*Tas seharga 960 juta


Salah satu istri tersangka korupsi yang digelandang KPK, memiliki tas hermes seharga 960 juta rupiah, dan tas yang dia punya itu, hanya diproduksi lima saja di seluruh dunia. Nyonya tersangka ini juga punya barang2 lain dengan harga wah. Informasi ini diungkap oleh pimpinan KPK di salah-satu acara. Bayangkan, ada seorang istri, membeli tas yang harganya bisa membeli 8 mobil (harga 110jutaan), 3 rumah (harga 300jutaan). Hanya sebuah tas, yang jelas tidak bisa membuatnya terbang atau sakti. Uang 960 juta hanya untuk tas. Seorang pembantu, bibi, dengan gaji 800ribu per bulan, maka dia butuh 1.200 bulan agar bisa menabung 960 juta.

Silahkan saja kalau itu uang sendiri, hasil keringat dan air mata sendiri. I dont care. Tapi jadi sangat mengenaskan, jika uang itu hasil perbuatan keji luar biasa.

Berdasarkan pengalaman pimpinan KPK ini bekerja di lembaganya, mengurusi banyak kasus korupsi, catat baik-baik: nyaris TIDAK ADA istri tersangka korupsi yang keberatan, apalagi melarang suami/keluarganya korupsi. Bahkan dalam kasus tertentu, istrinya justeru ikutan korupsi, menjadi pengurus, bendahara, dll, menjadi bagian, calo, makelar dari proyek korupsi suaminya. Ini sangat mengerikan.

Bagaimana mungkin istri koruptor akan bertanya darimana asal uang sebanyak ini, jika dia justeru tertawa bahagia, bilang Alhamdulillah saat terima uang? Bahkan nyinyir setiap hari jika keperluan gaya hidupnya tidak terpenuhi suami? Uang2 itu lantas dibelanjakan untuk keperluan tersier. Mulai dari membeli tas, sepatu, melakukan perawatan kecantikan, memutihkan badan, bergaul dengan sosialita lainnya, hang out kemana2? Koruptor level atas mereka akan membeli hermes, dll, sedangkan koruptor kelas kroco, hanya setingkat korupsi di desa, kecamatan, levelnya berbeda, karena uangnya terbatas. Tapi pola ini sama. Mudah sekali memetakannya.

Jika seorang istri menjadi bagian penting dari tindak korupsi, maka apalagi yang akan kita bicarakan tentang anak-anak? Siapa yang akan mendidik anak-anak agar jujur, memiliki prinsip dan pemahaman baik, jika bukan hanya perutnya diisi nafkah haram, tapi di keluarganya dipenuhi contoh-contoh hidup konsumerisme dan serba instan. Ingin cepat punya uang, instan, korup.

Apakah istri koruptor ini merasa berdosa? Inilah pertanyaan yang saya tidak pernah tahu jawabannya. Karena jika menyimak dari banyak kasus, mereka sepertinya justeru merasa apa yang dilakukan baik-baik saja. Toh, semua orang melakukannya (menurut mereka). Toh, yang mereka lakukan tidak separah orang lain (lagi2 menurut mereka). Tidak punya rasa malu, menyalahkan orang lain, adalah kencenderungan yang sangat nampak dari prilaku mereka. Apakah mereka bertobat? Ini lagi2 pertanyaan yang saya tidak tahu juga jawabannya. Karena jika menyimak dari banyak kasus, lagi-lagi, sebaliknya yang terlihat.

Gaya hidup selalu saja membuat orang lain butuh uang lebih banyak. Tidak tahan hidup miskin, terbiasa hidup nyaman, juga membuat orang tidak sabaran. Saat mereka tidak punya kompetensi memenuhi kebutuhannya. Tidak mau bekerja keras, tidak tekun berdagang, tidak kreatif berusaha, saat itu tidak mereka miliki, maka hanya itu saja pilihan yang tersisa: jalan pintas. Mencuri. Pejabat2 besar jaman dulu, seperti Hatta, Natsir, untuk beli sepatu saja mereka harus nabung berbulan2, apalagi rumah, dll. Menjamu tamu saja mereka pinjam piring dari tetangga. Hari ini, pejabat kelas kroco bahkan bisa merayakan ulang tahun anaknya dengan biaya milyaran rupiah. Beda sekali memang gaya hidupnya.

Maka, bagi siapapun yang ingin mencegah anak-anaknya korups, keluarganya korup, penting sekali sedari awal, selain menumbuhkan kejujuran di hatinya, tanamkanlah kompetensi menghadapi hidup ini. Berikan anak2 kita pendidikan formal dan informal yang cukup. Beri contoh kerja keras, ketekunan dan kreatifitas. Saat dia punya semua itu, dia akan punya solusi kalau ingin punya gaya hidup tinggi. Bekerja keras.

Bukan sebaliknya, mencuri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: