Kisah Sahabat Abu Dujanah Ra


Abu Dujanah Ra
Simak bin Kharasyah, atau lebih dikenal dengan nama Abu Dujanah adalah seorang sahabat Anshar. Pada perang Uhud, Nabi SAW mengangkat sebuah pedang kemudian bersabda, “Siapakah yang akan mengambil pedang ini?”

Kaum muslimin berkumpul dan berharap memperoleh pedang tersebut, tetapi Nabi SAW bersabda lagi, “Siapakah yang akan mengambilnya dengan haknya?”

Sesaat tidak ada yang menjawab, Zubair bin Awwam menyanggupinya, tetapi beliau tidak mau memberikan pedang itu kepadanya, bahkan beliau mengulangi lagi pertanyaannya. Abu Dujanah bangkit dan menghampiri Nabi SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya akan mempergunakannya dengan haknya. Apakah haknya tersebut?”

“Janganlah kamu membunuh seorang muslim dengan pedang ini, dan janganlah kamu mundur dari orang kafir, sedangkan pedang ini masih ada di tanganmu!”

Abu Dujanah mengeluarkan sorban merah dan melilitkan di kepalanya, kemudian berjalan ke depan, menempatkan dirinya di antara dua pasukan. Orang-orang Anshar-pun berkata seperti biasanya kalau Abu Dujanah memakai sorban merahnya sebagai lambang semangat juangnya sampai titik darah penghabisan, “Abu Dujanah telah mengeluarkan sorban mautnya…!”

Melihat tingkah lakunya, yang telah menjadi ciri khasnya ketika berada di medanpertempuran itu, Rasulullah SAW sempat bersabda, “Sungguh itu suatu cara berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat ini (yakni di medan jihad, karena akan memotivasi dan membangkitkan semangat jihad anggota pasukan lainnya)…”

Setelah menerima pedang tersebut, Abu Dujanah berangkat menyerang kaum musyrikin. Setiap orang yang berhadapan dengannya, dapat ditewaskannya. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan sekumpulan wanita, salah satu dari mereka adalah Hindun bin Utbah, yang berkata dengan nada angkuh, “Kami adalah anak-anak perempuan yang mulia, berjalan di atas bantal-bantal dan bau kesturi. Jika engkau menyerang, kami akan merangkul. Jika kamu berpaling, kami pun akan berpaling.”

Melihat sikapnya tersebut, Abu Dujanah akan menyerang Hindun, tetapi wanita itu berteriak minta tolong. Beberapa saat tidak ada yang datang menolong, Abu Dujanah-pun meninggalkan mereka. Anas bin Malik yang saat itu bersamanya merasa heran dan menanyakan mengapa ia tidak membunuh wanita tersebut. Ia berkata, “Ia menjerit minta tolong, dan tidak ada seorang pun yang menolongnya, karena itu aku tidak mau menggunakanpedang Rasulullah SAW untuk membunuh wanita yang tidak mempunyai penolong seorangpun.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s