Kisah Imam Thawus (w.106 H) dan Khalifah Hisyam


Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik mampir di Madinah dalam perjalanan hajinya. Ia berkata :
” Bawakan salah satu sahabat Nabi menghadap kepadaku.”
Para hadirin berkata : “Mereka semua telah meninggal dunia.”
” Kalau begitu, bawa salah seorang tabi’in senior.” kata Hisyam.
Lalu orang2 membawa imam Thawus bin Kaisan menghadap Hisyam. Saat ia masuk, ia melepas sendalnya dan berkata :
” Assalaamu ‘alaik, wahai Hisyam !”
Hisyam naik darah sehingga semua hadirin yakin bahwa ia akan memerintahkan utuk membunuh Thawus.
” Wahai Thawus ! kekurang ajaran apa yg kau lakukan ini? ” bentak Hisyam.
“Memangnya apa yg ku lakukan ?” tanya Thawus.
Dengar tubuh gemetar karena amarah, khalifah berkata :
“kau meninggalkan 4 sopan santun.
pertama, kau melepas sendalmu di hadapanku.
kedua, kau tidak memanggilku dengan sebutan amirul mukminin dan hanya memanggil namaku.
ketiga, kau duduk tanpa seizinku .
dan ke empat, kau tidak mencium tanganku.”
Dengan tenang imam Thawus menjawab :
” Bahwa aku melepas sendalku di hadapanmu, itu karena setiap hari aku melepas sendal ketika sholat menghadap Allah dan Dia tidak pernah murka kepadaku.
Aku tidak memanggilmu dengan sebutan amirul mukminin karena tidak semua orang setuju kau menjadi pemimpin mereka dan aku khawatir berbohong.
Aku juga hanya memanggil namamu karena al qur’an memanggil orang2 shaleh dengan nama2 mereka seperti ‘wahai Dawud, wahai Isa, wahai Yahya ..’
Sebaliknya, Al Qur’an memanggil musuh2nya dengan julukan seperti ‘celakalah abu lahab’ .
Aku juga tidak mencium tanganmu karena Sayyidina ‘Ali pernah mengatakan : “tidak layak seseorang mencium tangan orang lain kecuali bila ia mencium tangan istrinya karena dorongan nafsu atau tangan anaknya karena sayang kepadanya.”
Aku duduk di sampingmu karena Sayyidina ‘Ali pernah berkata : “jika kalian ingin melihat penghuni neraka, lihatlah orang yg duduk saat orang lain berdiri.”
Hisyam berangsur tenang dan berkata kepada Thawus :
” Beri aku tambahan nasehat.”
Imam Thawus berkata : ” aku juga pernah mendengar sayyidina Ali berkata : ‘Ular dan kala jengking neraka menunggu pemimpin yg tidak berlaku adil terhadap rakyatnya.”
Setelah berkata sepeti itu Imam Thawus segera pergi keluar.

đź“ť Nasehat ulama laksana air menyirami bunga di tengah sahara đź’ž
Wallahu ‘alam
Catatan pribadi Nur hamzah
~’Ajaibul Qoshosh~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s