Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i Bab Sholat 8


Waktu waktu sholat

Waktu waktu sholat yang luas / panjang.Maksudnya waktu sholat yang boleh di tunda.Dengan syarat harus berazam / bertekad untuk mengerjakan .Karena setiap saat mau t bisa datang jika tanpa ada niat.(wallahu a’lam)

Contoh sholat Dzuhur .Jika masuk waktu sholat ada dua pilihan yaitu bisa langsung di kerja kan atau menunda nanti sholat dengan berazam akan mengerjakan sholat nanti.

Ini adalah salah satu bentuk rahmah Allah SWT bagi hamba hamba nya.Akan tetapi adalah sholat di awal waktu lebih afdhol.Salah Satu bentuk memelihara sholat adalah mengerjakan sholat di awal waktu.K arena manusia adalah tempat nya salah,bisa lupa.

Sedangkan untuk sholat Isya’ biasanya di tunda .Karena ada dalam Hadits , Rasulullah SAW suka mengakhirkan waktu sholat Isya’.

Apabila sholat di akhir waktu dapat Satu raka’at maka masih di dalam Waktu sholat.Minimal Satu raka’at walaupun masuk waktu sholat lain.

Iklan

Teknologi 5 Dimensi Sudah Ada di Jaman Rasulullah SAW


Tony Stark hidup dengan seorang asisten digital yang dilengkapi dengan aplikasi komputer bernama JARVIS (Just A Really Very Intellegent System). Aplikasi super canggih tersebut mampu memvisualkan gambar sederhana menjadi gambar dengan tampilan 5 Dimensi. Hanya dengan sentuhan tangan sang jagoan, berubahlah file-file digital menjadi real world, sehingga materi yang ada di dalamnya dapat dilihat dari segala arah seperti di dunia sungguhan.
Ternyata teknologi mutakhir tersebut pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw, yaitu ketika beliau diperjalankan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso (Isra’) lalu dinaikkah ke sidratul muntaha di langit ke tujuh (Mi’raj). Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya Isra’ Mi’raj, karena tidak ada dalil rajih yang menunjukkan tanggal, bulan dan tahun keberapa peristiwa ini terjadi.

Dari Ibnu Abbas r.a, ia telah berkata: “Telah bersabda Rasulullah Saw: Ketika malam aku diisra’kan dan subuhnya aku telah sampai di Makkah, aku mengkhawatirkan urusanku, dan aku tahu bahwasannya manusia akan mendustakanku. Kemudian aku duduk bersedih hati.” Ia Ibnu Abbas berkata: “Kemudian melintaslah musuh Allah, Abu Jahal. Dia datang sehingga duduk di dekat beliau, kemudian berkata kepada beliau: Kamu tampak sedih, apakah ada sesuatu? Rasulullah Saw pun menjawab: Sesungguhnya aku diisra’kan malam tadi. Dia berkata: ke mana? Beliau menjawab: ke Bait Al-Maqdis. Dia berkata: kemudian engkau subuh sudah ada di hadapan kami (di Makkah ini)? Beliau jawab: Ya. Ia berkata: Namun dia tidak menampakkan sikap bahwa ia mendustakannya karena takut beliau tidak mau menceritakan hal itu lagi jika kaumnya dipanggilkannya. Dia berkata: Tahukah engkau, jika engkau hendak menda’wahi kaummu, kau harus kisahi mereka apa yang barusan kau ceritakan padaku. Rasulullah Saw pun menjawab: Ya. Kemudian dia berseru: Kemarilah wahai penduduk Bani Ka’ab bin Lu’ai! Lalu mereka berkumpul kepadanya datang sampai duduk mengelilingi keduanya. Dia berkata: Kisahi kaummu apa yang telah engkau kisahkan kepadaku. Rasulullah Saw pun berkata: Sesungguhnya malam tadi aku diisra’kan. Mereka bertanya: ke mana? Kujawab: Ke Bait Al-Maqdis. Mereka bertanya: Kemudian subuh engkau berada di depan kami. Beliau menjawab: Ya. Ia (Ibnu Abbas) berkata: Maka ada yang bersorak dan ada yang meletakkan tangannya di atas kepala karena heran atas kebohongan itu (menurut mereka). Mereka berkata: dan apakah engkau dapat menyifatkan kepada kami masjid itu? Dan di antara penduduk ada yang pernah pergi ke negeri itu dan pernah melihat masjid itu. Maka Rasulullah Saw bersabda: “Maka aku mulai menyebutkan ciri-cirinya dan tidaklah aku berhenti menyifatkan sehingga aku lupa beberapa cirinya.” Beliau bersabda: “Lantas didatangkan masjid sampai diletakkan tanpa kesamaran sehingga aku dapat melihat(nya). Maka aku menyifatkan dengan melihat hal itu.” Ia berkata: dan sampai ini, ada sifat yang tidak aku hafal. Ia berkata: kemudian ada kaum yang berkata: “adapun sifat tersebut, demi Allah, ia benar.”
(HR. Ahmad (2680), disahkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (VII:3021))

