Hakikat Sebuah Kehidupan


“Bersabarlah dan tiadalah kesabaramu itu melainkan dengan pertolongan Allah. Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada yang mereka tipu dayakan.” [B](QS An Nahl \[16]:127) [/B]

Hidup terkadang terasa tidak adil dalam pandangan seorang hamba Allah. Ia terlahir sebagai orang biasa yang ingin menjadi seseorang yang berhasil dengan kriterianya sendiri. Menjadi seseorang yang bermanfaat bagi masyarakatnya, menjadi seseorang yang dekat dengan Rabb-nya Yang Maha Berkendak. Tapi rupanya orangtuanya menginginkan yang lain daripada itu.

Dalam perjalanan hidupnya, sang Ayah menginginkan anaknya menjadi seorang yang berhasil dalam hal harta dan kekuasaan. Merasa telah susah payah menyekolahkan buah hatinya sampai ke jenjang tertinggi, sang Ayah merasa gagal menjadikan anaknya seperti apa yang ia bayangkan yaitu: melihat sang anak hidup bergelimang harta dan kekuasaan. Menjadi terhormat dalam pandangan manusia dan mapan dalam pandangan masyarakat.

Sang Ayah merasa hina melihat sang anak  hidup sebagai seorang staff pengajar dari sebuah universitas negeri yang tidak diperhitungkan. Terkadang menjadi penceramah dari satu pengajian ke pengajian yang lain serta hidup pas-pasan. Sang Ayah menawarkan bantuan kepada sang anak untuk menyantuninya sejumlah uang setiap bulan untuk meringankan bebannya, tapi sang anak menolak dengan alasan tidak ingin menyusahkan sang Ayah.

Dalam setiap pembicaraan dengan kerabat dan teman-teman nya, sang Ayah merasa malu dan selalu menyalahkan sang istri, yang ia tuding telah salah dalam mendidik anak mereka. “Terlalu memanjakannya, sehingga ia tidak menjadi apa-apa.” Begitu ia bertutur. Padahal tidak demikian adanya. Sang istri selalu mengutamakan hati nurani dalam mendidik anak-anak mereka. Membimbing mereka untuk dapat meraih cita-cita yang menjadi impian mereka. Mengajari mereka dengan ‘empati’ yang merupakan sebuah kekuatan untuk hidup dan menghidupi.

Dalam sujud-sujud panjangnya di tengah malam, sang anak selalu berdoa dengan sebuah doa yang selalu diulang-ulangnya,

“Ya Rabb, Ayahku telah banyak melakukan sesuatu yang tidak baik, sedangkan Engkau adalah Yang Maha Penyayang diantara yang penyayang. Hanya Engkau yang dapat menghentikannya. Kepada Engkau aku berharap kebaikan…Kepada Engkau aku berserah diri.”

Dunia ini terkadang telah menjadi sebuah ajang untuk memamerkan apa yang sebenarnya hanya sebuah amanah dari Allah. Anak adalah amanah yang Allah berikan agar kita membimbingnya dengan sebaik-baiknya dengan harapan kelak ia menjadi seseorang yang bermanfaat bagi masyarakatnya walaupun dalam ruang lingkup yang amat sederhana. Orang tua bukanlah sosok yang menentukan jalan hidup sang anak tapi lebih kepada mengantarkannya untuk meraih apa yang dicita-citakan.  Menjadi bagian dari sebuah masyarakat dalam arti dapat memberi kontribusi positif bagi masyarakat itu sendiri. Bukan menjadi sampah masyarakat yang hanya menjadi sumber hujatan dan ketidakpuasan. Berapa banyak dari kita menjadi pengusaha, pejabat pemerintah maupun anggota dewan tapi mempunyai prilaku layaknya seorang pencuri yang merupakan sampah masyarakat sehingga menjadi sasaran hujatan dan ketidakpuasan?

