KGB ( Khowarij gaya Baru )


Salah Satu Karakteristik manhaj Khowarij adalah membangun Wala dan Baro ( loyalitas dan kebencian ) berdasarkan pendapat kelompoknya atau ustadznya ( Lihat kitab Khowarij Inda ibni Taimiyah )

Dan selalu menganggap setiap siapapun yang berbeda dengan pendapatnya dan ustadznya seakan berbeda dengan Rasulullah karena telah memaksumkan ustadznya sebagaimana memaksumkan Rasul

Padahal kemaksuman telah wafat denga wafatnya Rasulullah…

Ditambah dengan sifat begitu mudah menyesatkan hanya berdasarkan pendapatnya

Dan Orang yang Khwarij itu begitu tekun dalam ibadahnya baik yang wajib dan sunnah tetapi tidak melewati kerongkonganya

خْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)

Secara penampilan, Ibadah mereka begitu memukau tapi secara manhaj mereka membiarkan orang kafir dan memnyerang kaum muslimin dengan perkataan dan perbuatan, sehingga mereka tak sadar keras kepada orang yang beriman dan lembut lunak kepada orang kafir dalam metode berfikir mereka

Semoga Alloh senantiasa memberi kita petunjuk kepada perkara yg Alloh ridhoi dan cintai

Oemar Mita

JIKA SESEORANG MENUNTUT ILMU UNTUK SELAIN ALLAH, MAKA ILMU ITU ENGGAN KEPADANYA…


Sebagaimana apa yg ditakutkan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Muqodimah Kitab Mafahim.

Beliau mengutip Hadits riwayat Imam At-Turmudzi atas sifat ketawadhu’an beliau Allahu yarham
“Barang siapa menuntut Ilmu untuk mendebat orang awam/bodoh atau menyombongkan diri terhadap Ulama atau demi mencari perhatian orang lain (popularitas). Pasti Allah akan memasukannya kedalam Neraka.”

“Hendaknya tujuanmu adalah menyebarkan ilmu, bukan mengalihkan perhatian orang-orang kepadamu…Setelah itu, jangan kau perdulikan apakah mereka menerimamu atau berpaling darimu”.

As- Syekh al Imam Adz-Dzahabi Murid dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah yang mempunyai 3000 guru lainnya dalam Syi’ar A’lam An-Nubala beliau berpesan:
“Jika seseorang menuntut Ilmu untuk selain Allah, maka Ilmu itu enggan kepadanya”.

Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Walau sehebat apapun diri kita.. jangan pernah berkata: *”Aku lebih baik dari pada kalian”*


Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruknya akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau seandainya dia akhlaknya seperti aku!”.

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas.

Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia dari pada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Bagaimanapun usahanya, Hasan al-Basri tetap gagal menyelamatkan yang seorang itu.

Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa,
bukan anggur atau arak”.

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati, bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Jika Allah membukakan pintu sholat tahajud untuk kita, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur nyenyak.

Jika Allah membukakan pintu puasa sunat, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunat.

Boleh jadi orang yang gemar tidur dan jarang melakukan puasa sunat itu lebih dekat dengan Allah daripada diri kita.

Ilmu Allah sangat amatlah luas.

Jangan pernah bangga dan sombong pada amalanmu.

Walau sehebat apapun diri kita.. jangan pernah berkata:
*”Aku lebih baik dari pada kalian”*

CARA IMAM SYAFI’I MENGELOLA PERBEDAAN, MARAH, BENCI, MENGKRITIK DAN MEMBERI MAAF


Yunus bin Abdul A’la, salah seorang murid Imam asy-Syafi’i, pernah berbeda pendapat dengan sang guru dalam satu permasalahan di tengah ia belajar di masjid. Kemudian berdirilah Yunus sambil marah dan meninggalkan pelajaran lalu pulang ke rumahnya.

Malam pun tiba, Yunus mendengar suara pintu rumahnya diketuk orang. “Siapa?” Tanya Yunus.

“Muhamad bin Idris,” kata yang mengetuk pintu.

Pikiran Yunus menerawang pada siapa saja yang bernama Muhammad bin Idris (karena banyak), kecuali satu yang tak terlintas yakni asy-Syafi’i. Saat pintu dibukanya, Yunus terkaget luar biasa, “Ternyata Imam Syafi’i!” batin Yunus.

Kemudian Imam Syafi’i berkata, “Hai Yunus, ratusan masalah menyatukan kita, apakah hanya gara-gara satu masalah kita berpisah? Janganlah engkau berupaya untuk selalu menang dalam setiap perbedaan, karena memenangkan hati lebih utama daripada memenangkan sikap. Jangan kau hancurkan jembatan yang sudah kau bangun dan kau seberangi. Karena bisa jadi engkau membutuhkannya untuk kembali di satu hari nanti.”