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika Nabi Saw lupa akan sifat Masjid Baitul Maqdis, Allah segera mendatangkan gambar Masjid tersebut ke hadapan beliau agar bisa melanjutkan penjelasannya tanpa keraguan, mungkin jika tidak berlebihan bisa kita katakan di hadapan beliau terpampang sebuah layar berukuran besar yang menampilkan citra Masjid Baitul Maqdis berikut halamannya dalam bentuk 5 dimensi, sehingga Rasul Saw bisa memutar-mutarnya untuk mengetahui berapa jumlah tiang masjid Baitul Maqdis, bagaimana bentuk halaman depannya, seperti apa ukiran-ukiran yang ada di dinding masjid tersebut.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra’: 1)

Semakin canggih teknologi di zaman modern ini, maka akan semakin mudah kebenaran Al-Qur’an dibuktikan, hal-hal yang tidak masuk akal dan menjadi bahan tertawaan kaum kafir di masa lalu sekarang menjadi sesuatu yang logis dan dapat dijelaskan melalui fakta ilmiah.

Sumber : http://www.disekitarkita.com

 

Kisah Sendalnya Imam Ahmad


Suatu hari Al Imam Ahmad bin Hanbal sedang berada di masjid. Kemudian datanglah utusan khalifah Al Abbas Al Mutawakkil kepada beliau memberitahukan bahwa ada Jariyah miliknya, kerasukan jin.
Khalifah Al Mutawakkil meminta Al Imam Ahmad -rahimahullah- untuk berdoa kepada Allah agar jariyahnya diberi kesembuhan.
kemudian Al Imam Ahmad mengeluarkan sendal kayu yg talinya dari daun kurma,yg biasa di pakai wudlu.lalu sendal itu di serahkan oleh beliau sambil berkata:
“Bawalah sandal ini ke kediaman Amirul Mukminin dan duduklah di sebelah kepala Jariyah dan katakan kepadanya (kepada jin) bahwa Ahmad bin Hanbal berkata kepadamu:
“pilih yg kau suka, Keluarlah dari tubuh Jariyah ini atau aku akan memukulmu dengan sandal ini sampai 70 kali!”
kemudian dia pulang dan berkata kepada jin sebagaimana yg di katakan oleh imam ahmad,
Kemudian jin tersebut berkata melalui lisan Jariyah:
“Aku mendengar dan taat. Kalaupun seandainya Ahmad bin Hanbal menyuruhku pergi dari Iraq, aku pasti akan menuruti perintahnya. Sesungguhnya dia itu orang yang taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah, siapapun akan menurut kepadanya.”
Kemudian keluarlah jin tersebut dari tubuh Jariyah.
wallohu a’lam.

📝Dulu musuh” islam sangat takut karna kaum muslimin dahulu sangat takut pada Robnya 💞

Diambil dari catatan pribadi
~Tobaqotul Hanabilah
FB grup “Ta’aruf Ahlussunnah’

“MEMAKNAI ISRA’ MI’RAJ”


isra' mi'raj.jpg

Saat peristiwa Mikraj, Di Langit pertama Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Adam a.s. Di Langit kedua Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya a.s. Di Langit ketiga Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Yusuf a.s. Di Langit keempat Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Idris a.s.Di Langit kelima Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Harun a.s. Di Langit keenam Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Musa a.s. Dan di langit ketujuh Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Ibrahim a.s. Lalu kemudian Rasulullah Saw naik ke Sidratul Muntaha.