Demikian juga harta yang tak lain adalah amanah Allah sering kali dibuat menjadi sebuah ajang memamerkan kekayaan. Dimulai dari mencukupi kebutuhannya dan keluarganya hingga akhirnya membeli sesuatu hanya sekedar untuk memuaskan dirinya. Seseorang yang kaya akan berpikir bahwa dengan harta yang ia miliki, ia dapat membeli apa saja. Ternyata tidak demikian. Ia tidak akan pernah dapat membeli ‘hati nurani’ yang berperan besar dalam menentukan kebahagiaan hidup seseorang walaupun dengan harga seisi dunia ini.

Dalam dunia yang semakin hedonis dan tumpulnya hati nurani seperti saat ini, kita sering lupa. Kita hanya hidup diantara dua waktu shalat. Diantara waktu-waktu sholat itu kita diberikan jatah kehidupan untuk menentukan arah dan langkah yang ingin kita tempuh untuk kelak kita pertanggungjawabkan dihadapan Yang Maha Hidup, Allah Azza wa Jalla. Kita mulai suatu hari dengan bersujud kepada-Nya di waktu Shubuh untuk kemudian kita pergunakan jatah hidup kita dengan melakukan segala bentuk usaha kehidupan yang bermanfaat hingga waktu Dhuhur menjelang yang mengharuskan kita untuk kembali bersujud kepada-Nya. Kemudian kembali kita menghabiskan jatah hidup kita sampai waktu Ashar menghampiri. Demikian seterusnya…hingga akhirnya pada suatu saat yang telah ditentukan, nafas kita akan terhenti….karena jatah hidup kita telah habis dan kita harus kembali kepada-Nya mempertanggungjawabkannya….

Hidup itu begitu sederhana dalam pandangan Allah, tapi tidak dalam pandangan kita manusia yang enggan untuk menyadari hakikat hidup kita sesunggunya adalah ‘hanya diberi jatah diantara dua sholat itu’.  Hal ini Allah Azza wa Jalla nyatakan di dalam kitb-Nya yang mulia sebagai sebuah penjelasan,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [B](QS Adz Dzaariyaat \[51]:56) [/B]

Kita ingin selalu meraih segalanya dan lebih mementingkan apa yang ingin kita raih hingga lupa untuk bersujud kepada-Nya. Kalaupun kita ingat untuk bersujud, hal itu sering kali kita lakukan diakhir waktu shalat dan dalam keadaan yang terburu-buru seolah tidak menyadari bahwa sesuatu itu dapat tiba-tiba berakhir sebelum kita meraih apapun dalam hidup ini.

Ketika kekuasaan dan Harta telah dalam genggaman, kita merasa menjadi seorang manusia kuat yang dengan keduanya kita bisa melakukan apa saja, memperoleh apa saja yang jadi keinginan kita, memberi perintah kesana-kemari dan berusaha untuk menentukan jalan hidup anak-anak kita. Menganggap mereka tidak tahu apa-apa dalam menentukan masa depan mereka dan menganggap bahwa hidup yang penuh kemapanan itulah yang membahagiakan. Sungguh sebuah ironi kehidupan yang membutakan. Harta dan kekuasaan itu cenderung untuk mengikis habis empati dan hati nurani seseorang hingga ia tidak pernah puas akan apa telah ia raih dan selalu ingin memperoleh pujian akan apa yang telah dilakukannya.

Ketika Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya sedang duduk dalam suatu majelis, Rasulullah menyampaikan pesannya, “Ingatlah wahai sahabat-sahabatku, tidak akan masuk surga orang yang dihatinya ada sifat sombong (ujub) walaupun hanya seberat dzarrah (biji sawi). Salah seorang sahabat Rasululllah saw yang bernama Ibnu Mas’ud berkata, ya Rasulullah, kulihat si fulan berpakaian bagus dan memakai alas kaki yang bagus dan indah pula. Apakah itu suatu bentuk dari kesombongan? Nabi menjawab, “Allah itu indah dan sangat menyukai keindahan. Bukanlah yang demikian dikatakan bentuk kesombongan, tapi sombong itu adalah seseorang yang menolak kebenaran (tidak dapat menerima nasehat kebenaran) dan menghina (merendahkan) orang lain.”[B] (HR Muslim)[/B]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s