*Membantah Manhaj Wajib Ta’at Mutlak Terhadap Setiap Penguasa*


Salah satu kesalahan org beragama adalah mengambil sebagian dalil saja dan meninggalkan sebagian. Dan ini adalah sifat ahli bid’ah dari sejak zaman dahulu sampai sekrang.. Seperti org2 khowarij yang menelan mentah2 ayat2 dan hadis2 وعيد sehingga mereka membangun aqidah mereka dengan hanya berpegang dengan ayat2 tersebut dan dalil2 tersebut. Dan juga murji’ah hanya mengambil ayat2 وعد dan membangun akidahnya dengan dalil2 tersebut.. Dan ini disetiap bab agama, tidak boleh kita mengambil sebagian dalil dan meninggalkan sebagian dalil…
Dan ini seperti yg dijelaskan syaikh mustofa al-adawiy di dalam kitabnya
مفاتيح الفقه في الدين:
*من الخطر الناشئ عن الأخذ ببعض الأدلة و ترك البعض.*

*Kitab Mafaatihu Al-fiqh fii Ad-diin* :
“bahaya yang tumbuh dari manhaj comot sebagian dalil dan meninggalkan dalil lainnya”

Dan salah satu fenomena pengambilan dalil sebgian dan meninggalkan sebagiannya adalah fenomena salafiy maz’um, salafiy madkholiy, salafiy al-jaamiy dan semisalnya..
Mereka membawakan dalil2 kewajiban ta’at terhadap pemerintah sebagian2..
Jika anda meneliti hadis2 tentang taat terhadap waliyulamri.. Maka anda akan dapatkan bahwa aqidah ahlussunnah wal jama’ah lurus tidak berbenturan dalil satu dengan lainnya.
Tp jika berbenturan..maka terdapat beberapa hal:
1. kesalahan dalam memahami hadis
2. terdapat penyembunyian ilmu.
3. Jahl(kebodohan)

Misalkan saja hadis ini..
تلزم جماعة المسلمين و إمامهم، تسمع و تطيع الأمير و إن ضرب ظهرك و أخذ مالك فاسمع و أطع..
“Tetaplah bersama jama’ah muslimin dan pemimpinnya, dengarkan dan ta’atilah sang pemimpin, bahkan meskipun dia memukuli punggungmu dan merampas hartamu”

Hadis ini doif(bisa anda check di multaqo ahli hadis, bahkan syaikh muqbil mendoifkan kalimat (wa in dloroba dzohroka wa akhodza maalaka) beliau berkomentar:

هذه زيادة شاذة

“Kalimat tersebut tambahan yang menyelisihi riwayat yg lebih sohih dan tanpa kalimat(wa in dloroba)”

dan hadis ini dikritik oleh ibnu hazm, beliau berkata gimana kita disuruh taat meskipun harta kita dirampas paksa padahal di hadis lain Rasulullah saw memerintahkan kita untuk melawan setiap org yang ingin merebut harta kita..bahkan memeringanya, dan bhkan jika anda mati.. Maka anda syahid..

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي ؟ قَالَ : ” فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي ؟ قَالَ : ” قَاتِلْهُ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي ؟ قَالَ : ” فَأَنْتَ شَهِيدٌ “. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ ؟ قَالَ : ” هُوَ فِي النَّارِ “.

dari Abu Hurairah dia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seorang lelaki yang ingin merampas harta bendaku? ‘ Beliau menjawab: ‘Jangan kamu berikan hartamu kepadanya! ‘ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana jika dia hendak membunuhku? ‘ Beliau menjawab: ‘Bunuhlah dia! ‘ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana pendapatmu kalau dia berhasil membunuhku? ‘ Beliau menjawab: ‘Maka kamu syahid’. Dia bertanya lagi, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku yang berhasil membunuhnya? ‘ Beliau menjawab: ‘Dia yang akan masuk ke dalam api neraka’.” (HR. Muslim)

Di dalam hadis ini yang sohih dan jelas, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk memerangi org yang hendak merampas harta kita.. Dan hadis ini umum mencakup segala bentuk orang.. Tidak penguasa, tidak alim, tidak ust, tidak awam..semua sama, kecuali mengambilnya karena haq yg wajib dikeluarkan dari harta kita..maka kita harus memberikan harta tersebut.

Maka hadis di atas jelas doif, dan tidak bisa dijadikan hujjah dan diamalkan disebabkan dua ‘illah:
1. karena dia doif sanadnya dan matannya(syadz)
2. menyelisihi nash sohih soriih..

Lalu hadis2 tentang taat terhadap hamba sahaya yg bahkan hitam dan hidungnya pesek..
Org2 salafiy maz’um ini datang dengan satu hadis.. Tanpa melihat hadis penjelasnya..
Misalkan hadis ini..
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ .
“Dari Abu Dzar dia berkata, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah) berwasiat kepadaku untuk selalu mendengar dan taat walaupun terhadap budak yang pesek hidungnya.” (HR. Muslim)