Itu artinya setelah turun dari Sidratul Muntaha dan menerima persyariatan shalat 50 waktu, Rasulullah terlebih dahulu berjumpa dengan Nabi Ibrahim sebelum berjumpa dengan Nabi Musa… Namun pertanyaannya, kenapa Nabi Ibrahim tidak menyanggah apa-apa seperti yang dilakukan Nabi Musa yang mengusulkan agar Rasulullah meminta keringanan dari Allah Swt.

Jawabannya, Nabi Ibrahim tidak menyanggah apa-apa karena Nabi Ibrahim diciptakan oleh Allah sebagai Khalilullah. Sifat Khalil tunduk patuh apa adanya. Pembuktian Nabi Ibrahim sebagai Khalil juga dapat dilihat dari kerelaannya menyembelih putra semata wayangnya, Ismail a.s. yang sebenarnya sudah sangat lama dinanti. Namun karena mengingat itu perintah Allah, Nabi Ibrahim rela melakukannya. Ini menunjukkan Nabi Ibrahim memang benar-benar seorang Khalilullah.

Adapun Nabi Musa memang diciptakan oleh Allah sebagai Kalimullah, seorang Nabi yang mendapat keistimewaan untuk berbicara dengan Allah. Sehingga meskipun informasi persyariatan shalat dari Rasulullah, hakikatnya itu berasal dari Allah dan sebagai Kalamullah beliau mengomentarinya.

Lalu, apa hikmahnya persyariatan shalat tidak langsung difardhukan 5 waktu, akan tetapi melalui 9 kali pengurangan dari 50 waktu hingga akhirnya menjadi 5 waktu, padahal sebenarnya dalam ilmu Allah yang wajib adalah 5 waktu?

Ini adalah untuk memberi isyarat bahwa Nabi Muhammad adalah HABIBULLAH, Kekasih Allah. Sebagai bukti Rasulullah merupakan Habib, Allah rindu agar berulang kali berjumpa dengan Rasulullah Saw….

Namun ini tidak dipahami Allah bertempat, Rasulullah Saw diangkat pada tempat yang tertinggi saat berjumpa dengan Allah adalah untuk terhimpunnya dua ketinggian. Berjumpa dengan Allah adalah ketinggian secara maknawi, maka diangkat Rasulullah pada tempat tertinggi supaya Rasulullah juga berada pada kedudukan tertinggi secara hissi.

Allah tetap tidak bertempat. Tempat makhluk atau ciptaan Allah. Sebelum adanya tempat, Allah telah wujud tanpa bertempat, maka setelah adanya tempat, Allah tetap sebagaimana adanya, tidak bertempat dan tidak membutuhkan tempat.

Selamat memperingati dan menghayati Israk dan Mikraj.

[Tgk.Muhammad Iqbal Jalil]

SEJARAH KELAM PEMBUNUHAN SESAMA MUSLIM YANG TAK PERNAH TERLUPAKAN


~Kisah Ibnu Muljam, pembunuh Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah~

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu…”
Itulah teriakan Abdurrahman bin Muljam Al-Murodi ketika menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pada saat bangkit dari sujud shalat Shubuh pada 19 Ramadhan 40 H itu.

Abdurrahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000 dinar.
Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. 3 hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rasulullah ﷺ menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Sayyidina Ali dibunuh setelah dikafirkan.
Sayyidina Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah ﷻ. Sayyidina Ali dibunuh atas nama hukum Allah ﷻ.

Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khawarij yang harus kita waspadai.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhan Allah ﷻ; dan Allah ﷻ Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh khalifah Ali, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo,

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah ﷺ, dan ayah dari Sayyid Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah.

Seorang ahli surga meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang harus menjadi pelajaran berharga bagi kita umat muslim.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang shalih, zahid dan bertakwa dan mendapat julukan Al-Muqri’. Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang Al-Hafidz (Penghafal Al-Qur’an) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Al-Qur’an kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
“Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al-Qur’an yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al-Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah ﷻ dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan…

Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits telah menjelaskan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini,

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ

“Akan muncul golongan manusia dari arah Timur dan mereka pandai membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya” (HR. Bukhari)

” البداية والنهاية ” (11/ 5-16)

Wallahu A’lam Bishshawaabb.

Wahai Saudaraku…
Waspadalah, Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh pemikiran Ibnu Muljam.