Lanjut Imam asy-Syafi’i, “Upayakan engkau selalu membenci kesalahan, bukan membenci pelakunya. Marahlah engkau pada maksiat, tapi maafkan pelakunya. Kritiklah pendapat orang, namun hormati yang mengatakannya. Kepentingan kita dalam kehidupan ini adalah mengalahkan penyakit, bukan menghakimi orang sakit.”

“Jika orang datang minta maaf, berilah maaf. Kalau engkau didatangi orang bingung, diamlah untuk kebaikannya. Jika orang butuh datang padamu, berilah ia dari sebagian apa yang Allah beri untukmu. Bila ada yang datang menasihatimu, berterimakasihlah kepadanya. Meskipun engkau hanya memanen duri di satu hari, tetaplah kau tanam bunganya dan jangan pernah ragu. Karena balasan dari Dzat Yang Mahakasih dan Mahamulia jauh lebih mulia daripada balasan dari manusia,” pungkas Imam asy-Syafi’i.

DELAPAN (8) MACAM REZEKI


Berdasarkan Dalil Alqur’an, Janji Allah SWT.

*1. Rezeki Yang Telah Dijamin.*

_”Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya”_
(Q.S.11:6)

*2. Rezeki Karena Usaha.*

_”Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya”_ (Q.S.53:39)

*3. Rezeki Karena Bersyukur.*

_”Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”_ (Q.S.14:7)

*4. Rezeki Tak Terduga.*

_”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”_
(QS. At Thalaq :2)

*5. Rezeki Karena Istighfar.*

_”Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta”_ (QS. 71 : 10-11)

*6. Rezeki Karena Menikah.*

_”Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.”_(QS. an-Nur : 32)

*7. Rezeki Karena Anak.*

_”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”_
(QS. al-Isra 31)

*8. Rezeki Karena Sedekah.*

_Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak”_
(QS. Al-Baqarah 245).

Tinggal Anda pilih, mau ambil posisi di nomer brapa? Smua posisi adalah baik & bagus, karena semua ada dalil nya melalui Al-Quran.

Yang tidak baik adalah mencari rejeki tanpa melalui iman & taqwa kpd Allah (meninggalkan sholat).

Maka dikatakan oleh Ulama, apabila seseorang mencari rejeki tetapi berani meninggalkan sholat, maka sesungguhnya rejeki yg mereka dapatkan adalah HARAM, karena tidak ada bedanya mereka dengan orang kafir. (Naudzubillah mindzalik).

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA


Seorang murid mengadu kepada gurunya : _”Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”_.

Sang Guru menjawab dengan tenang : _”Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”_.
_”Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah : *Sedikitnya taufiq* (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”_.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *”kekerasan hatinya dan kematian hatinya”*.
Sebagai contoh : Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapan-Nya..?

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’* dalam shalat..?

Sadarkah engkau, bahwa beberapa harimu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah : _”Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”_.

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya…

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti : Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah,…tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..???
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???

*Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???*

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???
Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya…

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah : _*”Hukuman yang terasa”* pada harta, atau anak, atau kesehatan._

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah : _*”Hukuman yang tidak terasa”*pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram).

Manusia itu kelak di akhirat akan dibagi menjadi 2 macam, ahlul musibah dan ahlul ‘aafiyah.


Ahlul musibah adalah orang2 yang pada masa hidup di dunia selalu kena musibah, selalu diuji dg macam2 hal, hidupnya sering susah, sengsara bertubi2.

Sementara ahlul ‘afiyah adalah orang2 yang pada masa hidup di dunia enak-enak saja. Segala kemudahan didapatkannya tanpa usaha yang berarti.

Pada saat hari perhitungan, Allah perintahkan pada malaikat agar menghisab Ahlul musibah terlebih dahulu.

Lalu, dengan cepat malaikat melaporkan pada Allah, bahwa hisab mereka sebentar saja karena dosa-dosa mereka sudah digugurkan lewat musibah dan ujian yang menimpa mereka saat di dunia.

Maka Allah perintahkan agar memberikan mereka 3 hal :

*1. Afiyah,* kekuatan, sebagai ganti kesusahan yang dia dapat di dunia dulu.
*2. Khoiron,* kebaikan, yaitu surga.
*3. Manzilan,* tempat yang tinggi, kedudukan yang tinggi di surga.

