم رفع إلى العرش ويونس عليه السلام هبط إلى قاموس البحر ونسبتهما مع ذلك من حيث الجهة إلى الحقّ جل جلاله نسبة واحدة، ولو كان الفضل بالمكان لكان عليه السلام أقرب من يونس بن متى وأفضل وَلمَا نهى عن ذلك.
“al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki (seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah), dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda:

“Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”.

Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih,

-bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah

-Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy

-ketika peristiwa Mi’raj-sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar

-dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan melarang melebih-lebihkan beliau atas nabi Yunus ibn Matta”. [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin- 2- 105].

Akhirnya nampaklah mana yang haq dan mana yang batil, aqidah batil tetap tidak akan bisa diselamatkan dengan cara apa pun, bahkan dengan cara licik sekalipun, telah tegak dalil aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, aqidah batil tetap saja bisa tercium walaupun disisipkan dalam kisah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, tidak ada ayat atau hadits tentang Isra’ dan Mi’raj yang menunjukkan Allah berada di langit, kecuali hanya anggapan dan prasangka orang-orang yang hati nya condong kepada kesesatan, semoga kita dan keluarga kita selamat dari syubhat-syubhat aqidah yang disisipkan oleh kaum Salafi-Wahabi dalam setiap sisi Agama ini.

Maha suci Allah dari arah dan tempat.
Wallahu a’lam bishawab.

Assalamualaikum wr wb.

Kewajban Ibadah Puasa Ramadan


3 Syarat seseorang di wajib kan berpuasa

  1. Muslim, orang yang beriman.
  2. Mukallaf,baligh dan berakal.Anak yang sudah mumayiz (sudah bisa mandiri) usia 7-8 tahun wajib di perintahkan walaupun belum baligh.Jika sudah baligh tetapi gila ,atau penyakit syndrome,autis.
  3. Tidak ada penghalang dari berpuasa (udzhur) .seperti Haid, sakit parah ,apabila di paksa kan akan membahayakan jiwa.Maka tidak wajib puasa karena ada udzhur.Tetapi harus di bayar /di qodho.

3 Syarat sah nya puasa.

  1. Islam
  2. Berakal.Maksud nya sudah 7 tahun keatas meskipun belum wajib puasa tetapi hukum nya sah.Jika sudah 10 tahun keatas wajib di perintahkan dengan tegas.
  3. Bersih daripada udzhur /penghalang.contoh wanita Haid dipaksakan puasa tidak sah, tetapi orang sakit di paksa kan puasa hukum nya sah.

Rukun puasa(kewajiban yang harus ada)

  1. Niat puasa.(Meletakkan niat puasa pada malam hari dari Maghrib hingga subuh.)
  2. Menentukan niat puasa nya, puasa senin -kamis, puasa Ramadan dll.
  3. Mengulangi niat tiap kali berpuasa ,tiap malam berniat .Khusus malam pertama bulan puasa berniat puasa Satu bulan.(Mahzab Maliki) sebagai cadangan kita dalam berniat.
  4. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ,jika tidak sengaja maka tidak batal.A.Masuk nya sesuatu kedalam rongga tubuh (rongga terbuka) seperti telinga, hidung,mulut.B.Muntah dengan sengaja.C.Berhubungan intim secara sengaja.D.Mengeluarkan air mani dengan sengaja,kecuali mimpi basah.E.Keluar Haid dan Nifas.F.Gila

*Membantah Manhaj Wajib Ta’at Mutlak Terhadap Setiap Penguasa*


Salah satu kesalahan org beragama adalah mengambil sebagian dalil saja dan meninggalkan sebagian. Dan ini adalah sifat ahli bid’ah dari sejak zaman dahulu sampai sekrang.. Seperti org2 khowarij yang menelan mentah2 ayat2 dan hadis2 وعيد sehingga mereka membangun aqidah mereka dengan hanya berpegang dengan ayat2 tersebut dan dalil2 tersebut. Dan juga murji’ah hanya mengambil ayat2 وعد dan membangun akidahnya dengan dalil2 tersebut.. Dan ini disetiap bab agama, tidak boleh kita mengambil sebagian dalil dan meninggalkan sebagian dalil…
Dan ini seperti yg dijelaskan syaikh mustofa al-adawiy di dalam kitabnya
مفاتيح الفقه في الدين:
*من الخطر الناشئ عن الأخذ ببعض الأدلة و ترك البعض.*

*Kitab Mafaatihu Al-fiqh fii Ad-diin* :
“bahaya yang tumbuh dari manhaj comot sebagian dalil dan meninggalkan dalil lainnya”