اللهم اهدنا و احفظنا والمسلمين في كل مكان ، آمين …

Ya Allah, jagalah kami kaum muslimin dimanapun berada…

Sayyidina Ali Dan Seorang Lelaki Tua


Dengan tergesa-gesa Sayyidina Ali berangkat ke masjid,waktu sholat subuh itu ia ingin berjamaah bersama Rasulullah.Namun ditengah jalan langkahnya terhambat oleh seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sebuah tongkat dan tangan kirinya memegang lentera sebagai penerang jalan.

Untuk menghormati orang tua itu,dan sebagai sikap rendah diri,Sayyidina Ali tak ingin mendahului lelaki tua itu,maka ia berjalan dibelakangnya.Karena keadaan itu Sayyidina Ali menjadi terlambat datang berjama’ah di masjid.Celakanya ternyata lelaki tua itu tidak sholat di masjid,karena ia orang Nasrani.

Ketika Sayyida Ali memasuki masjid, jama’ah sholat sedang ruku’,Rasulullah saat itu sengaja memanjangkan rukuknya dengan bacaan yang panjang, sehingga Sayyidina Ali dapat mengikutinya menjadi makmum.

Usai sholat Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah: ” Ya Rasulullah,mengapa engkau memanjangkan ruku’mu, suatu hal yang belum pernah aku jumpai selama ini? ” ” Saat ruku’ dan membaca Subhana Rabbiyal ‘adzimi, sebagaimna biasanya aku akan berdiri tegak, sebelum kepalaku terangkat, Malaikat Jibril telah mendahului menekan punggungku,aku baru bisa mengangkat kepala dan berdiri tegak untuk membaca i’tidal.” jawab Rasulullah.

Mendengar penjelasan Rasulullah kemudian Sayyidina Ali menceritakan kejadian dalam perjalanan menuju masjid yang baru saja dialami. Rupanya Allah telah memberi isyarat kepada Rasulullah agar Sayyidina Ali bisa ikut berjama’ah sholat subuh bersama Rasulullah

Ternyata bukan itu saja, riwayat yang luar biasa Sayyidina Ali ini, diceritakan pada saat itu Malaikat Mika’il diperintahkan Allah untuk menahan lajunya matahari hanya agar Sayyidina Ali tidak ketinggalan sholat berjama’ah subuh di masjid bersama Rasulullah.

Kisah Imam Thawus (w.106 H) dan Khalifah Hisyam


Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik mampir di Madinah dalam perjalanan hajinya. Ia berkata :
” Bawakan salah satu sahabat Nabi menghadap kepadaku.”
Para hadirin berkata : “Mereka semua telah meninggal dunia.”
” Kalau begitu, bawa salah seorang tabi’in senior.” kata Hisyam.
Lalu orang2 membawa imam Thawus bin Kaisan menghadap Hisyam. Saat ia masuk, ia melepas sendalnya dan berkata :
” Assalaamu ‘alaik, wahai Hisyam !”
Hisyam naik darah sehingga semua hadirin yakin bahwa ia akan memerintahkan utuk membunuh Thawus.
” Wahai Thawus ! kekurang ajaran apa yg kau lakukan ini? ” bentak Hisyam.
“Memangnya apa yg ku lakukan ?” tanya Thawus.
Dengar tubuh gemetar karena amarah, khalifah berkata :
“kau meninggalkan 4 sopan santun.
pertama, kau melepas sendalmu di hadapanku.
kedua, kau tidak memanggilku dengan sebutan amirul mukminin dan hanya memanggil namaku.
ketiga, kau duduk tanpa seizinku .
dan ke empat, kau tidak mencium tanganku.”
Dengan tenang imam Thawus menjawab :
” Bahwa aku melepas sendalku di hadapanmu, itu karena setiap hari aku melepas sendal ketika sholat menghadap Allah dan Dia tidak pernah murka kepadaku.
Aku tidak memanggilmu dengan sebutan amirul mukminin karena tidak semua orang setuju kau menjadi pemimpin mereka dan aku khawatir berbohong.
Aku juga hanya memanggil namamu karena al qur’an memanggil orang2 shaleh dengan nama2 mereka seperti ‘wahai Dawud, wahai Isa, wahai Yahya ..’
Sebaliknya, Al Qur’an memanggil musuh2nya dengan julukan seperti ‘celakalah abu lahab’ .
Aku juga tidak mencium tanganmu karena Sayyidina ‘Ali pernah mengatakan : “tidak layak seseorang mencium tangan orang lain kecuali bila ia mencium tangan istrinya karena dorongan nafsu atau tangan anaknya karena sayang kepadanya.”
Aku duduk di sampingmu karena Sayyidina ‘Ali pernah berkata : “jika kalian ingin melihat penghuni neraka, lihatlah orang yg duduk saat orang lain berdiri.”
Hisyam berangsur tenang dan berkata kepada Thawus :
” Beri aku tambahan nasehat.”
Imam Thawus berkata : ” aku juga pernah mendengar sayyidina Ali berkata : ‘Ular dan kala jengking neraka menunggu pemimpin yg tidak berlaku adil terhadap rakyatnya.”
Setelah berkata sepeti itu Imam Thawus segera pergi keluar.