Demikianlah…

*Jadi bagi orang yang sering diuji oleh Allah, bukan karena Allah benci padanya, tapi karena Allah ingin ganti kesusahannnya itu dengan nikmat di akhirat nanti.*

*Demikian pula dengan orang yang sering diberi nikmat dan kemudahan… hati-hati…*

Para shahabat Rasul dulu sering menangis jika mereka mendapat nikmat dan kemudahan bertubi2… Karena mereka takut jangan2 itu harusnya adalah nikmat mereka di akhirat, namun disegerakan di dunia ini….

*Masya Allah….* *Masya Allah….*

Kadang kita merasa tak sabar saat ujian datang, entah sakit, entah payah finansial, entah kehilangan…
Kita buru2 mengeluh…
Buru2 ‘menggugat’ Allah….
Masya Allah….

Padahal jika kita mau bersabar, maka semua kepayahan itu akan digantikan oleh Allah dengan kenikmatan yang jauuuh lebih besar….

*Mari bersabar atas semua keadaan…*
*Mari bersyukur dalam setiap kesempatan…*

Sebab Allah, tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya….,,
Tidak pernah.

*Wallahu’alam bissawab*

TERNYATA MEMBACA AL-QUR’AN SETELAH MAGHRIB & SUBUH DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK SAMPAI 80%,


Media Informasi Islam – Inilah kedahsyatan dan manfaat dibalik doa dan membaca al-qur’an setelah maghrib dan subuh subhanallah semoga setelah membaca artikel ini kita bisa meningkatkan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Aamiin, Tahukah Anda? Ternyata Membaca Al-Qur’an Sesudah Maghrib & Subuh Itu Manfaatnya Luar Umum, Menurut hasil penelitian, ternyata membaca Al-Qur’an setelah waktu sholat Maghrib dan Subuh itu dapat tingkatkan kecerdasan otak hingga 80 %. Hal ini karena disana ada perubahan dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari.

Diluar itu, ada tiga kesibukan sekaligus, yaitu membaca, melihat dan mendengar. Ada banyak hal yang dapat mengakibatkan seseorang itu kuat ingatan atau hafalannya, salah satunya :

Menyedikitkan makan
Membiasakan melakukan beribadah shalat malam
Dan membaca Al-Qur’an sambil saksikan pada mushaf
Tidak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan pada daya ingat manusia, dan juga berikan ketenangan pada seseorang kecuali membaca dengan Kitab Suci Al-Qur’an. Diluar itu, membaca Al-Qur’an juga menghadirkan pahala dari Allah SWT.

Dokter ahli jiwa, Dr. Al Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat (AS) sukses menunjukkan bila hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, jadi seorang Muslim itu, baik mereka yang dapat berbahasa Arab maupun bukan, bisa rasakan perubahan sebagaimana berikut :

Fisiologis yang begitu besar Penurunan depresi, kesedihan Mencegah berbagai jenis penyakit yaitu pengaruh umum yg dirasa beberapa orang yang menjadi objek penelitiannya

Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit pada aliran listrik.

Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bila membaca Al-Qur’an punya pengaruh besar hingga 97 % dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Dalam laporan sebuah penelitian yang di sampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984 dijelaskan, Al-Qur’an dapat dibuktikan bisa menghadirkan ketenangan hingga 97 % buat mereka yang mndengarkannya. Masya Allah…

Untuk itu, mari saat ini kita mulai menyempatkan diri kita sebagian menit dari 24 jam di hari kita, yang didapatkan oleh Allah SWT untuk membaca, merenungi, mentadaburi dan mengerti isi yang ada didalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Semoga Bermanfaat….

IMAM BUKHARI, AHLI HADITS YANG DIRINDUKAN RASULULLAH SAW.


Penyusun kitab fenomenal Shahih al-Bukhari ini memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim ibn al-Mughirah bin Bardizbah. Imam yang lahir pada 13 Syawwal 194 H ini pernah mengalami kebutaan di waktu kecil, namun penyakit itu sirna setelah sang ibunda bermimpi dengan Nabi Ibrahim as. Di dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Allah SWT telah mengembalikan penglihatan anakmu, karena tangisanmu dan banyaknya doa yang kau lafalkan”.

Dalam usia 10 tahun, beliau telah hafal ribuan hadis. Bahkan dalam usia 11 tahun, ia berani mengoreksi seorang ulama yang salah menyebutkan sanad hadis. Usia 16 tahun beliau mampu menghafal karya-karya Ibnu al-Mubarak dan Waki’. Ketika haji bersama ibu dan saudaranya Ahmad, ia tidak mau pulang dan memilih menetap di Mekah demi mencari hadis. Menjelang usia 18 tahun, ia sudah mendokumentasikan putusan-putusan sahabat Nabi, Thabi’in, dan fatwa-fatwa mereka.