Dan salah satu fenomena pengambilan dalil sebgian dan meninggalkan sebagiannya adalah fenomena salafiy maz’um, salafiy madkholiy, salafiy al-jaamiy dan semisalnya..
Mereka membawakan dalil2 kewajiban ta’at terhadap pemerintah sebagian2..
Jika anda meneliti hadis2 tentang taat terhadap waliyulamri.. Maka anda akan dapatkan bahwa aqidah ahlussunnah wal jama’ah lurus tidak berbenturan dalil satu dengan lainnya.
Tp jika berbenturan..maka terdapat beberapa hal:
1. kesalahan dalam memahami hadis
2. terdapat penyembunyian ilmu.
3. Jahl(kebodohan)

Misalkan saja hadis ini..
تلزم جماعة المسلمين و إمامهم، تسمع و تطيع الأمير و إن ضرب ظهرك و أخذ مالك فاسمع و أطع..
“Tetaplah bersama jama’ah muslimin dan pemimpinnya, dengarkan dan ta’atilah sang pemimpin, bahkan meskipun dia memukuli punggungmu dan merampas hartamu”

Hadis ini doif(bisa anda check di multaqo ahli hadis, bahkan syaikh muqbil mendoifkan kalimat (wa in dloroba dzohroka wa akhodza maalaka) beliau berkomentar:

هذه زيادة شاذة

“Kalimat tersebut tambahan yang menyelisihi riwayat yg lebih sohih dan tanpa kalimat(wa in dloroba)”

dan hadis ini dikritik oleh ibnu hazm, beliau berkata gimana kita disuruh taat meskipun harta kita dirampas paksa padahal di hadis lain Rasulullah saw memerintahkan kita untuk melawan setiap org yang ingin merebut harta kita..bahkan memeringanya, dan bhkan jika anda mati.. Maka anda syahid..

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي ؟ قَالَ : ” فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي ؟ قَالَ : ” قَاتِلْهُ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي ؟ قَالَ : ” فَأَنْتَ شَهِيدٌ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ ؟ قَالَ : ” هُوَ فِي النَّارِ “.

dari Abu Hurairah dia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seorang lelaki yang ingin merampas harta bendaku? ‘ Beliau menjawab: ‘Jangan kamu berikan hartamu kepadanya! ‘ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana jika dia hendak membunuhku? ‘ Beliau menjawab: ‘Bunuhlah dia! ‘ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana pendapatmu kalau dia berhasil membunuhku? ‘ Beliau menjawab: ‘Maka kamu syahid’. Dia bertanya lagi, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku yang berhasil membunuhnya? ‘ Beliau menjawab: ‘Dia yang akan masuk ke dalam api neraka’.” (HR. Muslim)

Di dalam hadis ini yang sohih dan jelas, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk memerangi org yang hendak merampas harta kita.. Dan hadis ini umum mencakup segala bentuk orang.. Tidak penguasa, tidak alim, tidak ust, tidak awam..semua sama, kecuali mengambilnya karena haq yg wajib dikeluarkan dari harta kita..maka kita harus memberikan harta tersebut.

Maka hadis di atas jelas doif, dan tidak bisa dijadikan hujjah dan diamalkan disebabkan dua ‘illah:
1. karena dia doif sanadnya dan matannya(syadz)
2. menyelisihi nash sohih soriih..

Lalu hadis2 tentang taat terhadap hamba sahaya yg bahkan hitam dan hidungnya pesek..
Org2 salafiy maz’um ini datang dengan satu hadis.. Tanpa melihat hadis penjelasnya..
Misalkan hadis ini..
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ .
“Dari Abu Dzar dia berkata, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah) berwasiat kepadaku untuk selalu mendengar dan taat walaupun terhadap budak yang pesek hidungnya.” (HR. Muslim)

Memang secara dzohir kita harus taat dengan setiap amiir, meskipun budak.. Padahal telah ijma’ bahwa kita tidak boleh mengangkat seorng budak menjadi waliyulamri..tp karena sangat ditekankan sekali kita utk taat terhadap amiir..maka Rasulullah saw menggunakan kalimat tersebut..bahkan ditambah kalimat budak yg pesek dan hitam(diriwayat lain),
Ingat!! Ini jika kita pakai manhaj comot hadis sebagian tinggalkan sebagian lainnya… Tp coba tengok hadis selanjutnya.. Masih di sohih muskim lanjutan hadis di atas
-bab kewajiban ta’at terhadap penguasa selain dalam hal maksiat, dan haram ta’at dalam kemaksiatan-
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ يَحْيَى بْنِ حُصَيْنٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَدَّتِي تُحَدِّثُ أَنَّهَا سَمِعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقُولُ : ” *وَلَوِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ، وَأَطِيعُوا “.
“dari Yahya bin Hushain dia berkata, saya mendengar nenekku menceritakan bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ketika haji wada’, beliau bersabda: “Seandainya kalian dipimpin oleh seorang budak yang memimpinmu dengan kitabullah, maka dengarkanlah dan ta’atilah dia.” (HR. Muslim)

Ada kalimat yaquudukum bi kitaabillah…(memimpinmu dengan kitaabullah
Allahu akbar.. Ini lah syariat islam.. Jelas dan lurus..
Maka hancurlah manhaj mereka dengan penjelasan ini..