Memang secara dzohir kita harus taat dengan setiap amiir, meskipun budak.. Padahal telah ijma’ bahwa kita tidak boleh mengangkat seorng budak menjadi waliyulamri..tp karena sangat ditekankan sekali kita utk taat terhadap amiir..maka Rasulullah saw menggunakan kalimat tersebut..bahkan ditambah kalimat budak yg pesek dan hitam(diriwayat lain),
Ingat!! Ini jika kita pakai manhaj comot hadis sebagian tinggalkan sebagian lainnya… Tp coba tengok hadis selanjutnya.. Masih di sohih muskim lanjutan hadis di atas
-bab kewajiban ta’at terhadap penguasa selain dalam hal maksiat, dan haram ta’at dalam kemaksiatan-
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ يَحْيَى بْنِ حُصَيْنٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَدَّتِي تُحَدِّثُ أَنَّهَا سَمِعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقُولُ : ” *وَلَوِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ، وَأَطِيعُوا “.
“dari Yahya bin Hushain dia berkata, saya mendengar nenekku menceritakan bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah ketika haji wada’, beliau bersabda: “Seandainya kalian dipimpin oleh seorang budak yang memimpinmu dengan kitabullah, maka dengarkanlah dan ta’atilah dia.” (HR. Muslim)

Ada kalimat yaquudukum bi kitaabillah…(memimpinmu dengan kitaabullah
Allahu akbar.. Ini lah syariat islam.. Jelas dan lurus..
Maka hancurlah manhaj mereka dengan penjelasan ini..

Lalu kita tengok masalah lainnya lagii..
Mereka mengatakan ijma’ ulama ahlussunnah tidak boleh kudeta dan pemberontakan terhadap pemimpin muslim… Memang betul, tp hendaknya tidak menyembunyikan ilmu.. Dan harus menjelaskan secara detail.. Maksud dari Tidak boleh mengkudeta pemimpin muslim itu terdapat pengecualian yaitu kecuali tampak kemaksiatan darinya dan kita punya dalil dari alquran dan sunnah atas hal tersebut.. Sebgaimana disebutkan di dalam hadis..
صحيح مسلم
نوع الحديث:مرفوع
عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ ، قَالَ : دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ، فَقُلْنَا : حَدِّثْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ : دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَايَعْنَاهُ، فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ : ” *إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ “*
Dari Junaadah bin Abi Umayyah,
“Kami pernah menjenguk ‘Ubadah bin Shamit yang sedang sakit, kami lalu berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.” Dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil kami, lantas kami membai’at beliau. Dan di antara yang kami ambil janji adalah, berbai’at untuk selalu taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau terpaksa, mementingkan kepentingannya dari pada kepentingan diri sendiri, dan tidak memberontak pemerintahan yang berwenang.” Beliau bersabda: “Kecuali jika kalian melihat ia telah melakukan kekufuran yang jelas, dan kalian memiliki hujjah di sisi Allah.” (HR. Muslim)

Dan imam nawawi menjelaskan kufron bawwaahan disini adalah maksiat..(lihat syarh hadis ini di kitab syarh sohih muslim li an-nawawiy)
Sebagaimana kita pelajari kalimat kufur jika datang dengan bentuk nakiroh..maka maknanya adalah kufrun duuna kufrin..
Dan juga qodhi iyad mengatakan, dinukil oleh imam an-nawawiy dan diletakkan di kitab syarh sohih muslim penjelasan hadis
(وان تروا كفرا بواحا)

“فلو طرأ عليه كفر و تغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه و خلعه و نصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.”
“Maka jikalau terjadi kekufuran di diri penguasa, atau merubah syari’at, atau kebid’ahan..maka otomatis dia keluar dari haq kepenguasaan dan kewajiban ketaatan atasnya jatuh, dan wajib atas umat islam untuk menindak lanjutinya dan menurunkannya dan menggantinya dengan penguasa lain yg adil, selama kalian mampu melakukannya”
(Kitab syarh sohih muslim jilid 6, cetakan dar ibnu rojab halaman 432)

Akan tetapi di akhir ucapan qodhi iyad beliau menjelaskan bahwa jika umat islam lemah tidak wajib menurunkan si pemimpin.. Dan wajib hijroh..
Adapun ulama2 lainnya yg mengatakan wajib taat meskipun dzolim dan fasiq.. Mereka memberikan penjelasan tambahan..wajib berkata al-haq dan menasehatinya dan menakut-nakuti sang penguasa. Dan hal ini dijelaskan di hadis yg masih dalam satu bab dengan hadis-hadis sebelumnya…

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْجَدِّهِ ، قَالَ : بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ،وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ ، وَعَلَى أَثَرَةٍعَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، *وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ.*
Dari Ubaadah bin Waliid bin Ubaadah, dari ayahnya, dan dari kakeknya..
“Kami pernah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat atau terpaksa dan lebih mementingkan kepentingannya dari pada diri sendiri, tidak menentang perintahan yang berwenang *dan untuk mengatakan kebenaran di mana saja kami berada, serta tidak takut (dalam menegakkan kalimat) Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela.”*
(HR. Muslim:)

Hadis ini datang setelah perintah taat terhadap waliyulamri..sehingga kita bisa paham.. Bahwa jika kita tak bisa menurunkan pemimpin.. Maka wajib bagi kita utk berkata alhaq dimanapun kita berada.. Dan tidak takut sedikitpun.. Dan ini lah yg seharusnya dilakukan para salafiyun jika mereka tetap taat harus berkata alhaq.. Ketika ada kemungkaran dari penguasa..harus berkata alhaq.. Tidak diam sehingga bgaikan memberikan isyarat pembolehan kemungkaran tersebut..
Maka tidak ada satupun ulama salaf yg mewajibkan ketaatan secara mutlak terhadap pemimpin muslim fasiq apalagi kafir, Adapun jika ada.. Pasti memberikan qoid2..

Intinya.. Akan selalu sesat setiap kelompok yg berpedoman dengan sebagian dalil dan meninggalkan sebagian lainnya…

Wallahu alam.

✍🏻#AMAL (Abu Musa Al Mizziy)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s