Salah satu karya monumentalnya, al-Tarikh, ditulis di samping makam Rasulullah SAW di tengah malam hari. Saat di Madinah, Imam Bukhari senantiasa menghabiskan malam di samping makam Rasulullah, memanjatkan shalawat dan salam serta bertawassul dan berdoa agar usahanya dimudahkan dan dikuatkan dalam meneliti dan menghimpun hadits-hadits shahih dari Rasulullah.

Di masa kecilnya, ia pernah berbeda pendapat dengan seorang ulama fikih dari Marwa, hingga ia mengejek al-Bukhari.

“Sudah berapa kitab yang kamu tulis hari ini?”, tantang ulama itu dan al-Bukhari langsung menjawab, “Dua kitab dan aku menolak dua hadis tersebut”.

Jawaban itu mengundang gelak tawa hadirin yang menyaksikannya. Namun seorang ulama yang hadir di majelis itu berkata, “Jangan ditertawakan, karena suatu saat kalian yang akan ditertawakan olehnya.”

Beliau banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara demi mengumpulkan hadis Nabi. Ia pernah mengunjungi Balk, Marwa, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Syam, dan lain-lain. Diantara guru-gurunya adalah Makki bin Ibrahim, Abdan bin Usman, Yahya bin Yahya, Ibrahim bin Musa, abi ashim al-Nabil, dan Ubaidullah bin Musa.

Ia juga telah berhasil mengkader ulama-ulama ternama, seperti Abu Isa al-Tirmidzi, Abu Hatim, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, dan Muhammad bin Abdullah al-Hadlrami Muthayyan. Bahkan, Imam Muslim, yang namanya seringkali disandingkan dengan al-Bukhari, pernah mengunjunginya seraya berkata, “Biarkan aku mencium kedua kaki mu wahai gurunya para guru, tuannya para ulama hadis, dan tabib hadis yang mampu mengungkap kecatatan (‘illat) hadis”.

Abu Yazid pernah bermimpi dengan Rasulullah ketika tidur di antara Rukun Yamani dan kuburan Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad berkata padanya, “Wahai Abu Yazid, sampai kapan kamu hanya mempelajari kitabnya al-Syafii dan mengapa kau tidak mempelajari kitabku ini?”

Yazid menjawab,”Wahai Rasul, kitab apa yang engkau maksud?” Beliau menjawab,“Jami’ al-Shahih karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.

Terkait pengalaman al-Bukhari menulis kitab hadis, ia tidak akan menulis hadis sebelum mandi dan shalat dua raka’at terlebih dahulu. Ketika menulis kitab Shahih al-Bukhari, ia tidak memasukkan satu hadis pun di dalamnya kecuali hanya hadis-hadis shahih, meskipun tidak semua hadis shahih yang terhimpun di dalamnya.

Seorang raja di masanya pernah megutus seseorang untuk meminta al-Bukhari mengajarkan Shahih al-Bukhari, al-Tarikh, dan karangan lainnya kepadanya secara privat. Namun al-Bukhari berkata kepada utusan tersebut,“Sesungguhnya kami tidak merendahkan ilmu dan tidak mengajarkannya kerumah-rumah. Jika engkau membutuhkan ilmu, datanglah ke masjid atau rumah saya”.

Dikisahkan pula bahwa Imam al-Bukhari memiliki tiga sifat terpuji: beliau sedikit bicaranya, tidak tama’, dan tidak sibuk dengan urusan manusia, karena sibuk mencari ilmu. Saking seriusnya, setiap bulannya beliau mendapatkan 500 dirham, tapi semuanya diinfakkan demi mencari ilmu.

Beliau pernah sakit parah menjelang wafatnya. Ketika dibawa ke Samarqand, tubuhnya melamah dan berpesan kepada para sahabatnya agar dikafani dengan tiga baju putih, bukan gamis dan bukan pula sorban. Ahli hadis yang memiliki postur tubuh sedang ini menghembuskan nafas terakhirnya pada hari sabtu, malam idul fitri tahun 256 H dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Di saat proses pemakamannya, keluar aroma wangi di dalam kuburnya yang harumnya melebihi minyak kasturi. Aroma wangi ini masih tercium hingga berhari-hari. Tak ayal sebagian besar penduduk membincang kebaikan al-Bukhari karena saking kagum kepadanya.

Pada saat yang sama, ‘Abdul Wahid bin Adam bermimpi dengan Rasulullah SAW yang sedang bersama para sahabatnya. Di dalam mimpinya itu, Rasulullah berhenti di suatu tempat dan ‘Abdul Wahid bertanya kepadanya, “Mengapa berhenti di sini wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari”.

Tak lama kemudian, beredarlah kabar kematian sosok yang ditunggu Rasulullah tersebut.

—–

Blog di WordPress.com.

Atas ↑