Lalu kita tengok masalah lainnya lagii..
Mereka mengatakan ijma’ ulama ahlussunnah tidak boleh kudeta dan pemberontakan terhadap pemimpin muslim… Memang betul, tp hendaknya tidak menyembunyikan ilmu.. Dan harus menjelaskan secara detail.. Maksud dari Tidak boleh mengkudeta pemimpin muslim itu terdapat pengecualian yaitu kecuali tampak kemaksiatan darinya dan kita punya dalil dari alquran dan sunnah atas hal tersebut.. Sebgaimana disebutkan di dalam hadis..
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ ، قَالَ : دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ، فَقُلْنَا : حَدِّثْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ : دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَايَعْنَاهُ، فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ : ” *إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ “*
Dari Junaadah bin Abi Umayyah,
“Kami pernah menjenguk ‘Ubadah bin Shamit yang sedang sakit, kami lalu berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.” Dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil kami, lantas kami membai’at beliau. Dan di antara yang kami ambil janji adalah, berbai’at untuk selalu taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau terpaksa, mementingkan kepentingannya dari pada kepentingan diri sendiri, dan tidak memberontak pemerintahan yang berwenang.” Beliau bersabda: “Kecuali jika kalian melihat ia telah melakukan kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki hujjah di sisi Allah.” (HR. Muslim)

Dan imam nawawi menjelaskan kufron bawwaahan disini adalah maksiat..(lihat syarh hadis ini di kitab syarh sohih muslim li an-nawawiy)
Sebagaimana kita pelajari kalimat kufur jika datang dengan bentuk nakiroh..maka maknanya adalah kufrun duuna kufrin..
Dan juga qodhi iyad mengatakan, dinukil oleh imam an-nawawiy dan diletakkan di kitab syarh sohih muslim penjelasan hadis
(وان تروا كفرا بواحا)

“فلو طرأ عليه كفر و تغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه و خلعه و نصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.”
“Maka jikalau terjadi kekufuran di diri penguasa, atau merubah syari’at, atau kebid’ahan..maka otomatis dia keluar dari haq kepenguasaan dan kewajiban ketaatan atasnya jatuh, dan wajib atas umat islam untuk menindak lanjutinya dan menurunkannya dan menggantinya dengan penguasa lain yg adil, selama kalian mampu melakukannya”
(Kitab syarh sohih muslim jilid 6, cetakan dar ibnu rojab halaman 432)

Akan tetapi di akhir ucapan qodhi iyad beliau menjelaskan bahwa jika umat islam lemah tidak wajib menurunkan si pemimpin.. Dan wajib hijroh..
Adapun ulama2 lainnya yg mengatakan wajib taat meskipun dzolim dan fasiq.. Mereka memberikan penjelasan tambahan..wajib berkata al-haq dan menasehatinya dan menakut-nakuti sang penguasa. Dan hal ini dijelaskan di hadis yg masih dalam satu bab dengan hadis-hadis sebelumnya…

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْجَدِّهِ ، قَالَ : بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ،وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ ، وَعَلَى أَثَرَةٍعَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، *وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ.*
Dari Ubaadah bin Waliid bin Ubaadah, dari ayahnya, dan dari kakeknya..
“Kami pernah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat atau terpaksa dan lebih mementingkan kepentingannya dari pada diri sendiri, tidak menentang perintahan yang berwenang *dan untuk mengatakan kebenaran di mana saja kami berada, serta tidak takut (dalam menegakkan kalimat) Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela.”*
(HR. Muslim:)

Hadis ini datang setelah perintah taat terhadap waliyulamri..sehingga kita bisa paham.. Bahwa jika kita tak bisa menurunkan pemimpin.. Maka wajib bagi kita utk berkata alhaq dimanapun kita berada.. Dan tidak takut sedikitpun.. Dan ini lah yg seharusnya dilakukan para salafiyun jika mereka tetap taat harus berkata alhaq.. Ketika ada kemungkaran dari penguasa..harus berkata alhaq.. Tidak diam sehingga bgaikan memberikan isyarat pembolehan kemungkaran tersebut..
Maka tidak ada satupun ulama salaf yg mewajibkan ketaatan secara mutlak terhadap pemimpin muslim fasiq apalagi kafir, Adapun jika ada.. Pasti memberikan qoid2..

Intinya.. Akan selalu sesat setiap kelompok yg berpedoman dengan sebagian dalil dan meninggalkan sebagian lainnya…

Wallahu alam.

✍🏻#AMAL (Abu Musa Al Mizziy)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