📝 Nasehat ulama laksana air menyirami bunga di tengah sahara 💞
Wallahu ‘alam
Catatan pribadi Nur hamzah
~’Ajaibul Qoshosh~

Kecerdasan Ketiga ala Ghazali


Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Imam Al-Ghazali (450 H/1058M—505 H/1111M) dan beberapa sufi lainnya sesungguhnya sudah lama memperkenalkan model kecerdasan spiritual dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan ma’rifah.

Menurut Al-Ghazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan.

Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa, termasuk perbuatan dosa dan maksiat. Mukasyafah merupakan sasaran terakhir para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya di atas kepastian. 

Kepastian yang mutlak tentang kebenaran hanya mungkin dapat dicapai ketika roh tidak lagi terselubung khayalan dan pikiran. (Lihat mukadimah Ihya’ Ulumuddin).

Kecerdasan spiritual, menurut Al-Ghazali, dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, diturunkan Allah kepada nabi-Nya untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan, ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang.

Al-Ghazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi diperuntukkan kepada siapa pun yang diperkenankan oleh Allah. Menurut dia, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Ghazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi.

Ilham berada di wilayah supra consciousness, sedangkan intuisi hanya merupakan sub-consciousness. Allah SWT sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah itulah yang disebut ‘ilm al-ladunni oleh Al-Ghazali. (Lihat karyanya, Risalah al-Ladunniyyah).

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai karena kepandaian itu dari Allah. Al-Ghazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip surah Al-Baqarah: 269. “Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Al-Ghazali mengakui adanya hierarki kecerdasan, dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia.

Namun, ia menyatakan, hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akal (al-aql) dan kecerdasan spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan rohani, ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.

Agak sejalan dengan Ibnu Arabi yang menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu pengetahuan kudus (ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (ilm al-asrar), dan ilmu pengetahuan tentang gaib (ilm al-gaib).

Ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual (Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyyah, Juz IV, hlm 394).

Tentang kecerdasan intelektual, Ibnu Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah manusia mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.

Al-Ghazali dan Ibnu Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksesibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang mampu menyinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada dirinya, maka yang bersangkutan dapat ‘membaca’ alam semesta (makrokosmos/al-alam al-kabir).

Kemampuan itu merupakan anak tangga menuju pengetahuan tertinggi (makrifat) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta, menurut Al-Ghazali dan Ibnu Arabi, merupakan ‘tulisan’ atau bagian dari ayat-ayat Allah.

Al-Ghazali menuturkan, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi kemampuan mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain, dengan kemampuan membaca alam semesta tadi.

Fenomena kenabian bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk menerimanya. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, kenabian menjadi fenomena alami.

Keajaiban yang menyertai para rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral kenabian, tetapi hanyalah alat pelengkap alam mempercepat umat meyakini risalah para rasul itu.

Bahkan, menurut Al-Ghazali, semua manusia pada dasarnya memenuhi syarat menjadi nabi, namun Allah menentukan hanya sebagian kecil di antaranya yang dipilih. Seruan penggunaan model-model kecerdasan di dalam Alquran tidak secara parsial. Keunggulan manusia terletak pada kemampuannya menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut.

Seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) belum tentu memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketaatan, karena sifat-sifat ini lebih ditentukan kecerdasan yang lebih tinggi, yakni kecerdasan emosional (EQ) atau kecerdasan spiritual (SI).

Sebaliknya, EQ dan SI tanpa dilengkapi IQ juga tidak akan banyak berarti karena kedua kecerdasan yang disebut pertama sesungguhnya merupakan kelanjutan dari kecerdasan IQ. Seseorang tidak akan sampai pada kecerdasan EQ dan SI tanpa melewati kecerdasan IQ.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga model kecerdasan itu sangat dibutuhkan terutama di kalangan pemimpin masyarakat dan lebih khusus lagi pemimpin perusahaan.

