PENDAPAT ULAMA TENTANG TASAWWUF


Pandangan ulama sepanjang zaman terhadap Tasawwuf 

Ibnul Jauzi, seorang ulama’ yang terkenal dgn bukunya Talbis Iblis menyebutkan berbagai ucapan ulama salaf tentang Tasawwuf dan ucapan-ucapan ulama sufi. Diantaranya disebutkan, dari Al-Junaid ia berkata “Madzhab kami ini terikat dgn dasar Al Kitab dan As Sunnah.” Dia juga berkata”Kami tidak mengambil tasawuf dari perkataan orang ini dan itu tetapi dari rasa lapar meninggalkan dunia meninggalkan kebiasaan sehari-hari dan hal-hal yg dinggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari kesucian mu’amalah dgn Allah SWT dan dasarnya adalah memisahkan diri dari dunia.”

Imam abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi)

Imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) beliau justru adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra. Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

 (Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1: 43)

Imam Maliki (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki)

 beliau juga murid  Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawwuf sebagai berikut, “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawwuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawwuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (lihat kitab ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, vol. 2: 195)

Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris, 150-205 H ; Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i)

Beliau berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu :
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara

  1. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati

3.Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawwuf.”(Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas; Imam ‘Ajluni, vol: 341)

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H ; Ulama besar pendiri mazhab Hanbali)

Beliau berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka.” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 dan Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)


Syaikh Fakhruddin ar Razi (544-606 H ; Ulama besar dan ahli hadits)

“Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)


Ibn Khaldun (733-808 H ; Ulama besar dan filosof Islam)

“Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.”(Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)

Imam Jalaluddin as Suyuti (Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits)

Beliau berkata, “Tasawwuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.” (Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57)

Imam Al-Qusairy (465 H. /1072 M)
Beliau menulis dalam risalahnya, “Alloh membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali- Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” (ar-Risalat al-Qushayriyyah: 2)

Imam GHAZALI (450-505 H./1058-1111 M)
Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, berkata tentang tasawwuf: “Saya tahu dengan benar bahwa para sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Alloh dan mereka menjadikan diri mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-Dalal:131].

Tajuddin as-Subki 

“Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah”. Dia berkata: “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.” ( Mu’id an-Na’im, hal. 190)

Imam Nawawi  (620-676 H./1223-1278 M)
Dalam risalahnya  beliau menulis : “Ciri jalan sufi ada 5: menjaga kehadiran Alloh dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, mengikuti Sunah Rasul dalam perkataan dan perbuatan, menghindari ketergantungan kepada orang lain, bersyukur pada pemberian Alloh meski sedikit dan  selalu menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Alloh Swt. (Maqasid at-Tawhid:20)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (661-728 H)

Beliau awalnya salah seorang ulama yang dikenal keras menentang tasawwuf, namun pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawwuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawwuf : “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dll.

Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128, Ibnu Taimiyyah juga  berkata, “Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.

Imam Syatibiy ( wafat 790 H)

Beliau mengatakan : “Tasawwuf bukan termasuk perkara bid’ah dan bukan pula permasalahan yang dapat dipecahkan dengan dalil secara mutlak, karena perkara ini terbagi-bagi.

Untuk lebih mudah dipahami, lafazh tasawwuf harus diterangkan terlebih dahulu, agar hukumnya menjadi jelas dan terperinci, karena menurut para ulama mutakhkhirintasawwuf adalah perkara yang global.” (al-i’thisham hal.237)

Imam Ibn Qayyim (wafat 751 H)

Imam Ibnu Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Tsauri, beliau  berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (wafat 115 H) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri. Lanjut Ibn Qayyim : “Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh.” (Lihat dalam Manazil as-Sa’irin).

Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H)

Syaikh Mu ammad ibn ‘Abdul Wahhab berkata  : “Anakku, saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasawwuf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasawwuf diperlukan.”

(ar- Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, dan 64 )

Shaikh Rasyid Ridha

Beliau  berkata, “Tasawwuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” (Majallat al-Manar,jilid 1 hal. 726)

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries.

Dalam, Muslims in India, , halaman  140-146 beliau berkata, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah.”

Abul ‘Ala Mawdudi

Dalam Mabadi’ al-Islam halaman 17, beliau berkata,  “Tasawwuf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul SAW, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul”. “Tasawwuf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”

Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar

Beliau merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini didalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawwuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.

Demikianlah saudaraku,  sebagian pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang tasawwuf. Mereka semua mengakui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawwuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh thariqah pada masanya masing-masing. Oleh karena itu,tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini.   Mereka yang menyebut tasawwuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah adalah orang-orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran, mereka tidak mengikuti jejak-jejak para ulama kaum salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawwuf Islam yang murni bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah.  Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s