Menurut beberapa survei ahli manajemen, tingkat prestasi IQ yang dimiliki seorang manajer tidak berbanding lurus dengan tingkat prestasi perusahaan yang dipimpinnya. Seorang manajer dituntut memiliki kecerdasan ekstra berupa kecerdasan kedua (EQ) dan ketiga (SI).

Sebagai pribadi Muslim, sulit dibayangkan akan sukses menjadi abid (hamba) dan khalifah yang sukses tanpa memiliki secara seimbang ketiga model kecerdasan tersebut. Manusia paripurna (insan kamil) sesungguhnya tidak lain ialah orang yang mampu memadukan secara simultan ketiga kecerdasan tersebut di dalam dirinya.

Di sinilah kekhususan Al-Ghazali jika dibandingkan dengan Ibnu Arabi. Al-Ghazali masih tetap berpikir realistis di dalam mengembangkan pendapatnya. Ia masih tetap memandang penting kecerdasan ketiga atau apa pun namanya itu tetap dibumikan.

Ia mencela para sufi yang tidak realistis memandang kenyataan masyarakat. Mungkin itulah sebabnya ia dikategorikan sebagai penganut tasawuf akhlaqi. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang dikategorikan sebagai penganut tasawuf falsafi.

Al-Ghazali mencela orang-orang yang sibuk dengan urusan sunah dan melalaikan ibadah fardhu, mengabaikan formalitas ibadah untuk substansi ibadah, mengabaikan substansi ibadah demi formalitas ibadah, dan waspada terhadap yang syubhat tetapi terjebak di dalam hal yang haram.

Al-Ghazali juga mencela para ilmuwan yang tidak memedulikan yang lain kecuali hanya ilmu, dengan kata lain ilmu untuk ilmu. Seolah-olah tidak ada tempat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Al-Ghazali mencela ahli tasawuf yang sibuk dengan hakikat tetapi mengabaikan syariat, sibuk membahagiakan batinnya tetapi mengabaikan keluarga dan masyarakatnya, asyik dengan akhiratnya dan mengabaikan dunianya, mereka memuji prestasi spiritualnya lantas mengasingkan diri dengan orang lain, dan menganggap ilmu tasawuf paling istimewa dan paling benar, sibuk berpolemik soal hukum tapi tidak menghargai waktu, serta sibuk memperbanyak hukum dan peraturan tetapi semakin sedikit mengamalkannya.

Dalam soal muamalah, Al-Ghazali juga mencela ahli muamalah yang teperdaya karena banyak bermain di wilayah syubhat, sibuk menjalin hablun minannas tetapi melupakan hablun minallah, sibuk mengumpul harta tetapi tidak teliti menghitung zakatnya, dan sibuk melakukan inovasi tetapi mengabaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

Sumber : http://sufiroad.blogspot.co.id/2012/05/kecerdasan-ketiga-ala-ghazali.html disadur dari Republika newsroom

Ringkasan kajian fiqih Mahzab Imam As-Syafi’i Bab Sholat 7


Waktu waktu sholat 5 waktu

  1. Waktu sholat Ashar , masuk waktu nya setelah waktu dzuhur .semua waktu sholat jika habis maka otomatis masuk waktu sholat berikut nya kecuali sholat subuh ada jeda nya.akhir waktu ashar sampai terbenam nya matahari (habis bulatan matahari).tetapi masih ada sedikit cahaya (mega).
  2. Waktu sholat Maghrib ,ketika matahari tenggelam hingga matahari tenggelam dengan sempurna.sampai hilang mega merah (sisa sisa cahaya matahari).Waktu Maghrib itu ketika matahari tenggelam sampai hilang nya mega merah.
  3. Waktu sholat Isya’ , Ketika hilang nya mega merah ,sampai timbul nya fajar shodiq (Cahaya sebelum matahari ).Waktu ikhtiyar (waktu yang boleh kita tunda tunda) adalah sepertiga malam pertama.Makruh hukum nya tidur sebelum sholat isya’ hingga masuk waktu sholat isya’.Dan makruh juga berbicara yang tidak ada manfaat nya.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